Perempuan sebagai Istri yang Memimpin Keluarga

Perempuan sebagai Istri yang Memimpin Keluarga

Perempuan itu terlihat terampil mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mengurus rumah beserta penghuninya yaitu anak dan suaminya. 

Tetangga, teman-temannya, saudara dan kerabatnya tahu kalau dia seorang sarjana, lulusan perguruan tinggi. Semua yang mengenalnya mengernyitkan dahi, bertanya-tanya, mengapa sejak menikah dan mempunyai anak, dia justru meninggalkan karir pekerjaannya.

Bukankah dia bisa memakai jasa pengasuh atau pembantu untuk menyelesaikan urusan rumah tangga? 

Namun, simaklah apa yang dikatakannya.

“Bila kita memiliki perhiasan yang mahal, pasti kita tak kan berani untuk menitipkannya kepada orang lain. Besar resikonya. Apalagi anak,  yang nilainya melebihi perhiasan itu, tentu harus lebih khawatir kan.” 

“Saya ingin menjadi madrasah pertama bagi anak-anak, semoga ilmu dan wawasan yang saya miliki ini bermanfaat.”

Itulah yang sesungguhnya tugas yang paling baik dan mulia bagi seorang ibu.

Ia dapat mendidik sendiri anak-anaknya dan tidak menyerahkannya pada pembantu atau orang lain. Ia telah melakukan tugas utama dalam membentuk masyarakat yang islami.

Rasulullah pernah bersabda yang artinya :  “Istri adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan akan diminta pertanggungjawaban akan hal itu.” (HR. al-Bukhari)

Istri sebagai pemimpin bukan dimaksudkan untuk melangkahi tugas suami sebagai pemimpin keluarga seutuhnya. Istri lebih ditekankan pada mengatur rumah tangga dengan sentuhan kewanitaannya, terutama dalam mendidik anak-anak dan menjadi partner yang baik bagi suami.

Memang, sungguh tak mudah untuk banting setir dan mungkin saja menerima cibiran orang. Untuk mencetak generasi yang bermutu, seharusnya didukung pula oleh panutan yang berkualitas juga, dan itu bermula dari rumah, dari seorang ibu yang berpendidikan. Semakin tinggi tentu akan semakin baik.

Seiring waktu anak-anak tumbuh dan kebutuhan ekonomi juga naik, seorang ibu bisa menjalankan usaha rumahan. Perkembangan teknologi digital akan memudahkan usahanya. Jadi, untuk menguasainya diperlukan pengetahuan, bukan.

Saat seseorang berkata pada anakmu dan kau mendengarnya, “Mamamu sarjana tapi kok tidak bekerja.” 

Tanggapi dengan senyum manismu, mereka tak pernah tahu, pabrik di rumahmu membutuhkan ahli untuk menghasilkan produk kualitas premium.❤

Semua yang kita kerjakan, akan dipertanggungjawabkan kelak. Wallahu a’lam bishawab

rumahmediagrup/hadiyatitriono