Pengganti Pelukan Ibu

Pengganti Pelukan Ibu

Riuh suasana metropolitan tak membuatmu gerah
Diselimuti debu bagaikan kabut tebal yang membuat gatal kering kerongkongan
Diam membisu, entah apa yang sedang dipikirkan

Di ujung jalan di sekitar parkir mobil mobil harga ratusan juta
Terpantul guratan wajah kemiskinan
Wajah-wajah yang kelak di alam kekal siap menuntut keadilan penguasa
Di balik spion mobil mewah, kau dekap wajah kecil itu dengan mesra

“Cup-cup, diam Dik, Kakak akan berusaha, bawakan makanan sisa dari rumah makan seadanya. Agar obat penurun panasmu tertelan dan reda.”
Bocah kecil itu mengangguk memaksa pikirannya agar mau berpasrah.

Sesekali merintih, menahan lukanya yang parah
Oh … rupanya tabrak lari itu yang membuat si kecil menderita
Seorang pecundang yang bersembunyi di balik mobil mewahnya
Menyetir dengan mabok menggila
Tak menghargai sebuah nyawa

Tanpa ada rasa welas tapi lari dengan meludah
Mencaci, dengan sumpah serapahnya
hilang rasa hati manusia
“Buihh, anjing lapar! Mengganggu saja.”

Bocah kecil itu merunduk dengan pasrah, dengan setumpuk koran yang berserakan lepas dari genggamannya, beringsut dari keramaian dengan segera. Seraya menikmati rasa sakit yang tak terkira.

Seorang kakak kembali menawarkan pelukannya,
“Sabar Dik, Allah akan janjikan kita surga
Sini Dik, Kakak bantu bersihkan luka”
Darah segar meleleh di jalanan aspal diselingi rintihan yang tertahan, tetesan darah yang dianggap murah bagi mereka yang mengabdi pada kasta dunia.
Murah, Karena cucuran darah dari si miskin yang tak berpunya.
Bukan ceceran darah kolongmerat ataupun pengusaha
Yang setetes darahnya akan berharga juta rupiah.
Padahal nyawa takkan membela siapa dia.

“Dik, lukamu menganga, seperti halnya luka jiwa yang parah.
Jalanan adalah tempat kau dan aku ditempa.”
Seorang kakak yang berusaha menenangkan kerisauan adiknya, memeluknya dengan erat, seperti ketika ibunya memeluk dalam buaian. Sedikit usapan sayang adalah anugerah
Sayangnya, jerit perihnya masih belum mampu membelalakkan mata dunia
Dunia yang penuh bongkahan kepalsuan
Diliputi debu jalan ia tetap berhasrat merangkai harapan
Melalui kepingan recehan tapi masih terpikirkan olehmu

“Ya Allah ini sedekahku hari ini untuk ibu dan ayahku yang telah tiada. Kapankah Kau pertemukan aku?”
Dalam rangkulan kakak-beradik mengharap pengganti dekapan seorang ibu.

Penulis: Lelly Hapsari

Editor: Ilham Alfafa

Rumah Media Grup

One comment

Comments are closed.