Perginya Emak

Aku mulai gelisah. Menatap semesta yang mulai berwarna jingga, senja kian nyata. Aku masih terjebak di ruang gelap penuh sarang laba-laba, tanpa penerangan sedikitpun. Kanan kiri hanya terlihat perabot rumah tangga yang lapuk, tidak terjamah tangan manusia untuk membersihkan

Kreatif by canva

Tempat ini bukanlah tempat asing, hanya beberapa meter dari rumahku. Seharusnya aku tidak perlu takut, cukup berjalan lima atau tujuh menit aku sudah sampai ke rumah.

Namun mengingat pesan yang disampaikan mbak Harti yang diucapkan dengan penuh penekanan, “Jangan tinggalkan tempat ini sebelum aku datang.” Membuat aku ragu melangkah keluar.

Aku semakin gelisah, apalagi saat terdengar azan magrib berkumandang. Sementara wajah kakak keduaku belum juga terlihat.

“Haruskah aku pergi ?” Pendirian ku mulai goyah, melihat keluar gelap semakin mendominasi.

Rasa kesal mulai menjalar, Mbak Harti yang pamitnya hanya pergi sebentar, nyatanya hingga azan magrib berkumandang belum juga kembali.

Aku menarik napas berat, otakku mulai mencari alasan untuk meninggalkan tempat ini. Beribu alibi berebut di otak, kemungkinan-kemungkinan mengantarkan aku pada kebulatan tekad, aku harus pergi.

Pelan kaki ku melangkah, melewati banyak puing reruntuhan bangunan tua ini. Tekadku semakin kuat untuk keluar, meski kakiku tersandung benda yang tidak dapat aku kenali karena gelap.

Akhirnya aku dapat melewati semua rintangan, dan berhasil keluar rumah tua dengan selamat. Setengah berlari aku menuju rumahku, perasaan gelisah dan takut sangat mendominasi. Sesuatu yang tidak aku inginkan sedang terjadi.

Mataku menatap rumah gelap didepanku penuh selidik, isya hampir datang, rumah didepanku masih gelap. Dimana emak ?, Kakiku melangkah semakin cepat.

Knop pintu aku buka kasar, tidak ada suara terdengar.

“Emak”

Masih sunyi tidak ada jawaban. Pandanganku tertuju pada kamar besar di sudut ruangan, mulutku merancau, aku kawatir sesuatu terjadi pada emak.

“Emak ?” Daun pintu dari kayu jati itu, aku ketuk pelan. Tidak ada jawaban.

“Emak.”

Aku mendorong kuat pintu, tidak terkunci. Didalam kamar masih gelap, tanganku mencari tombol stop kontak untuk menyalakan lampu.

Emak tidak terlihat. Hatiku semakin kacau, membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi seperti dalam sinetron.

“Emak”

Kakiku melangkah ke kamar mandi, melewati ruang makan yang juga masih gelap.

“Emak…” Mataku terasa panas, semakin takut sesuatu telah terjadi.

Kamar mandi didepanku terlihat sunyi, tidak menunjukkan tanda emak disana.

“Emak, ” tanganku mendorong pintu dari fiberglass itu pelan. Mataku membulat sempurna, bak kamar mandi penuh baju emak. Baju-baju itu terlihat acak dilempar, beberapa baju malah tergeletak dilantai kamar mandi.

“Emak… Emak….”

Tangis ku pecah, aku berteriak histeris. Kakiku menendang lantai asal, menimbulkan suara bunyi bak prajurit sedang perang.

“Bund… Bunda, bangun.”

Aku merasakan tangan memeluk tubuhku, dan mencengkeram kakiku pelan.

“Bangun.”

Aku membuka mata kecil, menatap sosok berbeda dari yang baru bersamaku.

“Apa ?”

“Ngapain juga bunda tidur nendangin aku.”

Aku mengerjab tidak percaya, jadi tadi aku mimpi 🤭.

Rumahmediagrup/srisuprapti