Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 4

Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 4

Beberapa hari ini Fina mendapatkan surat tanpa pengirim lagi. Ada tiga surat. Dengan sampul hijau muda. Artinya, si pengirim orang yang sama. Surat-surat itu ditemukan di tempat yang berbeda.

Hari Senin, surat itu ada dalam buku pelajaran yang tersimpan di meja kelasnya. Dua hari kemudian, surat lain terselip di dalam buku tulis. Tiga hari kemudian, surat ketiga bertengger manis sudah ada di dalam tasnya. Menyembul ketika dia mau mengganti buku-buku pelajaran untuk esok hari.

Surat pertama

Fina,
Tau engga? Aku suka melihatmu hari ini. Kamu cantik sekali!
Pengen ngajak ngobrol tapi malu.”

Surat kedua

“Fina, kamu judes ya? Tapi aku suka perempuan gitu. Susah didekati!
Engga bosen lihat kamu tersenyum.”

Surat ketiga

“Fina,
Kamu pintar berdiskusi rupannya.
Tambah suka deh. Cakep plus pintar.
Makan apa biar seperti itu?”

Pendek dan ringan. Hanya itu!

Seperti biasa, Fina hanya tersenyum. Surat-surat itu segera dimasukan ke dalam kotak sepatu bekas lalu disimpan dibawah tempat tidur. Sebelumnya, kotak ditutupi tumpukan majalah remaja koleksinya.

Hatinya menghangat. Surat-surat itu mungkin terlihat gombal tapi dia suka. Dunia remaja seolah semakin berwarna. Sedikit berimajinasi, bertemu pangeran misterius yang membawa cerita indah dan terbang mengangkasa di langit biru. Melihat dan menjelajah bagian dunia lain.

Seperti kisah Peter Pan dan Tinkerbell.

Melihat bunga bermekaran, pohon-pohon rindang hijau dengan suara burung yang merdu, hamparan padang rumput yang menyegarkan, atau gemerincik air sungai yang mengalir jernih di sela bukit.

Mimpi indah Fina! Semoga pangeran terbaik datang suatu saat kelak di waktu yang tepat.

***

Satu hari ….

Nada, Aditya dan Fina dipanggil Pak Rony ke kantornya untuk membawa tugas yang harus dikerjakan teman-teman di kelas.

Ketika sudah sampai di ruang guru yang berdekatan dengan ruang BP, sayup-sayup terdengar Pak Sam sedang menasihati seseorang. Pak Sam adalah guru bimbingan atau konseling yang paling paham psikologi anak murid SMP Nusantara. Dari nada suaranya sedikit tegang dan meninggi. Pasti ada anak yang sedang bermasalah di hadapan guru senior itu. Sepertinya, anak tersebut membuat lagi ulah dan pihak sekolah mengetahuinya.

“Sampai kapan kamu mau mencoreng nama baik sekolah dan orang tuamu?”

Terdengar suara Pak Sam menggelegar. Amarahnya sudah memuncak. Di susul suara meja yang digebrak keras. Fina termangu dan mematung. Gadis itu sedikit penasaran. Pelan-pelan kakinya melangkah mencoba mendekati ruangan BP. Aditya dan Nada sudah ada di meja kerja Pak Rony.

Braaaakk … tiba-tiba pintu ruang BP terbuka. Seraut wajah dengan luka lebam di dahi kiri dan pipi keluar dari sana. Fina kaget. Anak itu lebih kaget lagi karena Fina berdiri di hadapannya.

Si Troublemaker. Revan!

Revan menatap, seperti waktu pertama melihat Fina di kelasnya. Dingin dan menusuk. Seperti ada sebuah misteri yang dipendamnya. Padahal, wajahnya cukup tampan. Alis tebal, mata tajam, dan hidung mancung.

Hei, tunggu! … Sekilas Fina melihat ada senyuman walaupun sangat tipis; samar dari bibir yang sobek dan berdarah di ujungnya. Hanya sekejap saja.

Revan berlalu dalam diam dan kebisuan.

Penasaran … Gadis remaja itu tidak sadar mengikuti langkah Revan dan terdiam di pintu ruangan guru. Matanya memperhatikan punggung anak itu yang menghilang di belokan kantin.

“Entah apa yang ada dipikiran bocah itu? Selalu dia bilang harga diri dan kehormatan lebih tinggi dari luka yang didapatnya. Semoga ada yang bisa meluluhkan hatinya kelak,” tiba-tiba Pak Sam sudah ada di dekat Fina. Lalu menoleh. “Eh, ada Fina, hati-hati kalo memandang anak laki-laki itu. Jangan sampai kecantol ya!” pesannya.

Fina tersenyum. Ih … siapa pula yang mau sama anak troublemaker?

“Anak itu kenapa, Pak?” tanya Fina penasaran.

“Revan? Biasa, dia tawuran dengan anak STM di Jalan Persada kemaren. Katanya tadi bilang ke Bapak, anak STM itu mengganggu anak perempuan kelas tiga SMP kita di angkot. Mungkin ketemu sama lawan yang seimbang. Dua-duanya celaka. Anak STM itu masuk rumah sakit. Dia cuma luka di jidat plus dapet memar dan sobek bibir aja. Mereka seumuran. Revan mestinya tahun ini udah masuk SMA kelas satu tapi engga naik kelas dua kali,” jawab Pak Sam panjang lebar.

Sudah dua orang yang menjelaskan siapa Revan. Pak Sam dan Aditya. Penjelasan yang sama.

Fina memang tidak terlalu mengenal teman-temannya yang berbeda kelas. Hanya anak-anak perempuan saja yang dia kenal. Untuk anak laki-laki hanya teman sekelasnya, di kelas lain hanya beberapa orang saja. Fina sengaja membatasi pergaulan karena patuh kepada aturan Ayah. Ayah bilang, jangan banyak bermain tapi perbanyak belajar dan mencari ilmu.

Sementara, banyak anak-anak SMP yang mengenal Fina sejak masuk ke sekolah ini dua tahun yang lalu. Pintar, cerdas, cantik, dan kalem. Itu yang mereka ketahui mengenai Fina. Safina Ambara Kinanti.

-Bersambung-

Sumber quote & pict:
Google & Pinterest

Postingan pertama di Facebook

rumahmediagrup/irmasyarief