Perjuangan Panjang Selama Hampir 8 Tahun Mendidik Anak Lelaki yang Suka Buku

Perjuangan Panjang Selama Hampir 8 Tahun Mendidik Anak Lelaki yang Suka Buku

Oleh: Ribka ImaRi

Anak lelaki keren adalah anak lelaki yang berkarakter “No Gadget” saat di luar rumah. Ya, itu cita-citaku dari sebelum punya anak. Menjadi kenyataan, ketika hampir 8 tahun usianya, Tyaga memang belum pernah satu kali pun memegang smartphone punya ayah dan bunda atau tablet saat kami sedang berpergian.

Aku dan suami memang mendidiknya untuk nyaman menjadi diri sendiri sedari kecil. Menjadi anak lelaki yang belajar membiasakan diri mengobrol dengan ayah dan bunda. Pun, membaca buku atau membaca apa saja yang bisa dimanfaatkan di waktu senggang.

Meskipun lingkungan sebayanya yang kebanyakan terbiasa memegang smartphone atau tablet. Karena sejauh mata memandang di tempat umum seperti di mall, di RS, bahkan di sekolah pun, tak jarang dijumpai anak yang tengah sibuk melihat HP milik orangtuanya, baik sendirian maupun beramai-ramai.

Sungguh sangat tak mudah untuk bisa sampai di titik sekarang ini. Melawan arus zaman. Dimana semua berawal dari dalam rumah. Dahulu semasa Tyaga bayi belum genap usia satu tahun, godaannya adalah gadeget milik ayah dan bunda. Yang begitu menarik bagi Tyaga bayi. Namun, sekarang godaannya adalah ayah dan bunda yang tak bisa lepas dari gadget karena urusan pekerjaan.

Pernah … sangat pernah Tyaga dan adiknya, Jehan protes karena keduanya berbeda dengan anak-anak lain di lingkungan tetangga dan lingkungan di TK dulu. Pun sangat sering bertanya, “Kenapa ayah bunda mainan HP?” Kami membahasnya bersama. Penyebab ayah dan bunda tegas mengatur penggunaan gadget. Karena saking sayangnya dengan otak Tyaga dan Jehan. Supaya bisa bertumbuh dan berkembang secara optimal dahulu selagi kecil. Melalui banyak mengobrol dengan ayah dan bunda tentang banyak hal yang ada di sekitar. Banyak berinteraksi dengan lingkungan dan mengamati sekitar.

Sebenarnya Tyaga Jehan sudah tahu betul aturan ayah dan bundanya yang tidak akan tergoyahkan meski keadan rewel seperti apa pun. Dari mulai merayu, merengek sampai jelang menangis minta lihat youtube seperti teman-temannya.

Hanya saja terkadang Tyaga dan Jehan tetap mencoba mencari celah aturan yang sudah kami sepakati bersama. Aturan “sekali tidak tetap tidak.” Walaupun ayah dan bunda harus menahan malu dan amarah saat Tyaga dan Jehan merengek semasa fase tantrum-nya di tempat umum. Jika di rumah, tak jarang ayah bunda pernah ikut tantrum saat menangani tantrum Tyaga dan Jehan yang minta gadget.

Beratnya berjuang untuk tetap konsisten meski terseok-seok. Berusaha kembali sabar memberi pengertian dan berusaha telaten menemani Tyaga dan Jehan membaca buku demi keduanya tumbuh kesadaran suka buku.

Sekarang Tyaga telihat begitu sweet seperti yang di foto. Alhamdulillah perjuangan panjang untuk tetap Sabar, Konsisten, Sabar dan Telaten (SKST), akhirnya berbuah manis.

Beberapa waktu lalu, saat Tyaga ikut ayah bekerja menemui dokter di hari Sabtu pagi dan lanjut ke bengkel motor, Mas Tyaga mengiyakan begitu saja ketika Bunda sounding membekali dua buku dari rumah. Satu buku Little Abid dan satunya lagi buku cerita Si Kancil. Mas Tyaga manut dan mengerti. Karena sudah paham aturan ayah bunda sejak dulu batita “tidak ada mainan gadget selama bepergian dari mulai keluar rumah sampai tiba di rumah lagi”

Alhamdulillah berkat kekuatan dari Allah Swt, ayah dan bunda akhirnya bisa tetap kompak mendidik Tyaga dan Jehan selama ini. Sejak bayi, batita, balita dan kanak-kanak aturan ayah dan bunda tetap sama. Pun, tetap tak pernah lupa untuk selalu berusaha SKST. Selebihnya serahkan penjagaannya kepada Allah Swt yang menjaga amanah titipan-Nya agar tetap menjadi anak yang tidak kecanduan gadget sedari kecil.

-Ribka ImaRi-
“Menulis adalah pengingat perjuangan”