Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 13

Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 13

Dear Fina,

Akhirnya aku harus menulis surat ini. Berat. Tapi apa dayaku engga bisa menolak permintaan Ayah untuk pindah ke Jogja.
Sedih? Sedih banget! Kamu pasti lagi nangis ya? Aku yakin itu. He … he … he.
(Samai tulisan itu, air mata Fina kembali jatuh. Tertawa sambil terisak. Sepertinya Revan tahu dia menangis. Lalu dilanjutkan lagi membaca surat itu)
Sebenarnya rencana ini udah 5 hari yang lalu Ayah bicarakan. Aku minta tetap tinggal di Jakarta aja. Semakin aku bersikeras, Ayah makin menekan. Rasanya ngin pergi aja saat itu. Untung Bi Nah menahan dan membujuk. Dia sama Pak Sapto juga mau ikut ke Jogja bersamaku. Aku mengalah, Fin!

Suatu saat aku pasti balik ke Jakarta lagi. Kapan itu, entahlah! Tapi yang yang jelas aku pasti akan menepati janji. Kumohon, kamu akan tetap jadi teman yang terbaik sampai saat nanti. Aku janji jika sudah di Jogja, pasti akan selalu menghubungimu. Alamat dan no telepon rumahmu udah aku simpan.

Aku janji, Fin! Semoga kamu juga berjanji akan ada di saat aku datang.

Revan,

Air mata Fina menetes membasahi surat.
Rasanya kehilangan semakin besar. Teringat persahabatannya selama dua tahun ini. Revan banyak membantu mereka dalam banyak pelajaran.

Fina akui, Revan memang orang yang cerdas dan cukup sabar. Perubahan besar dalam hidup laki-laki itu melaju cepat dari perkiraan. Memang ada andil Fina, tapi gadis itu merasa justru Revan telah kembali ke jati dirinya yang asli.

Magrib menjelang, suara azan sudah terdengar di masjid kompleks. Fina segera mengambil wudu. Melepaskan kegundahan kepada Rabbnya.

****

Esok harinya Fina, Rama, dan Nada janjian untuk ke rumah Revan. Awalnya Fina yang menelepon Rama dan menceritakan kedatangan Revan ke rumahnya.

Tak disangka, ternyata di hari yang sama, Revan mendatangi rumah mereka. Awalnya datang ke rumah Rama, lanjut ke Nada, dan terakhir tentunya ke rumah Fina. Sepertinya ia ingin berpamitan secara langsung dengan ketiga sahabatnya. Tentu saja, reaksi mereka sama. Kaget dan sedih. Kehilangan.

Sore hari setelah Asar, mereka berkumpul di rumah Fina. Dan tentu, celotehan mereka seputar kepindahan dadakan Revan.

“Dia datang ke rumah gue pas siang hari. Gue pikir main kayak biasa. Eh, engga taunya bilang mau pindah ke Jogja. Terus dia ngasih gue sepatunya yang dibeli ayahnya waktu di Malaysia. Emang sepatu itu dari dulu gue suka, Bagus sih! Cuma momennya ini yang bikin gue sedih, ” keruh wajah Rama.

“Gue dong yang lebih sedih lagi. Pas di rumah ada Mas Bara. Sampe bilang gini, “Mas, titip Fina sama Nada ya, mereka berarti lho buat gue.” Gitu dia bilang. Terus ngasih gue gelang mutiara. Nih, gelangnya gue pake sekarang,” kata Nada sambil terisak.

Fina menatap keduanya. Rasanya semakin sedih. Nada dan Rama tahu jika Revan menyimpan hati untuk Fina.

“Revan besok berangkat ke Jogja. Sebaiknya sore ini kita ke rumahnya. Gue udah ngomong kalo kita bertiga akan datang. Engga perlu bawa apa-apa. Ibu udah menyiapkan salad buah dan roti isi buat kita makan bareng-bareng,” kata Fina.

“Gue pamit dulu ya ke Ibu. Biar engga khawatir nungguin kalo pulang malem. Ada kalian yang jagain gue,” sambung Fina sambil berlari ke dalam.

Lalu mereka bertiga menuju rumah Revan dengan taksi. Tidak ada sepatah katapun yang terucap. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.

Sesampainya di tempat tujuan, rumah Revan terlihat sepi. Rama beberapa kali membunyikan bel dekat pintu pagar. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu rumah dibuka menyusul kunci pagar diputar gemboknya. Seraut wajah paruh baya dengan pakaian rapi memakai jilbab muncul berbarengan dengan terbukanya pintu pagar.

“Eh, Nak Rama. Selamat datang! Udah lama engga kesini,” sambut perempuan itu. Lalu matanya beralih menatap Nada dan Fina bergantian. “Ini tentu Neng Nada, si tomboy. Lalu yang ini, hhmm … pastinya si cantik, Neng Fina,” kata perempuan itu.

