Perempuan Kepala Keluarga

::Perempuan Kepala Keluarga::

Tak sengaja pagi ini membaca sebuah editorial dari media cetak. Ada sebuah tema yang menggelitik saya sejak awal majalah itu sampai di meja tempat saya biasa bercengkrama dengan sahabat cantik.

Yup, sebuah judul terpampang di depan sampul majalah tersebut, “Perempuan Kepala Keluarga.” Ternyata fenomena perempuan yang menjadi kepala keluarga memiliki prosentase cukup banyak di nusantara kita. Hal ini berdasar data statistik beberapa tahun lalu, bahwa rumah tangga yang dikepalai oleh seorang perempuan mencapai 13,60% atau sekitar 6 juta dari 30 juta penduduk. Kecenderungannya terus meningkat setiap tahun dengan rata-rata 0,1% per tahun. Sekarang ini mungkin sudah bertambah.

Perempuan kepala keluarga adalah fakta nyata di lapangan, yang tidak bisa kita lihat hanya dengan sebelah mata. Salah satu yang masuk dalam kategori ini adalah kaum janda.
Secara bahasa “janda” berarti perempuan yang tidak bersuami lagi, baik karena cerai atau ditinggal mati suaminya. Dalam terminologi Alquran disebut dengan kata “tsayyib” (tsaba-yatsuubu-tsayyibun) yang berarti kembali. Kata tsayyib berarti perempuan yang telah menikah, kemudian satusnya menjadi sendiri karena berpisah dari suami setelah dikumpul, baik karena cerai atau ditinggal mati.

Yang terjadi kemudian di masyarakat kita pada istilah “janda” memiliki konotasi negatif. Terlebih untuk wilayah Jawa Barat, kata janda cenderung dilihat dari segi seksualitas, stigma sebagai penggoda, dan suka mengganggu suami orang. Percaya tak percaya itu adalah fakta di lapangan. Yang pecicilan laki-lakinya tetapi yang dicap buruk adalah perempuan yang notabene adalah janda.

Namun berbeda pada masyarakat di wilayah Aceh, janda lebih dihormati, dan warga Aceh sangat respek kepada janda yang miskin. Karena mereka meyakini satu nilai, apabila menyantuni janda dan anak yatim, akan mempunyai status dan nilai yang penting bagi masyarakat.

Di belahan nusantara lainnya seperti di Makassar ada istilah “janda semu”, di Madura familiar istilah “Jamal”, dan lainnya. Semua istilah tersebut mengacu pada perempuan yang mau tidak mau harus menjadi kepala keluarga. Bukan hanya karena ditinggal mati suami, atau bercerai, tetapi juga karena suami yang tidak lagi mampu menafkahi keluarga, atau meninggalkan istri dan anak-anaknya tanpa berita. Termasuk juga perempuan yang tidak menikah di dalamnya disebut sebagai kepala keluarga.

Bolehkah perempuan menjadi kepala keluarga?
Mari kita lihat bersama, kata “al Rijal”dalam Alquran tidak selalu bermakna laki-laki(dalam arti jenis kelamin). Ia bisa bermakna maskulinitas, yaitu sifat kelelakian yang bisa saja dimiliki oleh perempuan.
Pun kata “qowwam” yang berarti pemimpin, maka laki-laki disebut pemimpin ketika ia memberi nafkah kepada istrinya. Kalau dia tidak memberi nafkah, bisa jadi perempuan adalah pemimpin bagi suaminya. Hal ini juga berdasar dari kaidah ushul fiqh yang berbunyi, “alhukmu yadullu ma’a illati wujudan au adaman” (hukum itu tergantung kepada illatnya).

Perempuan-perempuan kepala keluarga sejatinya adalah pejuang di keluarganya. Merekalah pengambil keputusan, pencari nafkah utama, penyambung hidup seluruh anggota keluarganya. Mereka menjadi janda sebab ditinggal mati oleh suami, ditinggalkan begitu saja, terpisah karena konflik atau peperangan. Karena itu banyak teks atau hadis yang mendorong untuk menyantuni mereka.

Lantas bagaimana sebaiknya menolong kaum “janda” dan “perempuan kepala keluarga” untuk keluar dari kesulitan hidup mereka?
Orang-orang yang diberi akal dan budi pekerti tinggi tentunya mampu memberi pertolongan yang layak dan baik. Bukan menolong dengan dalih “mengawini” mereka sebagai alat untuk memanfaatkan status dan situasi sulitnya. Membantu mereka berdaya untuk tetap tegak berdiri menopang kehidupan keluarganya, adalah lebih ahsan ketimbang mengawini tetapi memperburuk stigma janda.

Wallahu a’lam

rumahmediagroup//afafaulia18