Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 1

Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 1

Teng … teng!
Suara lonceng besi yang dipukul Pak Dino penjaga sekolah SMP Nusantara menggema di seluruh ruangan kelas. Tandanya waktu belajar hari ini sudah selesai. Fina melirik Swatch biru laut hadiah dari Ayahnya. Sudah pukul duabelas lebih 30 menit.

Aditya, sang ketua kelas memberikan intruksi untuk menyudahi tugas yang di berikan guru matematika yang sedang berhalangan. Setelah semua duduk rapi, Aditya memimpin doa penutup. Satu persatu siswa SMP keluar dari kelasnya masing-masing. Koridor sekolah kembali ramai dipenuhi mereka yang mau pulang.

“Fin, buruan! Gebetan gue bentar lagi lewat. Gue pengen lihat dia!” teriak Nada dari luar pintu.

Fina mengacungkan jempol dan tertawa. Setelah membereskan buku dan alat tulis lainnya lalu keluar dan menemui Nada. Tetapi itu tidak lama, Fina tersadar ada benda terlupakan dan belum dimasukan ke dalam tas.

“Nad, kayaknya ada barang gue yang ketinggalan deh. Lo, jalan duluan ke depan ya! Tunggu gue di gerbang!” teriak Fina sambil berlari kembali ke dalam kelas.

“Yah, bocah! Ada aja ketinggalan. Kayak nenek gue aja. Untung aja lo cakep, kalo engga udah gue jitak deh. Cepetan yaa!” sungut Nada. Pura-pura kesal tapi tidak marah.

Mata Nada kembali mengawasi satu persatu siswa yang melewati gerbang utama. Gebetan yang dia cari rupanya belum terlihat.

Fina kembali ke kelas lalu menuju mejanya. Tadi ingat menaruh benda itu di kolong meja. Dengan sedikit menunduk, tangannya meraba-raba benda yang dicarinya. Fina tersenyum. Sejurus kemudian keningnya sedikit berkerut. Disamping benda yang dicarinya ada benda lain yang teraba. Terasa tipis dan berbentuk kotak persegi. Sedikit tebal seperti karton.

Ditariknya dua benda itu. Tempat makan bekas kotak bekalnya dan … sepucuk surat berwarna hijau muda!

Tempat makannya segera di masukan ke dalam tas. Sementara, surat itu Fina bolak-balik. Dicarinya nama si pengirim. Nihil.

Di depan surat hanya ada tulisan “To Fina cantik” tanpa ada nama si pengirim. Gadis cantik itu mengingat-ingat siapa saja tadi yang mendekati mejanya. Tidak ada yang sengaja datang ke meja selain Nada teman sebangkunya. Ah … tidak mungkin sahabatnya melakukan hal itu.

“Fiiiiiinnn … udah belum?”

Teriakan Nada yang melengking dari luar kelas menyadarkan Fina untuk segera memasukan surat ke dalam tas. Dia tidak mau nenek bawel itu mengomel panjang dan memergokinya menemukan surat tanpa nama. Bisa berabe urusannya nanti.

“Lama amat sih, Lo? Tadi Andra udah lewat tau. Dia ngasih gue senyuman manis. Andai aja elo lihat, waduh bikin gue seneng, “ucap Nada sambil menepuk pipi Fina.

Fina menggelengkan kepalanya. Anak kelas dua SMP itu memandang sahabatnya sambil tersenyum. Nada bersenandung kecil dan terlihat begitu senang.

“Gue traktir elo cilok Mang Rusdi yang diujung jalan ye, Fin. Kemon!” jawil Nada tiba-tiba.

-Bersambung-

Poto by Pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief