Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 5

Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 5

Hari ini Fina pulang sedikit telat. Ada tugas tambahan dari guru Biologi yang harus dikerjakan bareng-bareng. Nada mengajak Fina pulang ke rumahnya karena kakaknya Nada, Mas Bara, ulang tahun dan mau mengadakan syukuran. Fina sendiri cukup akrab dengan keluarga Nada.

Fina menolak.

Bukan tidak mau, tapi Ibu pasti akan menunggu kepulangannya. Tadi siang sebelum ada tugas tambahan berlangsung, Fina sudah menelepon Ibu lewat telepon umum koin dekat gerbang sekolah, mengabarkan telat pulang ke rumah. Gadis itu tidak ingin membuat perempuan terkasihnya khawatir. Maklum, rumah Fina cukup jauh dari sekolah. Terlebih langit hari ini terlihat mendung dari pagi.

Selagi menunggu angkot yang melewati kompleks rumahnya, -angkot ke rumah Fina tidak banyak dan jarang- tiba-tiba hujan turun dengan lebat dan besar disertai angin kencang. Fina segera berlindung mencari emperan toko yang bisa disinggahinya. Ternyata sudah banyak orang yang berdiri di depan pertokoan dekat sekolah. Pemikiran mereka sama, mencari perlindungan dari hujan yang datang tiba-tiba.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, sepasang mata mengamatinya diam-diam. Orang itu kemudian menyelinap memasuki sebuah toko sebelah yang menjual barang-barang plastik. Setelah mendapatkan apa yang dicari dan membayarnya, segera dia menuju ke tempat semula. Bibirnya tersenyum lega ketika melihat Fina masih ada disana.

Hujan makin deras, angkot yang Fina cari akhirnya datang dan berhenti di depan pertokoan. Jarak dari emperan toko ke angkot sekitar lima meter. Fina segera berlari sambil menutupkan tas diatas kepala. Seiring kakinya berjalan, seseorang mengikuti langkahnya dari belakang dengan cepat dan memayunginya sehingga tas dan badan Fina tidak basah.

Fina mendongak. Payung berwarna hijau muda sudah melindungi kepalanya. Refleks, gadis itu melirik orang yang sedang memayunginya. Revan!

Fina terdiam. Ada rasa sungkan dan sedikit kaget. Sedari tadi dia tidak melihat anak laki-laki itu. Revan tidak memandangnya kali ini. Matanya menatap ke depan sambil meminta supir angkot menunggu.

“Ayo naik!” suara Revan terdengar.

Fina tidak menjawab dan langsung masuk kedalam angkot. Begitu juga dengan Revan. Lalu payung yang dipegangnya segera dilipat. Di dalam angkot hanya ada tiga orang, ditambah Revan dan Fina jadi berlima. Ada bapak tua, anak muda, perempuan paruh baya, Revan, dan Fina.

Revan mengambil tempat duduk tepat di depan Fina. Matanya memandang ke pintu angkot di samping Fina. Mereka terdiam membisu.

Kamu pulang ke Kompleks Pelangi ‘kan?” suara Revan memecah kesunyian. Hujan masih lebat di luar. Jalan penuh dengan air hujan yang mengalir.

Fina memandang Revan. “Darimana kamu tahu?” tanyanya heran. Sedikit berbisik. Tidak enak dengan tiga orang penumpang lainnya.

Revan hanya tersenyum kecil tanpa menjawab. Fina merasa jengah dan canggung. Tidak terbiasa dengan kondisi seperti ini. Sepanjang jalan suasana hening menyelimuti. Sesekali Fina melirik Revan dan menduga-duga apa yang ada dalam pikiran Si Troublemaker. Sementara Revan, seperti biasa, tenang dan diam. Rahang kukuhnya dan sorot mata tajam begitu ketara.

Fina merasa, apa yang dinilai orang mengenai Revan tidak sesuai dengan aslinya. Hati kecilnya berkata lain. Kenyataan dihadapannya kini, Revan adalah sosok yang sopan dan pelindung. Ya, walaupun tidak banyak yang diucapkannya. Yang jelas, kebaikan yang Revan tawarkan kepadanya bukanlah basa-basi atau sekedar menarik perhatian gadis itu. Entah kalau Revan memiliki dua karakter yang berbeda dalam satu tubuh.

Walaupun begitu, Fina tetap waspada dan menjaga sikap. Pagar pembatas yang dia bentangkan di depan semua anak laki-laki yang mendekatinya terasa jelas dan tegas. Fina bukanlah perempuan yang gampang dibujuk rayuan dan sulit dijamah.

Tak terasa setengah jam berlalu, mereka saling diam dengan pikiran masing-masing, angkot sudah mendekati kompleks perumahan Pelangi. Fina segera turun setelah membayar ongkosnya sendiri dan berlari menuju gerbang. Revan cukup gesit memberikan ongkos yang sudah dia siapkan sebelumnya kepada supir dan ikut turun juga menyusul gadis itu.
Dengan cepat Revan membuka payung lalu kembali melindungi Fina dari terpaan hujan.

Gadis itu menggeleng.

Fin, pakai ini ya! Jangan takut! Aku engga ikut ke rumahmu kok. Aku turun hanya untuk memberikan payung aja,” kata Revan.

Tubuh Revan basah semua.
Hujan rasanya masih enggan berhenti. Satu tangannya masih memayungi. Ada jarak antara mereka.

Fina ragu dan menatap Revan. Diambilnya perlahan payung itu. Fina tidak bisa berkata apa-apa. Bingung.

Revan tersenyum. “Pulanglah! Aku balik ya! Jaga dirimu!”

Revan tak membutuhkan jawaban atau anggukan Fina. Dia berlari dengan cepat kembali ke jalanan trotoar. Langkah lebar berpacu dengan turunnya hujan yang semakin besar disertai angin kencang. Kaki panjangnya yang kokoh menjejak bumi dengan keras sehingga tercipta cipratan air yang memuncrat ke segala arah.

Revan seperti seorang pelari marathon dengan bahu yang bidang dan lengan yang tegap. Sepertinya dia suka berolahraga. Fina memandang anak muda itu. Punggungnya semakin menjauh lalu menghilang. Fina berbalik dan melangkah menuju rumahnya. Dari gerbang kompleks dia berjalan lurus sekitar duaratus meter lalu kemudian berbelok ke Jalan Melati. Rumahnya sudah terlihat. Ibunya menunggu dengan cemas di depan pintu.

-Bersambung-

Sumber quote & pict:
Google & Pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief