Penilaian Akhir Semester Ala Ghina

Brak.

Pintu terbuka dengan keras. Tanpa salam, Ghina masuk ke kelas. Hari ini hari kedua penilaian akhir semester (PAS), dan hari kedua juga dalam Minggu ini Ghina terlambat.

“Assalamualaikum, selamat pagi Ghina ?”

Ghina membalas salam ku dengan senyum, tidak terlontar sepatah katapun.

“Kok terlambat lagi?”mataku memandang wajah orientalnya.

“Tidak boleh ?”

Dokumen pribadi

“Ia dong, apalagi sekarang sedang ujian.”

Tangan Ghina meletakkan tas punggung ke sandaran kursi. Kaki kecilnya menendang kursi hingga bergeser ke belakang, menjatuhkan pantatnya ke kursi, dan melepas jilbab.

“Kenapa aku tidak boleh terlambat, padahal tadi aku bangunnya kesiangan.”

“Karena Ghina anak sekolah, anak sekolah harus disiplin.”

Mataku menatap netra bening Ghina, wajah polosnya balik menatap tanpa rasa bersalah. Tanganku mengambil jilbab putih yang tergeletak di meja, memakaikan ke kepala Ghina.

“Lihat, karena Ghina berangkat sekolahnya terlambat, Ghina jadi ketinggalan.”

“Aku ditinggal Bu?, Emang Bu guru mau kemana?”

Bibirku tersenyum, mengusap ujung tangannya pelan.

“Maksud Bu guru, Fadhil, Ulum, Ragil, Salwa, Aldi dan Nabil sudah mengerjakan soal sampai nomor sebelas, sementara Ghina belum mengerjakan sama sekali. Nah, itu artinya Ghina ketinggalan.”

“Ohh, aku harus mengerjakan soal sampai nomer sebelas ?, Terus aku tidak ditinggal ?”

Aku mengangguk.

Ghina membuka tas, mengeluarkan beberapa buku.

“Tidak perlu mengeluarkan buku, ambil pensil saja.”

Ghina berhenti, tersenyum dan kembali tangannya memasukan buku secara asal. Beberapa buku terlihat melipat, dan tertumpuk dengan buku lain secara asal.

“Aku maunya belajar matematika.” Ghina menekankan kata maunya, menutup lembaran soal yang baru saja aku letakkan di meja.

“Hari ini ujiannya Bahasa Indonesia. Jadi Ghina solekhah harus mengikuti aturan, kerjakan soal Bahasa Indonesia.”

Ghina diam, membalikkan badannya ke tembok sambil mengusap kaca jendela dengan tangannya.

“Ayo Ghina, duduk !”

“Tidak, aku tidak mau bahasa Indonesia, aku maunya matematika.”

“Ok, satu soal matematika ya?”

“Ya”

Ghina mengangguk, badannya berbalik, melihat kearah ku dengan garis senyum kemenangan. Aku menuliskan satu soal penjumlahan pada buku tulisnya.

“Kerjakan.”

Tangan Ghina mengambil pensil pada tepak, membuat lingkaran-lingkaran kecil sebagai alat bantu penjumlahan.

“Kalau sudah, kita kerjakan soal bahasa Indonesia ya ?”

Ghina mengangguk pasti.

Rumahmediagrup/srisuprapti