Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 2

Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 2

Malam hari, selesai makan dan belajar, Fina teringat surat misterius yang ditemukannya tadi. Pintu kamar cepat dikunci supaya ibu atau adiknya tidak masuk ke kamar. Repot ‘kan kalau ketahuan.

Duh … pasti berabe!

Nanti mereka menyangkanya sudah memiliki pacar. Mau ditaruh dimana mukanya jika Ayah menegur. Apalagi Aldo suka berisik jika ada anak laki-laki yang suka sama kakaknya.

Fina membuka surat bersampul hijau muda dengan gambar burung yang sedang bertengger di dahan. Tangannya sedikit bergetar. Surat tanpa pengirim sering dia terima namun tetap aja selalu membuatnya berdebar.

Hai, Fina.
Akhirnya aku berani kirim surat ke kamu. Aku suka lihatin kamu diam-diam.
Kamu duduknya di depan pojok kiri dekat pintu ‘kan?
Kamu tuh lucu, cakep dengan rambut ekor kuda!”

Fina tersenyum. Rona merah terlihat di wajahnya. Segera surat itu dimasukan kembali ke dalam sampulnya. Sesekali dia mengingat siapa saja teman laki-lakinya di kelas yang bersikap sedikit aneh akhir-akhir ini.

Hmmm … banyak kandidat yang bisa dijadikan target calon terduga pengirim surat. Fina berpikir keras.

Agi, Tomy, Aditya, Eron, Dani.

Agi, cowok itu ramah dan supel dengan siapa aja. Sering menggoda Fina dengan kata-kata indah bak pujangga.
Tapi … rasanya bukan dia deh!

Tomy, sepertinya bukan juga, walaupun sering kepergok diam-diam memperhatikan dari pojok tempatnya duduk. Tomy Si Kutu Buku dengan kacamata kotaknya.

Aditya, ketua kelas yang alim dan serius. Bukan gaya dia menggombal lewat surat.
Dia anak yang serius mencari prestasi di sekolah.

Eron, anak pintar dan baik. Pernah sih kirim surat. Tapi tidak ditanggapi oleh Fina. Sekarang lagi dekat dengan Rara. Pasti bukan dia!

Atau … Dani yang terang-terangan memperlihatkan rasa sukanya terhadap Fina. Berapa kali Dani memberi isyarat jika hatinya terpikat. Tapi sepertinya bukan dia deh! Dani bukan tipe suka berkirim surat. Dia akan bicara langsung.

Terus siapa ya?

Penasaran!

Gadis itu menyadari siapa dia dan bagaimana posisinya. Fina berbeda dengan anak seusianya yang bebas bergaul atau pun bermain sesukanya, apalagi memiliki hubungan cinta monyet seperti teman SMPnya. Dia harus menjaga diri dan hati untuk tidak menyukai anak cowok di sekolah atau pun diluar sana. Andaikan terlanjur suka pada seseorang, dia tidak akan menunjukan secara langsung dan harus bisa menekan sekuat apapun rasa itu. Cukup menyukai dalam diam dan sepi.

Banyak anak laki-laki yang mendekatinya, namun Fina sering memasang pagar pembatas dengan sikap dingin dan sedikit jutek. Bukan apa-apa. Fina takut dengan perkataan tegas Ayah yang sangat melarang Fina untuk menyukai lawan jenis apalagi pacaran di usia sekolah. Sekolah dan belajar! Itu ultimatum orang tuanya. Tak segan-segan Ayah akan memberi hukuman andai Fina memiliki pacar. Apalagi Ibu dan guru ngajinya sering mengatakan, bahwa pacaran itu tidak boleh dalam Islam.

Sebagai anak tertua dan perempuan, Fina hanya bisa mengikuti aturan tanpa membantah. Semua dipatuhi dengan ikhlas. Kadangkala Fina hanya menjadi pendengar saja ketika teman-teman sekolahnya bercerita mengenai idola baru di majalah remaja atau gebetan mereka.

Seringkali Nada menyebutnya “cewek mahal yang sulit disentuh hatinya”. Fina tertawa jika Nada mulai menyindir. Memang sulit menjangkau hati Fina apalagi menjadikannya sebagai pacar.

-Bersambung-

Sumber gambar pinterest
Sumber tulisan pertama Facebook

rumahmediagrup/irmasyarief