Perahu Retak (Bagian 3)

Perahu Retak (Bagian 3)

Memasuki ruangan bersalin membuat mas ojol sedikit takut. Bidan memintanya duduk di samping Lily, sementara dia keluar mempersiapkan alat-alat persalinan.

“Mbak, saya telponkan suaminya ya…berapa nomer hapenya?”

Setengah berbisik dia berbicara pada Lily, takut terdengar Bu bidan. Tapi mata calon ibu di depannya berkaca-kaca. Kepalanya menggeleng cepat, dan tangan yang lemah itu reflek memegang pergelangannya. Hal itu membuatnya berkeringat dingin. Dia mulai menangkap ada yang tidak beres pada wanita cantik berkulit putih yang terkulai lemah di depannya. Bu bidan itu datang lagi diiringi dua aistennya, sementara Lily mengerang kesakitan.

“Disemangati ya mas, istrinya…pegang tangannya biar rasa sakitnya berkurang.”

Bidan itu memberi instruksi, dan mas ojol dengan canggung memegang tangan Lily. Jemari tangan Lily yang dingin membuatnya khawatir.

“Kenapa tangannya dingin sekali, Bu?”

“Akan segera membaik begitu bayinya keluar, mas. Banyak berdoa ya..Ini anak pertama ya, mas? biasanya periksa kandungan dmana, mas?”

Ucapan bidan yang tak bisa dijawab mas ojol itu berhenti karena erang kesakitan Lily. Rasa iba yang teramat sangat memenuhi rongga dadanya. Beginikah perjuangan seorang ibu? Keringat dingin mulai berjatuhan di keningnya. Dia merogoh saku celana, mengambil tisu dan mengusap butiran-butiran itu. Entah darimana keberanian itu dia dapatkan. Sambil merapal semua doa yang dia bisa, sementara bidan itu memandu persalinan.

“Ayo semangat, mbak…gak boleh ngantuk”

“Tarik nafas….”

“Tarik nafas lagi….”

Beberapa instruksi keluar dari mulutnya, hingga akhirnya pecahlah tangis bayi yang ditunggu-tunggu.

“Alhamdulillah…”

Mas ojol memekik gembira sebagai tanda syukur seolah bayi yang lahir itu benar-benar anaknya. Tidak terasa matanya benar-benar basah. Bermacam-macam perasaan berkecamuk di hatinya, antara bahagia dan bingung. Bapakmu dimana bocah? kenapa dia tidak menyaksikan peristiwa yang menakjubkan ini?

Bersambung…..

rumahmediagrup/muslimatulfaiqoh