Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 12

Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 12

“Kak, ada yang nyariin tuh di depan. Cowok. Orangnya tinggi. Sekarang lagi ngobrol sama Ayah,” kata Aldo muncul tiba-tiba mengagetkan Fina.

Kening gadis itu berkerut. Saat itu dia sedang santai di kamar sambil membaca buku novel yang baru di belinya.

Cowok? Siapa yang datang sore mencarinya? Anak kelas tiga sudah tidak lagi pergi ke sekolah setelah Ujian Nasional selesai. Tinggal menunggu NEM dan kelulusan.

Aldo mengendikkan bahu. Matanya membulat. Adik lelaki satu-satunya kelas satu SMP keluar dari kamarnya.

Fina penasaran sekali. Perlahan dia bangun dari tempat tidurnya dan segera keluar menuju ruang tamu.

“Jadi kamu teman sekolahnya anak saya? Satu kelas?” suara bariton Ayah menegaskan. Sayup-sayup ada suara lain menjawab pertanyaan Ayah.

Fina kaget. Kakinya kaku sulit dan berat untuk melangkah. Di depan Ayah seseorang tengah menatapnya. Lalu kembali menjawab pertanyaan Ayah dengan tenang tapi jelas. Tidak terlihat ciut atau ketakutan.

Revan! Ada apa dia ke rumah? Baru kali ini dia datang kesini dan tahu rumah Fina.

“Maaf, Om. Saya datang ke sini karena ada hal yang harus saya sampaikan ke Fina,” matanya menatap Ayah lalu beralih ke Fina. “Kalau nanti-nanti takutnya tidak sempat lagi.”

“Baiklah, tapi jangan lama ya! Fina tidak biasa menerima tamu laki-laki. Saya mengizinkan Fina menemui karena kamu ternyata cukup berani datang kesini,” jelas Ayah tanpa basa-basi.

“Fin, ingat omongan Ayah!” kali ini Ayah mengalihkan pandangannya ke arah Fina yang sedikit gemetar.

Fina mengangguk.

Ayah kemudian masuk ke dalam ruang tengah dimana Ibu sedang menonton berita sore.

Fina mendekati Revan. Lalu duduk di sofa tempat Ayah tadi. Hatinya berdebar dan masih menyisakan rasa kaget akan kedatangan laki-laki itu.

“Ada apa, Van? Kok kamu tau rumahku? Kamu bikin aku kaget lho. Untung aja Ayah engga mengusirmu,” Fina bertanya sekaligus meruntuk.

“Revan tertawa kecil. “Engga lah! Ayahmu engga akan seperti itu. Kurasa beliau memiliki adab dan etika yang cukup tinggi. Tegas sih iya!” canda Revan.

Fina lega. Ayahnya dimata Revan tidak terlihat jahat.

“Ada apa?”

Revan tidak menghiraukan pertanyaan Fina. “Rumahmu enak ya! Suasananya adem dan menyenangkan. Keluarga yang bahagia. Coba dari dulu aku main ke sini ya. Pasti betah,” kata Revan sambil melayangkan pandangan ke semua penjuru ruangan.

Fina tertawa. Namun hatinya penasaran.
Revan terdiam dan menatap langit-langit.
Sepertinya ada yang berat untuk diucapkan.

“Fin, ada yang aku mau sampaikan. Maaf ya aku datang dadakan. A-aku … mungkin tidak akan tinggal lagi di kota ini setelah kelulusan. Padahal, aku sangat betah di Jakarta. Aku … aku engga bisa bareng-bareng lagi sama kamu, Rama, juga Nada ke SMA pavorit,” Revan menunduk. Suaranya sedikit bergetar.

Fina, si cantik berambut panjang itu terperangah. Cita-cita mereka berempat sepertinya tidak berjalan sesuai dengan rencana dan keinginan.

Dipandanginya lelaki yang berusia tujuhbelas tahun itu. Dua tahun lebih tua darinya. Ada lara yang terlihat di mata tajam itu. Senyuman yang tersungging di bibirnya tidak bisa menutup kegundahan.

Fina menarik nafas. “Ada masalah, Van?” tanyanya dengan suara berat. Tercekat di kerongkongan.

“Ayah memutuskan pindah ke Jogja. Kami akan menempati rumah eyang di sana. Ada alasan lain yang belum bisa aku bicarakan saat ini, Fin! Yang jelas, aku sangat kecewa dengan keputusan Ayah. Kupikir, aku bisa di sini saja dengan Bi Nah. Nyatanya, kami semua harus boyongan ke sana,” jelas Revan.

Fina mengangguk.

Rasanya ada yang mengganjal di hati. Sedih. Tentu ini menyedihkan. Fina sudah merasa nyaman dengan Revan. Dia bisa menjadi seorang teman bahkan kakak buatnya.

“Fin, aku engga bisa ngasih apa pun buat kenang-kenangan. Terus terang aku engga punya apa pun yang bisa aku kasih. Tapi aku punya sesuatu agar kamu selalu ingat pernah punya teman yang bernama Revan,” bergetar tangan Revan memberikan sebuah bungkusan berwarna coklat.

