Perahu Retak (Bagian 2)

Perahu Retak (Bagian 2)

Sepeda motor dengan pengendara berjaket paduan warna hijau dan hitam berhenti di depan Lily.

“Atas nama mbak Lily ya?”

Tanpa menjawab Lily mengangguk dan segera naik di belakangnya.

“Maaf, sepertinya mbak ini istrinya teman SMP saya, si Joni. Apa betul? Saya masih ingat wajahnya..delapan bulan yang lalu saya hadir lo di resepsi pernikahan mbak sama Joni.”

“Betul mas…” Jawab Lily pelan karena enggan menanggapinya.

“Loh..mbak udah nikah lagi ya? kok udah hamil. Si Joni sebulan yang lalu kawin sama tetangga saya mbak. Namanya Bu Dewi. Janda kaya tanpa anak. Umurnya udah 47 an sih, tapi masih cantik banget. Ngomong-ngomong, mbak kenapa bisa cerai ya? Kata si Joni, mbak kabur karena gak dikasih uang belanja, ya?”

Astaghfirullohal adzim, Lily hanya bisa menahan tangisnya mendengar cerita abang ojol itu. Bukankah suaminya yang menghilang dan tidak pulang selama dua bulan, tapi kenapa dia yang difitnah seperti itu? Tiba-tiba dia merasa kram hebat di perutnya. Tangan dan kakinya terasa sangat dingin. Perutnya perih seperti ditusuk-tusuk.

“Mas, tolong antar saya ke bidan saja. Perut saya sakit sekali. Saya tidak kuat lagi.”

Tanpa menjawab si mas ojol langsung tancap gas membawa Lily ke bidan terdekat. Di depan rumah bidan dia memapah Lily yang terlihat sangat pucat. Bu bidan dan asistennya segera melakukan perawatan.

“Sepertinya istri Bapak mengalami pendarahan.”

Bidan itu memberikan penjelasan awal karena mengira mas ojol adalah suami Lily. Mas ojol kebingungan tapi tidak sempat menjelaskan apa-apa. Dia akan segera pergi, tapi rasa iba mulai merasuki perasaannya hingga akhirnya dia memilih duduk di ruang tunggu di depan ruangan.

Asisten bidan tergopoh-gopoh menghampirinya.

“Bapak boleh masuk ruangan. Istri bapak akan segera melahirkan. Berdoa yang banyak ya, Pak. Meskipun lahir prematur semoga bayinya sehat dan tidak kurang apa-apa.”

Mas ojol semakin bingung. Tidak tau harus bagaimana karena dia yang masih bujang tentu saja tidak pernah mengalami hal ini. Karena tidak punya pilihan lain, dia segera beranjak mengikuti asisten bidan menuju ruang persalinan.

Bersambung….

rumahmediagrup/muslimatulfaiqoh