Perahu Retak (1)

Perahu Retak (1)

Lembayung mulai memerah di langit senja. Udara dingin meresap pelan menembus pori-pori. Sayup-sayup mulai terdengar azan maghrib bersahut-sahutan. Pertanda gelap akan segera tiba. Para orang tua bilang, jangan keluyuran saat senja, karena itulah waktu mulai keluarnya makhluk-makhluk gaib. Perlahan rasa khawatir menyesaki dada, apalagi dengan kondisi kehamilannya. Tapi apa daya, Lily harus memperjuangkan nasib jabang bayi di perutnya, sementara suaminya lenyap entah kemana.

Lily memegangi perutnya yang semakin membesar. Bekerja sebagai penjahit jika sedang hamil sangatlah beresiko. Berbadan dua cepat sekali merasa capek. Tapi apa daya, hanya itulah satu-satunya keahlian yang dimilikinya. Gaji mingguan yang diperolehnya dari usaha konveksi rumahan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari rumah tangganya. Dia harus kuat ketika suaminya di PHK dan malah tidak pulang karena tidak bisa menanggung malu kepada keluarganya.

Bayi di perutnya mulai bergerak. Lily tersenyum sendiri membayangkan anaknya yang akan terlahir lucu. Tapi bagaimana kalau suaminya tidak pulang sampai bayinya lahir. Rasa khawatir menyeruak memenuhi rongga dadanya.

Bersambung…

rumahmediagrup/muslimatulfaiqoh