Perencanaan Wawancara dalam Kualitatif

Sumber Gambar : http;//www.femina.co.id/

Perencanaan Wawancara dalam Kualitatif

Kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang mengedepankan proses yang alami. Sehingga muncul pertanyaan, perlukah perencanaan untuk turun lapang? Khususnya saat peneliti melakukan wawancara dengan informan. Kalau terjadwal, bagaimana bisa dikatakan alami prosesnya? Menarik untuk didiskusikan.

Secara sederhana, jika peneliti ingin melakukan wawancara, pasti membutuhkan alat. Baik alat rekam, video, pensil, maupun kertas kerja. Dalam konteks wawancara pada penelitian kualitatif, pada peneliti pemula masih sering menggunakan instrumen pertanyaan. Hal ini masih diperolehkan, asal instrumen tersebut hanya digunakan sebagai pedoman atau peta konsep saja. Tidak mengatur secara kaku, dan menghilangkan unsur alaminya.

Wawancara memiliki metode khusus, jika menginginkan hasil yang efektif. Mengumpulan banyak informasi dengan berbagai macam tipe pertanyaan adalah bukan hal yang mudah. Semuanya itu membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Pada umumnya, peneliti tertarik pada pemahaman informan dan mempelajarinya sampai pada ikatan makna tertentu. Demikian akan ditemukan beberapa kejadian dibalik fenomena. Wawancara-wawancara yang dilakukan peneliti akan menyediakan berbagai makna. Ketetapan atas teknik wawancara akan menentukan tipe tertentu yang terhubung dengan cara penyelidikan atas jawaban-jawaban pertanyaan.

Misalnya peneliti ingin mengetahui seberapa sering seorang subjek penelitian menghisap rokok, maka peneliti dapat secara efektif menggunakan pertanyaan layaknya survey biasa saja. Namun, jika peneliti ingin mengetahui mengapa seseorang tertarik pada sensasi merokok, maka peneliti dapat secara efektif untuk mengetahui dari pengalaman sensor emosi yang dirasakan oleh subjek (informan). Nah jawaban atas persoalan ini dapat ditemukan melalui wawancara.

Lalu muncul pertanyaan, apa yang harsu dipertimbangkan dalam melakukan wawancara? Perlu menjadwalkan proses wawancara tersebut? Pertimbangan atas pemilihan teknik wawancara menjadi hal utama yang harus ditentukan peneliti pertama kali. Apakah menggunakan wawancara setengah terbuka? Wawancara terbuka? Hal ini dapat dimaknai bahwa peneliti perlu menentukan perencanaan yang terkait dengan proses wawancara yang akan dilakukan.

Perencanaan dilakukan sebagai langkah awal. Kebutuhan atas kumpulan informasi sebagai data, menjadikan peneliti akan mengembangkan banyak hubungan perencanaan dalam kerjanya. Biasanya memang, instrumen pedoman wawancara akan mengurangi fleksibilitas dalam menangkap karakter yang tidak terlihat. Namun hal ini anggap saja sebagai resiko kerja. Dan ini berlaku pada peneliti pemula. Bagi peneliti profesional sudah bisa melakukan wawancara tidak menggunakan instrumen, mengalir dan sangat terbuka.

Penentuan sifat dasar dari investigasi peneliti menuntut objektivitas. Hal ini akan menjadi acuan pada susunan pertanyaan. Disarankan peneliti menggunakan outline, daftar semua kategori umum yang mereka rasakan yang mungkin sesuai dengan pertanyaan penelitian. Kemudian mengembangkan pertanyaan yang relevan pada kategori outline tersebut. Dibuat dari pertanyaan umum ke khusus.

Pertanyaan yang sudah ada kemudian diurutkan pada susunannya, berdasarkan susunan khusus, pemfrasean, level bahasa. Pertanyaan juga biasanya diurutkan dari tingkat umum, misalnya tentang level sosial dari subyek, sesuai etnis atau karakter budaya, usia, pekerjaan, dan sebagainya. Tapi peneliti tidak boleh pada fokus penelitian. Artinya jangan terlalu umum ya. Hal ini hanya untuk menggambarkan secara umum saja. Belum ke identifikasi khusus.

Penggambaran situasi atas pengalaman dari subyek menjadi langkah selanjutnya. Diperlukan beberapa pertanyaan yang esensinya fokus pada pengumpulan informasi. Instrumen ini dapat dikategorikan pada pertanyaan esensial, pertanyaan tambahan, pertanyaan selingan, dan pertanyaan pemeriksaan.

Pertanyaan esensial yaitu pertanyaan yang sengaja menjadi perhatian khusus sesuai fokus penelitian. Menggali informasi yang diinginkan pertanyaan penelitian. Pertanyaan tambahan dibutuhkan untuk mengecek ketergantungan jawaban antar informan. Pertanyaan ini berbeda dengan yang esensial, lebih kasar dan digunakan untuk mengetahui perubahan jawaban antar informan. Pertanyaan selingan berupa pertanyaan permulaan, yang biasanya tentang demografi. Hanya untuk menggambarkan diri informan secara utuh. Misalnya, “Ngomong-ngomong sudah lama tinggal di sini?”. Sedangkan pertanyaan selidikan adalah digunakan untuk menggambarkan lebih jelas cerita subyek. Penyelidikan seringkali meminta informan untuk mencari apa yang telah mereka jawab sebelumnya. Misalnya, pertanyaan : “Dapatkah Saudara menjelaskan pernyataan yang Saudara katakan tadi?”  “Apa yang terjadi selanjutnya?” dan lainnya.

Seringkali, peneliti menggabungkan berbagai macam pertanyaan tersebut. Susunannya seringkali tidak teratur juga. Yang terpenting adalah susunan pertanyaan digunakan untuk memeroleh informasi selama wawancara. Pertanyaan harus disampaikan secara tepat maknanya kepada informan.

Semoga bermanfaat.

rumahmediagrup/ Anita Kristina