Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 3

Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 3

“Fiiin, tunggu!”

Fina menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

“Ada apa?”

“Fin, ada salam dari Revan, teman sekelas gue,” kata Rama sambil mencegat jalan Fina.

Rama anak kelas 2-9 di SMP Nusantara. Kelas yang bersebelahan dengan kelasnya.

Fina baru saja sampai di gerbang sekolah setelah sebelumnya turun dari angkot. Jam menunjukan pukul enam pagi lewat empat puluh lima menit. Masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum lonceng masuk dipukul Pak Dino. Fina bersyukur tidak terlambat masuk sekolah.

“Siapa? Gue engga kenal,” jawab Fina tak acuh.

“Eeh, dia suka sama lo! Katanya sih udah naksir dari kelas satu. Masa elo engga tau sih? Tuh anak terkenal di SMP kita,” kejar Rama ketika Fina mulai berjalan.

“Dia yang terkenal. Bukan gue ‘kan?”

“Judes amat sih lo!”

“Biarin.”

Fina buru-buru berlari ke kelasnya. Rama gemas memandang gadis itu.

***

Pak Rony, guru pelajaran Bahasa Indonesia masuk di jam ketiga di kelas 2-8. Beliau menyuruh Fina dan Aditya, si ketua kelas, membawa buku miliknya yang tertinggal di kelas sebelah. Fina sangat menyukai pelajaran yang satu ini.

Dengan cepat Fina dan Aditya segera menuju kelas sebelah. Setelah sampai di kelas sebelah, diketuknya pintu kelas 2-9. Saat itu sudah ada guru pelajaran lain yang mengajar. Bu Aida, guru matematika. Beliau segera menyuruh keduanya masuk.

Tiba-tiba kelas riuh. Padahal sebelumnya kelas begitu sunyi karena sedang ulangan. Panggilan kepada Fina dan Aditya terdengar ramai. Siapa yang tidak tahu Fina dan Aditya, anak-anak pintar di mata para guru.

Terdengar kencang beberapa suara yang meneriakan nama Revan.

“Fin, nih Kakang Revan disini.”
“Fina, kata Revan kangen.”
“Revaaann, Fina datang menjemput.”

Fina bersemu merah. Tanpa sadar wajahnya menoleh kearah suara anak yang memanggilnya paling kencang. Rama!

Rama tertawa lantas menunjukan seseorang yang tengah memandang Fina dengan tajam tanpa senyuman.
Fina segera membuang muka. Malu terhadap bu Aida yang tengah berusaha mendiamkan anak-anak yang ribut. Mereka segera keluar kelas setelah mengambil buku dan berpamitan.

Aditya tertawa. Fina cemberut!

“Fin, kmu ditaksir sama anak sebelah ya? Revan? Hati-hati lho! Kamu tau engga tuh dia siapa?”

“Engga tau,” jawab Fina polos.

“Masa sih? Yang namanya Revan itu anak bandel. Udah dua tahun dia engga naik kelas. Kerjaannya madol mulu. Udah gitu, dia suka berantem sama anak sekolah lain. Itu tuh berkelahi sampai berdarah-darah. Mau jadi jagoan kali. Ibunya sampe nangis-nangis kalo dipanggil sama pak kepsek. Dia itu biang kerok. Si troublemaker!” jelas Adit gamblang.

Fina melongo.

Mereka lantas masuk kembali ke kelasnya. Pak Rony mulai menjelaskan mengenai Majas Personifikasi dan Majas Hiperbola.

Konsentrasi Fina terpecah. Antara mendengarkan pelajaran yang diberikan Pak Rony dengan ingatan akan tatapan tajam dari anak laki-laki di kelas sebelah. Dingin dan menusuk.

Sekilas pernah melihat wajah itu di suatu tempat. Dan rasanya juga pernah bertemu selintas di sekolah. Fina tidak pernah memperhatikan sebelumnya. Walaupun kelasnya bersebelahan, gadis berambut panjang itu tidak mengenal banyak penghuni kelas 2-9. Apalagi Revan, kata Aditya, jarang masuk.

Duh, kenapa jadi mikirin si troublemaker itu?

“Fin, elo dipanggil sama guru tersayang lo tuh! Ngelamun aja dari tadi,” bisik Nada sambil menyikut.

Fina tersentak. Di depan kelas, Pak Rony kembali menyuruhnya untuk mengerjakan contoh soal.

-Bersambung-

Sumber quote & pict:
Kumparan & Pinterest

Postingan pertama di Facebook

rumahmediagrup/irmasyarief