Pendidikan Seks pada Anak Berkebutuhan Khusus

Namanya Febi. Semua orang pasti mengatakan cantik. Dengan wajah oval, mata lebar dan senyum selalu mengembang di bibirnya.

Berbeda dengan wajahnya, perilaku Febi sangat destruktif. Pantas saja pada bulan kedua sekolah menyarankan untuk dipindah ke SLB. Febi yang cantik, ternyata sangat nakal.

Hari pertama di kelas baru, semua teman mengadukan perilaku Febi yang liar.

Tangan Febi dengan mudah menampar, melempar barang, bahkan kaki kecilnya tidak segan menendang.

Aku baru saja menyelesaikan kelas pada jam kedua, saat pak Setyo, kepala TU menelepon dan memintaku melihat central CCTV.

Otakku mengisyaratkan, sesuatu yang penting telah terjadi. Kakiku melangkah cepat, menyusuri lorong kelas menuju kantor tata usaha di area depan gedung.

“Hai ?”
“Cepat sini.”
Aku berdiri dibelakang pak Setyo, yang tengah duduk menghadap layar. Tangannya menggerakkan monitor, memilih tanggal dan gambar yang dikehendaki.

Klik.

Tanganku reflek menutup mulut. Apa yang aku lihat cukup memukul perasaanku sebagai pendidik.

“Maaf.”

Mulutku bergumam, entahlah aku merasa beberapa sendi dalam tubuhku lepas.

Info tentang Febi memang sangat sedikit, kami hanya tahu sekolah sebelumnya memindahkan Febi dengan alasan peserta didik tidak bisa mengikuti kegiatan belajar. Selebihnya aku belum mencari tahu bagaimana sikapnya, keluarganya dan setumpuk pertanyaan lain.

“Terimakasih infonya pak Setyo, segera kami tindaklanjuti.” Kakiku masih lemas, saat mencoba berjalan keluar ruang tata usaha. Pak Setyo mengangguk pelan.

Anak berkebutuhan khusus sama dengan anak pada umumnya. Secara naluri mereka memiliki insting tertarik dengan lawan jenis. Masalahnya adalah mereka tidak dapat mengerti apa yang boleh dan tidak.

Aku menarik napas panjang, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. ABK sangat rentan menjadi korban pelecehan, baik oleh orang normal maupun teman. Untuk sesama ABK, tentu karena mereka belum mendapatkan pendidikan seksualitas yang benar.

Banyak orang menganggap pendidikan seks sesuatu yang tabu. Tidak perlu dibicarakan. Padahal ini hal yang sangat penting.

Pendidikan seksualitas dapat dilakukan secara formal oleh pendidik atau tenaga terkait, bisa juga dilakukan secara non formal oleh orang tua. Aku jadi terpikir, bagaimana latar belakang Febi?.

Satu Minggu di SLB aku pernah bertemu dengan ibu Febi satu kali. Tepatnya di saat pendaftaran, selebihnya aku tidak melihat dia datang ke sekolah.

Tanganku membuka buku bimbingan konseling, mencatat agenda pertemuan dengan orang tua Febi.

Pendidikan seksualitas penting, jangan sampai ABK mendapat informasi yang salah dari pihak yang tidak tepat.

Di sekolah, aku lihat sudah banyak melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan seks, seperti :

1. Mengenalkan anatomi. Seorang pendidik bisa menjelaskan perbedaan jenis kelamin dan perkembangan tubuh peserta didik secara detail.

2. Memberitahukan pada anak daerah pribadi yang tidak boleh dilihat atau dipegang orang lain.

3. Setiap peserta didik menggunakan toilet sesuai dengan jenis kelaminnya.

4. Peserta didik mengganti pakaian di toilet.

Orang dewasa bertanggungjawab penuh terhadap perkembangan anak, termasuk perkembangan seksualitasnya.

Rumahmediagrup/srisuprapti