Fina dan Nada tersenyum. Rama sepertinya tidak sabaran.

“Bi Nah, apa kabar? Revannya mana?” tanya Rama sambil celingukan.

Yang dicari tiba-tiba ada di belakang perempuan yang dipanggil Bi Nah. Matanya terlihat sedikit kuyu dan lelah.
Namun ada pendar bahagia melihat Fina datang ke rumahnya.

“Masuk, yuk!”

Lalu ketiganya mengikuti Revan yang membawa mereka ke taman samping rumah. Taman itu sangat asri dengan bunga dan pohon yang cukup terawat. Selain tanaman ada juga gazebo dari kayu jati yang kokoh dan disampingnya kolam ikan dengan air mancurnya.

Revan mengajak mereka duduk di bangku-bangku dari bahan jati juga berwarna gelap dengan meja bundar di tengahnya.

Mereka menikmati sore sambil menikmati makanan yang di bawa Fina. Revan sangat menyukainya. Tanpa sadar berulang kali menambah porsi salad ke piringnya. Fina diam-diam tersenyum melihatnya. Dia tidak ingin merusak acara ini dengan berbagai pertanyaan yang masih mengganjal di hati.

Bi Nah bolak balik datang ke tempat mereka berkumpul, ada saja kudapan yang di bawanya. Dari pisang bakar, mie goreng pedas sampai minuman dingin es kacang merah tersaji. Lezat sekali masakan Bi Nah. Pantas saja Revan tidak suka makan di luar. Selalu dipujinya semua yang dibuat oleh perempuan separuh baya itu.

Setelah Mangrib, mereka berpamitan. Rasanya masih berat untuk berpisah. Nada beberapa kali menangis dan meminta Revan untuk membatalkan rencananya. Rama beberapa kali memeluk Revan dengan kuat. Fina hanya terdiam sendu. Rasanya tidak ada yang bisa diucapkannya. Namun hati kecilnya berharap sama dengan Nada.

Revan diam-diam mencuri pandang ke arah Fina. Berharap gadis itu ikut memintanya membatalkan kepergiannya ke Jogja. Supaya dia ada kekuatan untuk berbicara lagi ke Ayahnya. Hatinya sedikit kecewa. Fina hanya diam terisak tanpa kata-kata.

Revan tidak tahu, dalam hati Fina menginginkan tidak ada perpisahan ini. Berat baginya. Selalu, Fina bukan orang yang terbiasa mengekspresikan keinginannya secara terang-terangan.

Hingga akhirnya perpisahaan itu terjadi.

Ketiganya melambaikan tangan setelah keluar dari pagar rumah. Ada separuh hati yang tertinggal. Layaknya puzzle yang hilang, tidak ada lagi kesatuan yang terbentuk sempurna. Ada bagian yang tidak bisa menggenapkan secara utuh. Dan itu akan berlangsung lama.

Malam itu, dalam keheningan yang terasa menyesakkan dan dingin, Revan, Bi Nah, dan suaminya pergi meninggalkan Jakarta menuju Jogja melalui perjalanan darat dengan dua mobil. Revan semobil dengan supir, Bi Nah di mobil lain yang dibawa suaminya. Barang-barang disimpan di bagasi masing-masing. Kunci rumah sudah di pegang Bi Nah dan kunci cadangan di titipkan di rumah Pak RT tadi sore.

Perlahan, mobil mulai meninggalkan rumah mewah itu. Revan menoleh ke belakang. Ada rasanya nyeri di dada. Di pandanginya rumah itu tanpa berkedip. Rumah kenangan yang diisinya bersama Bunda. Teringat wajah cantik perempuan yang telah melahirkan. Segala hal yang dia rasakan saat-saat itu indah dulu berkelebat di ingatannya. Revan mengusap air mata yang jatuh. Dan satu lagi, perpisahan dengan Fina tadi sore di depan pintu rumahnya semakin mengiris-iris hatinya. Pedih.

Dua cinta tersimpan di bilik hatinya. Masing-masing menempati ruangan tersendiri. Bunda dan Fina.

Rumah kenangan makin mengecil dari pandangan. Gelap dan sunyi. Revan kembali duduk menghadap depan dan memandang jalanan panjang di depannya. Tangan kiri pak supir mengusap lembut punggungnya. Pak Ahmad, laki-laki tua yang sudah mengabdi lama di rumah Revan memahami apa yang tuan mudanya rasakan.

Lantunan dzikir terdengar lirih dari mulut Revan seiring tangan kanannya menggerakan tasbih satu persatu. Matanya terlelap. Ada ketenangan yang menyusup ke sanubarinya. Hingar bingar Jakarta telah usai untuknya.

-Selesai-

Sumber quote & pict:
Google & Pinterest

Postingan pertama di Facebook

rumahmediagrup/irmasyarief