Perjuangan Nek Iroh

Duduk di bawah salah satu pojok kios di tengah pasar, Nenek Iroh kali ini berjualan petai atau pete. Gurat keriput diwajahnya terkalahkan dengan semangatnya untuk tetap bisa bertahan hidup. Tinggal di sebuah kontrakan kecil bersama sang cucu.

Menawarkan dagangan kepada siapa saja yang lewat di depannya. Hanya beralaskan terpal dekil untuk meletakkan dagangannya. Barang dagangan Nek Iroh selalu tak sama semua tergantung dari pasokan barang yang ada.

Pakaian bekas, buah-buahan dan sayuran pernah dijajakannya. Yang terpenting baginya, memperoleh penghasilan agar ia dan cucunya dapat makan dan bayar kontrakan.

***

Setiap hari Minggu saatnya belanja kebutuhan dapur selama satu minggu. Aku selalu menyempatkan membeli apa saja yang dijual oleh Nek Iroh. Meskipun barang yang telah kubeli tak begitu kubutuhkan.

Namun ada saja pembeli yang dengan tega menawar dagangan Nek Iroh dibawah harga yang ditawarkannya. Bahkan mereka tega mengambil lebih barang dagangan Nek Iroh. Namun Nek Iroh membalasnya dengan senyuman dan gelengan kepala.

Melihat semangatnya dalam bertahan hidup menjadi pelajaran bagiku. Betapa aku harus banyak bersyukur dalam hidup. Mengeluh saat pekerjaan menumpuk, mengeluh saat sesuatu tak sesuai dengan yang direncanakan. Harusnya kutepiskan jauh-jauh perasaan itu.

Hari ini Nek Iroh menjual pete dan ia memberiku empat papan pete. “Ini neng dapat empat. Kasihan kamu neng, gak pernah nawar,” ujar Nek Iroh sambil menyodorkan empat papan pete yang sudah diikat karet.

“Makasih, Nek,” sahutku sambil tersenyum simpul. Segera kumasukkan pete ke dalam kantong belanja dan beranjak meninggalkan Nek Iroh. Ketulusanmu semoga menjadi pahala kebaikkan bagimu.

Sumber foto : Koleksi Pribadi

rumahmediagrup/ She’scafajar