Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 7

Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 7

Revan tidak muncul di sekolah. Seminggu sudah Fina tidak melihatnya. Selama itu pula gadis itu menahan rasa ingin tahu mengenai keberadaan Revan. Bangku yang ditempati laki-laki itu selalu kosong. Diam-diam Fina mengintip lewat pintu kaca. Berharap, Revan ada di kelasnya. Fina tidak mau bertanya kepada Rama. Hanya saja dalam hatinya berharap Revan baik-baik saja.

Gadis remaja itu tidak mengerti. Ada apa dengan hatinya. Satu sisi dia ingin mengetahui lebih jauh siapa Revan. Bagaimana dia bisa bermasalah dan dicap sebagai biang kerok? Sementara, satu sisi lain hatinya mengatakan agar menjauh dari laki-laki dengan sorot mata tajam itu.

Ada sisi misteri yang dimiliki Revan dan Fina ingin sekali menguaknya. Andai saja gadis itu berani melangkah lebih jauh lagi, rasa penasarannya akan bertepi. Namun Fina tetaplah Fina, gadis dengan sejuta aturan yang sudah mengikatnya sejak dulu. Rasanya sulit untuknya membuka pagar pembatas.

Fina yakin, Revan mungkin masih mempunyai sisi baik. Bisa jadi dia hanya luarnya saja bermasalah tapi tidak dengan hatinya. Ada kejujuran dalam manik hitam yang sering menatapnya.

“Fina! jangan terlibat masalah hati. Kamu masih bau kencur. Ingat! Ayah akan marah besar,” satu suara batinnya berbicara.

“Sesekali buka hatimu, Fin! Mungkin Revan butuh bantuanmu untuk menata hidup,” cetus batin yang satu lagi bersuara.

Fina menutup mata dengan kedua tangannya. Jawaban yang dicari mengenai Revan malah membuatnya bingung.

Hari ini kelas sedang lengang. Bu Aida hanya memberikan tugas mengerjakan LKS bab tiga. Fina sudah mengerjakannya dari tadi. Tak ayal, LKSnya jadi piala bergilir diantara teman-temannya. Menyontek!

Tak lama kemudian, lonceng sekolah kembali terdengar. Dengan gontai Fina keluar kelas sambil menenteng tas jinjing yang berisi payung. Tadi Nada sempat menggodanya, “Kayak nenek aja tiap hari bawa payung.” Fina membalasnya dengan alasan takut hujan datang tiba-tiba.

***

Sore hari, Fina berangkat kursus Bahasa Inggris. Hari ini kelasnya akan dicampur dengan kelas yang lebih tinggi. Tujuan dari Mr. Rafi agar kelas atas bisa memberikan semangat dan melatih adik kelasnya. Ketika masuk kelas, Fina memilih bangku di belakang. Dia tidak mengenal kakak kelasnya di tempat kursus itu. Rata-rata mereka sudah SMA.

Pada saat diberikan kesempatan oleh Mr. Rafi agar kakak kelas memilih adik kelas sebagai pasangan percakapan, seseorang mendekati Fina. Orang itu memakai baju sweater hitam berhodie dengan topi hitam pula yang hampir menutupi wajahnya. Di saat yang sama, ada senior lain yang hendak mengajak Fina, namun segera diusirnya oleh orang berhoodie tadi.

“Siap untuk conversation practice?” tanya orang berhoodie di depannya.

Fina yang sedang duduk langsung tengadah. Suaranya itu seperti pernah didengar di suatu tempat. Diamatinya seseorang yang berdiri di hadapannya. Penasaran sekali.

Orang itu kemudian membuka topi serta hoodie yang menutupi rambut dan wajahnya.

Revan!

Revan tertawa lebar dan memperlihatkan giginya yang putih berbaris rapi.
Fina tercengang! Baru kali ini Revan begitu berbeda. Akrab dan hangat.

-Bersambung-

Sumber pict:
Pinterest

Diposting pertama di Facebook

rumahmediagrup/irmasyarief