“Apa ini?”

“Untukmu. Bukanya nanti aja ya kalo aku udah pulang,” jawab Revan pelan.

“Kapan kamu akan pergi ke Jogja?”

“Mungkin dua hari lagi. Besok Ayah akan mengurus dokumen penting.”

Netra Fina mengembun. Ada ketidakpercayaan. Revan diam menatapnya.

“Sebentar, tunggu ya!” Fina berlari meninggalkan Revan dan berlari menuju kamarnya.

Di kamar, dicarinya sebuah kotak coklat kayu jati pemberian neneknya. Lalu dibukanya dengan cepat. Satu benda diambil kemudian kotak itu ditutup kembali. Fina berlari menuju ruang tamu.

“Tolong jaga ini ya! Aku engga punya sesuatu yang istimewa. Tapi kuyakin, ini akan menjadi temanmu disaat kapan pun,” Fina menyerahkan sebuah tasbih batu berwarna hitam yang dironce pada seikat tali berjumlah 33 butir.

Revan menerima benda itu. Lalu dipakai seperti sebuah gelang di tangan kanan. Terlihat menawan!

“Makasih ya, Fin! Aku pakai di tanganku dan engga akan kulepas. Biar benda ini selalu menemaniku di Jogja,”

“Nanti aku, Rama, sama Nadya ke rumahmu ya! Sekalian kita perpisahan. Masa mau jauh engga ada kumpul-kumpul dulu,” Fina mencoba mencairkan suasana haru.

“Oke, siap! Oh ya, no telepon rumahku ada di Rama. Dia juga tahu kok rumahku di Jalan Sabang,” balas Revan tersenyum. “Aku pamit ya! Engga bisa lama nih. Engga enak juga sama Om. Tadi janjinya cuma sebentar. Lagipula udah mau Magrib. Boleh aku izin pulang sama Ayahmu?”

Pertanyaan Revan membuat Fina tertegun. Dilihatnya lagi Revan. Kemudian mengangguk perlahan. Fina segera memanggil Ayahnya.

Tak lama kemudian, Ayah dan Ibu datang. Revan mencium tangan keduanya. Lalu dengan sopan pamit dan mengatakan bahwa dia akan pindah sekolah ke Jogja.

Diluar dugaan, ayah mengusap punggung Revan ketika laki-laki itu mencium tangan Ayah.

“Semoga kamu berhasil di Jogja ya, Nak! Om yakin, kamu akan menjadi lelaki hebat suatu saat nanti. Semangat!” nasihat Ayah.

Ibu pun seperti Ayah. Di usapnya kepala Revan dengan lembut dan pelan. Fina sedikit kaget. Tidak biasa Ayah dan Ibu seperti itu.
Mereka bertiga mengantarkan Revan hingga depan rumah. Di sana dekat pohon besar, sebuah mobil sedan hitam bergerak pelan menuju rumah Fina dan berhenti tepat di depan mereka.

Sekali lagi Revan berpamitan dan kemudian masuk ke dalam mobil. Supir menganggukan kepalanya kepada Ayah. Perlahan mobil itu menjauh dan akhirnya mengecil lalu menghilang di ujung jalan kompleks.

“Kasihan anak itu, ibunya udah engga ada. Kini sahabatnya juga akan ditinggalkannya,” gumam Ayah.

Fina mendongak. “Tau dari mana, Yah?”

Ayah memeluk bahu Fina.” Tadi sebelum ketemu kamu, Revan cerita banyak. Tentang keluarganya dan juga pertemanan kalian berempat di sekolah. Dia mengucapkan banyak terima kasih katanya kamu yang udah merubahnya jadi lebih baik dua tahun ini. Ayah engga nyangka, Fina yang cengeng bisa menjadi malaikat,” puji ayah sambil mecubit pipinya.

Ada sesuatu yang basah di relung hati. Sedih merayap hingga netranya kembali mengembun. Dipeluknya Ayah agar tidak terlihat airmatanya menetes.

Fina kemudian berlari ke kamar. Di sana, airmatanya luruh ke pipi. Puas menangis, lalu dibukanya bungkusan dari Revan.

Sebuah buku Diary berwarna hijau muda dengan gambar seorang gadis muda berambut panjang memakai topi lebar. Gadis itu mengendarai sepedanya sambil menyusuri jalanan penuh bunga beraneka warna. Jalanan itu berada di sebuah kota yang menawan dengan gedung yang indah.

Diary yang cantik.

Hei … bukan hanya buku diary saja.
Ada sepucuk surat menyertainya.

Dengan gemetar, Fina membuka surat dengan sampul berwarna hijau muda. Sampul surat yang sama dengan yang pernah dia terima sebelum-sebelumnya.

Revan, aku tahu surat-surat itu.
Kamu pasti si pengagum rahasia itu!

-Bersambung-

Sumber quote & pict:
Google & Pinterest

Postingan pertama di Facebook

rumahmediagrup/irmasyarief