Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 9

Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 9

Fina menemukan satu surat lagi di kolong meja ketika kembali dari kantin. Penemuan ini tidak ada yang tahu, karena saat itu kelas kosong dan sebagian besar penghuninya berada di kantin. Fina masuk ke kelas karena ada barang yang hendak diambilnya.

Perlahan dibukanya surat bersampul hijau muda itu.

“Fina,
Tetaplah seperti Fina yang kukenal.
Misterius dan sulit dijangkau.
Kamu pasti penasaran kan siapa aku?
Suatu saat kamu akan tahu.

Aku, si pengagum rahasia.”

Sejak kapan surat itu ada di kolong meja? Rasanya tadi pagi hingga dia keluar kelas, semua bersih tak ada apa-apa di sana. Mungkin, si pengagum rahasia sengaja menyimpannya setelah murid 2-8 keluar semua dari kelas.

Jika dulu Fina mereka-reka siapa yang mengirim surat, kali ini dia yakin seratus persen siapa si pengagum rahasianya itu.
Disimpannya surat itu dalam tas.
Sambil tersenyum, dia kembali ke kantin menemui Nada. Gadis remaja itu merasa sudah saatnya menyudahi rasa penasaran ini.

****

Rama bilang, Revan sudah masuk kembali. Fina melihat laki-laki itu sudah mengisi kembali bangkunya. Fina tersenyum. Hatinya tenang.

Namun, ketika Fina diam-diam mencarinya setelah pulang sekolah, Revan selalu menghilang. Seolah-olah menghindarinya. Dan itu sudah terjadi selama dua hari.

Hari ini, secara tak sengaja, di lorong kelas tiga dekat kantin, Fina melihat Revan sedang berjalan menuju ke arahnya. Fina menduga Revan akan ke kantin dan dia mencoba bersikap wajar. Laki-laki itu sudah melihatnya dari jauh dengan tatapan yang tenang dan tentunya … dingin. Makin mendekat, langkah Fina pun terhenti ketika Revan sudah ada di dekatnya.

“Van, hhmm … makasih ya payungnya. Bisa nanti pulang sekolah ketemu? Payungnya ada di kelas,” Fina ragu-ragu berkata.

Revan sepertinya berpikir. Dilihatnya gadis itu tertunduk sambil memainkan rambutnya yang panjang. Revan teringat sesuatu.

“Oke, aku tunggu di taman samping gerbang. Kalau aku belum ada, kamu tunggu! Mungkin sedikit lama kelasku keluarnya dibanding kelas kamu,” jawab Reva sedikit kaku.

“Iya, nanti aku tunggu,” kikuk rasanya Fina berbicara sedikit banyak dengan Revan di sekolah.

“Oke!”

Revan segera berlalu tanpa melihat Fina lagi. Badannya yang tegap dan tinggi seperti tembok yang kokoh. Sikapnya yang kembali dingin seperti semula bertemu membuat Fina meragu mengenai si Pengagum Rahasia.

Revan yang dia lihat di English collage berbeda dengan Revan yang di sekolah.

**
Berkali-kali Fina menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Pukul tiga belas kurang lima menit. Kelasnya masih ada pelajaran tambahan. Tadi Pak Dirman, guru sejarah menghukum satu kelas untuk mengerjakan tugas bab tiga. Gara-gara ada temannya yang iseng mengatakan kalau Pak Dirman guru killer.

Lima menit berlalu. Kini sudah pukul tiga belas tepat. Pak Dirman akhirnya mengakhiri hukuman. Riuh anak-anak bersorak. Seperti biasa, doa penutup di
pimpin Aditya. Fina segera menuju mushola untuk salat dhuhur. Tak mungkin sholat dhuhur di rumah. Perjalanan pulang membutuhkan waktu yang cukup lama. Tenang rasanya jika kewajiban sebagai muslimah selesai ditunaikan.

Sekolah sudah mulai sepi, namun masih ada kelas lain yang belum keluar. Fina segera beranjak menuju depan dan berbelok ke taman samping sekolah. Nada sejak tadi sudah pulang karena ada yang harus dibelinya di swalayan.

Pukul tiga belas lewat lima belas menit. Fina tidak melihat siapa pun di sana.
Baiklah, Fina yang akan menunggu.

“Baru sampai ya? Kupikir engga jadi datang,” satu suara mengagetkankannya.

Revan.

Fina menoleh. “Kelasku ada tambahan jam Sejarah. Terus salat dulu tadi. Jadi … baru bisa ke taman sekarang,” jawab Fina. “Kamu nunggu lama?”

Revan melirik jam tangannya. “Dari jam setengah satu aku udah keluar. Diajak Rama salat dulu tadi terus nunggu disini. Ya, lumayan lama.”

Oh, ternyata dia ingat kewajiban salat!

Kali ini gestur tubuh dan nada bicara Revan santai dan hangat. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang kaku dan dingin.

Fina mengangguk.

“Nih, payungmu ! Bukunya mungkin aku balikin nanti pas kursus. Boleh?” tanya Fina sambil memberikan payung itu ke Revan.

Revan tertawa lepas. Sepertinya ada rasa senang dan tidak memiliki beban.

“Payung itu buat kamu aja. Itu ‘kan payung cewek. Buku, boleh kamu pake selama kamu butuh. Aku titip ya! Biar kamu gape bahasa Inggrisnya. Jadi engga kaget lagi kalo ada yang ngajakin percakapan.”

Fina cemberut tapi dia tertawa juga akhirnya. Angin siang itu terasa sejuk. Sesejuk hati Fina yang mulai nyaman berbincang dengan Revan.

Tiba-tiba mereka terdiam. Rasanya tidak ada lagi pembahasan lagi. Sama-sama sungkan. Fina teringat sesuatu.

“Aku boleh tanya?”

“Apa itu?”

“Kenapa kamu suka warna hijau muda?” pertanyaan sudah Fina siapkan dari tadi malam. Dan Fina yakin dengan apa yang ada di pikirannya kali ini.

-Bersambung-

Sumber quote & pict:
Google & Pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief