Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 11

Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 11

Semenjak Fina dan Revan bertemu di taman dan perpustakaan, hubungan mereka terjalin akrab dengan suasana yang riang. Bagi Fina, pertemanannya dengan Revan adalah suatu hal yang tulus dan tidak ada bumbu romansa. Akrab namun tetap ada sekat yang tidak bisa dilampaui. Fina masih membentangkan pagar pembatas.

Sulit bagi gadis cantik untuk mengungkap rasa suka atau menerima rasa lain lebih dari sekedar teman. Dia tetap ada di posisinya yang tak tersentuh dan sulit untuk didekati. Hati dan hidupnya sudah diisi oleh lelaki lain yang sudah memilikinya sejak lama.

Ayah! Ayahlah pemilik hati dan hidupnya. Seseorang yang tak pernah mengecewakan apalagi mengkhianatinya. Ayah, lelaki perkasa anggota TNI Angkatan Udara adalah cinta pertamanya. Dan cinta itu tidak pernah pupus sepanjang waktu.

Revan bukannya laki-laki bodoh pula. Dia paham, rasa sukanya terhadap Fina begitu sulit diterima gadis itu. Dia tahu, Fina sudah mengetahui isi hatinya. Dan gadis itu, pura-pura tidak tahu agar hati Revan tidak sakit dan pertemanan berjalan wajar adanya. Fina selalu bersikap sebagai teman yang baik untuk Revan. Tidak lebih dari itu.
Sedikit demi sedikit Revan menerimanya dengan hati yang lapang.

Jauh di lubuk hati Revan berharap, kelak di kemudian hari, hati Fina untuknya. Untuk itu, Revan harus bisa membuktikan bahwa dia adalah laki-laki yang terbaik mendampingi Fina di masa yang akan datang. Mungkin terlalu dini apa yang ada di angan-angannya. Atau bisa jadi terlalu jauh harapan yang dia gantung di langit sana. Yang jelas, cinta pada pandangan pertama itu ada.

Harapan indah menjelma menjadi diri Revan yang baru demi merubah hal yang buruk selama ini menempel pada dirinya.

“Bun, Mas ingin seperti yang Bunda mau. Maafkan jika Mas selama ini lupa akan wasiat Bunda. Mulai saat ini, Mas akan berubah. Kembali menjadi Revan kebanggaan Bunda,” janji Revan di depan poto almarhum bundanya.

Revan Aryasatya Baskoro.
Kini memiliki semangat baru yang meletup untuk hidupnya. Dua tahun cukup sudah dia menyia-nyiakan waktu dan harapan indah. Biarlah waktu berjalan sesuai takdirnya. Kelak, Tuhan yang akan menetukan jalan hidup untuknya.

Revan menatap langit dari balkon rumahnya. Bintang dan bulan bersinar. Keduanya berdampingan dengan mesra. Memberikan sinar dan kehangatan. Ayunan dahan dan dedaunan yang bergerak lembut karena hembusan angin malam seolah berdzikir kepada Rabbnya.

****

Hari-harinya dipenuhi perjuangan dan persahabatan. Rama menjadi pendukung sejati. Dan dia juga ikut merasakan aura positif semenjak Revan berubah. Rama dan Revan dua sahabat yang saling membantu satu sama lain dalam hal kebaikan.

Nada yang semula terang-terangan tidak menyukai Rama dan Revan kini hatinya melunak. Sering kali Fina dan ketiganya terlibat diskusi dan belajar bersama. Tidak hanya berempat saja, terkadang beberapa teman dari dua kelas itu ikut bergabung.

Pak Ramzi begitu senang. Kadang-kadang netra tuanya menitikkan air mata melihat mereka belajar di perpustakaan. Hatinya kembali menghangat. Janjinya terhadap Baskoro Hadiwinoto seolah terbayarkan. Tidak ada lagi Revan si anak bandel yang sering berantem dan tukang madol.

Dan itu semua berlanjut hingga ke masa akhir sekolah di SMP. Dua tahun sudah. Mereka bersiap menempuh ujian akhir kelulusan. Revan berharap mereka bisa bersama lagi satu sekolah di SMA. Keinginannya selalu dekat dengan Fina walaupun hanya sebagai sahabat.
Hingga akhirnya satu hal yang mengubah impiannya datang tiba-tiba.

-Bersambung-

Posting pertama di Facebook

Sumber quote & pict:
Google & Pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief