Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 6

Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 6

Keesokan harinya, Fina berangkat sekolah sambil membawa payung pemberian Revan. Di simpan dalam tas kanvas yang sengaja dibawanya dari rumah. Fina berencana memberikan benda itu secara diam-diam sepulang sekolah.

Ketika bel istirahat berbunyi, sengaja Fina diam di kelas. Nada mengajaknya ke kantin. Fina menyuruh Nada supaya pergi duluan karena ada tugas yang harus diselesaikannya. Mencari alasan.

Setelah semua anak keluar, Fina berjalan perlahan menuju pintu kaca tepat di depan bangkunya. Pintu itu menghubungi kelas 2-8 dengan kelas 2-9. Sebenarnya, tidak perlu memutar keluar untuk masuk kelas 2-9, cukup membuka pintu penghubung itu saja, tapi para guru selalu menguncinya agar tidak mengganggu kelas yang disebelahnya.Ha ha ha! Pasti nyariin Revan ya?\” godanya. \”Tadi dia engga masuk. Sakit katanya. Kemaren kayaknya dia kehujanan,\” lanjut Rama.

Fina mengintip isi kelas 2-9. Dari arahnya berdiri, dia bisa memandang ke segala arah kecuali bangku bagian belakang pojok ujung sana yang sejajar dengan pintu kaca.

Matanya berputar. Diam-diam dicarinya sosok Revan diantara anak yang ada di kelas. Tidak ada! Hanya Ada Rama sedang berbicara dengan anak lain. Fina segera mundur dari pintu kaca.

Terlambat … Rama sudah melihatnya!

Fina pura-pura memalingkan wajahnya dengan cepat. Wajah putihnya memerah dan terburu-buru mengejar Nada yang sudah melangkah jauh menuju kantin.

“Lagi nyari siapa tadi?”

Duh, Rama rupanya mengejar Fina sampai ke kantin. Anak itu sudah ada disebelah Fina dan menjejeri langkahnya.

Engga, gue cuma lihat aja sekilas,”

malu rasanya jika ketahuan Rama.

“Ha ha ha! Pasti nyariin Revan ya?” godanya.Tadi dia engga masuk. Sakit katanya. Kemaren kayaknya dia kehujanan,” lanjut Rama.

“Dih, siapa yang nyariin? Lagian juga gue engga ada urusan,” jawab Fina berbohong. Sejurus kemudian, gadis itu merasa bersalah dengan perkataannya.

Kemarin Revan bela-belain memberinya payung padahal dia sendiri kehujanan. Sekarang sakit pasti gara-gara itu. Detik itu juga, Fina merasa dirinya begitu jahat. Sayang, Fina malu mengakui jika Revan kemarin telah menolongnya.

Rama berlalu dari hadapannya karena ada seseorang yang memanggil. Fina pun segera bergabung dengan Nada yang sedang menikmati bakso Kang Dullah.

“Lo, ada urusan apa sih, sama si Rama itu?” tanya Nada dengan mulut penuh bakso.

“Engga tau, gue aja engga ngerti,” jawab Fina cuek. Menyimpan rapat rahasianya.

“Dih, jangan bilang dia maksain elo jadi pacarnya ya? Jangan mau! Dia itu temannya si Revan, troublemaker, gue engga mau ya, sohib gue yang baik dan santun ini dapetin cowok kaya Rama atau Revan, ngerusak bibit!” cerocos Nada.

“Loe kalau mau, ada cowok ganteng, baek, pinter, mahasiswa teladan di kampusnya dan masih jomlo naksir sama loe,” kata Nada merepet.

“Siapa?”

“Abang gue, Mas Bara! Dia suka nanyain elo. Kemaren aja waktu gue bilang elo engga bisa dateng ke rumah, kayaknya Mas Bara kecewa berat deh. Gue rasa nih, Abang gue naksir berat elo, Fin!”

Fina termangu. Nada terlihat kurang suka jika Rama mendekatinya. Bagaimana jika Nada tahu kalau Revan kemarin memberikan payung dan mengikutinya hingga turun di depan gerbang kompleks?

“Revan! Segitu negatifnya dimata teman-teman yang lain? Tapi kenapa kepadaku dia begitu baik dan tulus,” batin Fina.

Mas Bara! Mahasiswa tingkat pertama di salahsatu Universitas terbaik di Indonesia dan masuk lewat jalur undangan PMDK.
Mas Bara seperti kakak laki-laki untuknya.
Rasanya tidak mungkin kakaknya Nada menaruh perhatian terhadapnya. Selama ini sikapnya biasa-biasa saja.

-Bersambung-

Sumber quote & pict:
Google & Pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief