Pengagum Rahasia

Ayat ayat yang dia baca selalu bermakna, menyentuh kalbu. Menggetarkan hati jamaah yang kedinginan tersiram air wudhu.

Subuh itu tidak pernah Sifa lewati tanpa jamaah di Masjid. Baik dengan suami atau sendiri, Sifa selalu menyempatkan hadir, diantara segelintir orang yang sudah membuka mata, dan mau melangkahkan kaki, menerobos gelap, mengusir dingin.

Sifa selalu bersama mereka, jika tidak sedang berhalangan.
Ada kesejukan setiap kali Sang Imam mulai berdiri, menyeru jamaah merapatkan barisan. Semua ucapan imam seperti hipnotis bagi Sifa. Mematikan sendi hingga melumpuhkan ingatan Sifa akan dunia.

Sifa tertuju…
Satu.
Pada suara sang imam.

Hati Sifa khusyuk mendengarkan, ayat demi ayat terbaca, semakin panjang ayat yang ia pilih, Sifa semakin syahdu.

Sungguh Sifa tergila-gila pada suara Sang Imam. Selesai salam, kaki Sifa tidak beranjak. Meski perut Sifa terkadang melilit karena hasrat ingin pups. Sifa tetap duduk, menunggu pembacaan doa, dilanjutkan kultum.

Sifa duduk,terpekur menunggu Sang Imam memulai kultum. Kepala Sifa sedikit tengadah, menatap Sang Iman yang masih asyik menatap kitab kecil ditangannya. Wajah lembut Sang Imam kusyu menatap kitab, membuka lembaran demi lembaran, mencari tema yang tepat.

Mengenakan jubah putih dengan sedikit jenggot tergerai, Ustadz Samsul terlihat sangat bijaksana. Bibir Ustadz Samsul mulai membaca hadits dan memberi penjelasan dengan fasih, menuturkan kalimat demi kalimat dengan jelas.

Tiba-tiba Sifa teringat wajah suaminya, Sardi yang selalu bersih, tidak ada kumis apalagi jenggot. Sardi lebih senang dengan penampilan ala Korea, rambut cepak muka klimis. Baju yang dia pakai style ketat. Meski Sifa sering mengingatkan untuk mengikuti Sunnah Rasulullah dengan memakai gamis atau memanjangkan jenggot, Sardi hanya tersenyum, sambil mengelus tangannya ke dagu. Tidak terlihat keinginan menyetujui usul Sifa.

Waktu 7 menit terasa singkat. Seharusnya istilah kultum kepanjangan dari kuliah tujuh puluh menit, sehingga jamaah, khususnya Sifa punya lebih banyak kesempatan untuk mendengar suara Sang Imam.

“Mari Bu Sardi?” Suara lembut mengagetkan lamunan Sifa, tangan keriput budhe Latih menyeruak, menjabat tangannya. Sifa tersenyum kecil, menganggukkan kepala. Sifa menarik sajadah yang ia duduki dengan asal, kakinya berdiri, pelan melangkah keluar dari masjid. Tidak perlu berdesakan untuk mengambil sandal, karena jamaah subuh bisa dihitung dengan jari.

Kepala Sifa menengok ke kanan ke kiri, mencari sandal kepunyaannya.

“Sandalnya tidak ada Bu Sardi?” Sifa mengangguk lemah, merasa tidak ada harapan. Sifa memandangi sepasang jepit hijau tersisa, tapi itu bukan sandal Sifa.

Berdiri disebelah Sifa, Ustadz Samsul, imam masjid.

Perasaan galau Sifa menguap, berubah nyaman.
“Pakai sandal saya dulu” kata Ustadz Samsul bijak, terdengar semakin sejuk di hati Sifa.
“Ustadz bagaimana?” Tanya Sifa ragu
“Kebetulan saya mau langsung jalan pagi, rasanya lebih sehat tanpa sandal” Ustadz Samsul tersenyum, tangannya memberi kode, mempersilahkan Sifa untuk memakai sepasang sandal tersisa.
Sifa mengangguk, “Insyaallah, segera saya kembalikan” janji Sifa.

Hati Sifa bergetar, memakai sandal jepit hijau ke kakinya dengan ragu. Entah merk apa, tapi Sifa merasa sandal jepit ini sangat nyaman, berkualitas menurutnya.

Sifa berjalan pelan, kawatir jepit yang ia pakai menginjak sesuatu yang akan merusaknya. Memasuki pekarangan rumah, naik ke teras, melepas jepit, semua Sifa lakukan dengan hati-hati.

Sifa membiarkan tubuhnya jatuh ke kursi, memandangi jepit hijau yang tergeletak dilantai dengan senyum mengembang. Udara subuh dengan beberapa kamboja Jepang terlihat sangat apik. Sifa merasakan kebahagiaan luar biasa, hingga senyum tersungging di bibir Sifa tanpa henti.

Rumahmediagrup/srisuprapti