Percaya Prediksi Masa Depan

Percaya Prediksi Masa Depan

Ibu menangis terharu, setibanya pulang dari menunaikan rukun Islam yang ke lima, naik haji.

“Ini karunia Allah yang begitu besar dan ibu juga hampir tidak percaya kata-kata ibu tua dulu itu menjadi kenyataan.”

Aku mengamini saat ibu menyebut bahwa keberangkatannya karena karunia-Nya. Namun penggalan kalimat terakhir menyisakan tanya, “Apakah ada yang memprediksi keberangkatan ibu ini bertahun-tahun sebelumnya?”

Wallahu a’lam.

Ibu seorang mualaf. Beliau mulai menjalankan syariat agama Islam setelah kematian anak keempatnya. Tentu saja keputusan ibu sangat menyejukkan bagi bapak, yang selalu sabar menanti kesadaran dari diri ibu sendiri, tanpa paksaan. 

Saat masih tertatih-tatih belajar menyesuaikan diri dalam beribadah, ibu secara tak sengaja menolong seorang ibu tua yang meminta-minta. Ibu mengulurkan bantuan, lalu si ibu tua itu memegang erat tangan ibu dan berkata, “Nanti kamu akan berangkat ke Tanah Suci, Nduk.”

Ibu tersenyum mendengarnya.

“Mudah-mudahan Mbah, walaupun kedengarannya sulit karena suami saya cuma pegawai biasa dan anak kami banyak. Terima kasih doanya, dan maaf saya hanya bisa memberikan sedikit.”

Si ibu tua berjalan tertatih-tatih hingga hilang dari pandangan. Ibu masih tersenyum simpul, mengingat diri sendiri belum paham betul tentang agama Islam, suami hanya pegawai biasa dan saat itu telah memiliki enam orang anak.

Tahun demi tahun berlalu, ibu pun telah berusia lanjut, 82 tahun, tanpa bapak disisinya lagi. Laksana petir yang menyambar, anak tertua ibu memberangkatkan ibu ke tanah suci.

Proses keberangkatan tidak berjalan mulus. Faktor usia dan kondisi kesehatan usia lanjut menjadi pertimbangan dokter. Saat pemeriksaan kesehatan, ada dua orang dokter yang menangani. Satu dokter menyarankan ibu untuk mengurungkan niatnya karena khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun dokter yang satu lagi justru berkata, “Ibu, saya tahu ini keinginan terbesar ibu yang pertama dan bisa jadi yang terakhir. Silakan ibu niatkan semua karena Allah, pasti akan diberikan yang terbaik.”

Subhanallah. Rencana berjalan baik dan ibadah pun dijalani dengan lancar ditemani anak kedua ibu.

Ibu pun pulang dengan selamat dan berkumpul kembali dengan keluarga di tanah air. Kini ibu telah berusia 87 tahun, dan alhamdulillah sehat wal’afiat. 

Setiap ibu teringat akan proses ibadah hajinya, maka perkataan si Ibu Tua diulang juga. 

Kita sebagai muslim tidak boleh mempercayai ramalan masa depan. Perkataan ibu tua itu bisa saja di ijabah Allah seiring sedekah yang ikhlas yang telah ibu lakukan, walaupun terealisasi bertahun-tahun kemudian. Hadiah terindah dari Sang Pembolak balik hati, atas keteguhan iman ibu untuk istiqomah dijalan-Nya.

Wallahualam bishawab

rumahmediagrup/hadiyatitriono