Perjuangan Keluarga Pesantren

Satu pekan lalu, si Mas nelpon dan laporan kalau lagi sakit panas, batuk dan pilek. Suara yang memelas di seberang sana, meminta izin untuk pulang.

Kalau dari suaranya rasanya insya allah masih bisalah ditangani Adib sendiri menurut pikiran saya.
Kami memang sudah menyiapkan obat untuk beberapa penyakit yang mungkin terjadi di sana.

Alhamdulillah, dengan memberikan semangat, energi positif dan terapi seft 2 putaran Mas
Adib bisa tenang dan menguasai dirinya lagi.

“Ada saatnya sebuah masalah harus Adib atasi sendiri. Karena belum tentu Ibu dan Bapak bisa selalu menemani Adib.
Dan kali ini Ibu yakin Adib bisa mengatasi ini.
Adib anak yang kuat, Adib anak yang hebat.”
Selalu saya berusaha menguatkan Adib di sana.

Alhamdulillah Amy Mubarak Azmi bersedia menengok Adib walau dalam kesibukannya malam itu. Dan Adib makin tenang.

Siang ini, Adib menelpon lagi. Hari Sabtu kemarin semua anak kelas l mengikuti perkemahan selama 3 hari. Selama Adib kemah, saya menambah porsi doa untuknya, karena cuaca yang cukup ekstrim dan keadaannya yang baru saja sakit. Dan Alhamdulillah saat ditelpon tadi ia dalam keadaan sehat.

Namun tangisnya tiba-tiba pecah
“Adib cape banget, Bu.
“Cucian banyak.”
“Barang-barang Adib ada yang hilang.”
“Teman-teman pada pulang”
“Adib mau pulang. ”

Kudengarkan dengan hati yang juga sangat terluka. Hingga ia puas merilis semua uneg-unegnya baru aku dan Bapaknya bergantian bicara.

Adib adalah orang yang sangat memegang amanah. Pada saat ada barang yang hilang ia akan sangat sedih karena itu adalah amanah Ibu dan Bapak untuk dijaga.
Ia tidak ingin membebani orangtuanya dengan harus mengeluarkan uang lagi untuk mengganti barang-barang yang hilang.

Aku dan Bapaknya meyakinkan bahwa semua barang, uang itu adalah milik Allah. Saat Allah ingin mengambilnya. Ya akan diambil dengan caranya yang kita tidak tahu. Dan Ibu yakin Adib telah menjaga barang Adib dengan baik. Jadi ihlaskan saja. Begitulah cara Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Cucian yang banyak, bisa diloundrykan, kalau memang tidak mau diloundry ya dicuci sedikit-sedikit aja. Biar ga tambah capek.

Tapi ternyata itu belum membuat Adib tenang, ia masih tersedu di seberang sana.
Akhirnya kulakukan terapi SEFT jarak jauh, 1 kali putaran tangisnya makin pecah, 2 kali putaran mulai agak tenang. Dan pada putaran ketiga Alhamdulillah, bisa kurasakan suaranya yang jauh lebih tenang dan kuat.

Kami berpelukan dalam bayangan,
“Bayngkan ya Nak Ibu sedang memelukmu, rasakan betapa lega hatimu saat kita berpelukan dalam diam.”

Kalau dibilang kangen, Ibulah yang paling ingin segera memelukmu dalam nyata. Namun kita harus menahan rindu ini sesaat lagi ya Nak.
Ada saat kita harus terisak dalam kangen yang luar biasa.
Ada saat lelah tubuh tak dapat menguasai akal.
Ada saat dimana kita ingin lari dari situasi ini.

Ibu tahu, Adib anak yang kuat, dan untuk menjadi kuat, harus melewati banyak hal.
Salah satunya adalah yang saat ini sedang terjadi. Kemarin saat sakit, Adib sudah bisa atasi dan kali inipun Ibu yakin Adib mampu melaluinya.

Dan yang jangan pernah Adib tinggalkan minta sama Allah,, agar dihilangkan capenya, dimudahkan dalam menyelesaikan cucian dan melaksanakan kegiatan pondok. Karena Allah pasti akan bantu Adib kalau Adib yang meminta.

Ibu dan Bapak tak kan pernah putus mendoakan Adib agar bisa kuat dalam menjalani perjuangan panjang ini. Insya allah, Nak.

Telpon ditutup dengan kata-kata Adib yang makin membuat ikatan hati kami semakin kuat.
“Adib sayang Ibu”

“Ibu juga sayang kamu,, Nak.”

Semoga Allah selalu menjagamu. Amin Ya Rabbal alamin.

Sebamban, Bumi Bersujud

Rumahmediagrup / Hamni Azmi

#perjuanganhidupkeluargapesantren