Perlu Penanganan, Jika Sekadar Makanan Bisa Membangkitkan Luka Batin Masa Kecil

Sekadar Makanan, Bisa Membangkitkan Luka Batin Masa Kecil

Oleh: Ribka ImaRi

‘Ribka kecil, jangan iri ya saat melihat kedua anakmu sedang berbahagia bisa makan makanan seperti sekarang ini. Makanan ini semua pasti kau anggap mewah di masa kecilmu. Karena di masa kecilmu dulu serba kekurangan. Bahkan untuk makan tiga kali dalam sehari saja itu sebuah keberuntungan. Sekarang anakmu bisa makan berlimpah seperti ini. Pelan-pelan lepaskan kesedihanmu ya, Ribka. Masa kecilmu memang menyedihkan. Namun bukan berarti kedua anakmu tidak bisa berbahagia seperti sekarang ini. Yuk, fokus di sini dan sekarang untuk menemani Tyaga dan Jehan yang sedang berbahagia. Stop pikiran sedihmu saat teringat masa kecilmu yang pernah kelaparan.’

Panjang lebar Ribka dalam sosok adult self menasihati Ribka yang masih dalam bentuk inner child yang sekelebat terpicu kenangan masa kecil yang kelam. Meski sangat sepele, tentang makan dan makanan. Seperti yang terlihat di foto.

Mengacu pada John Bradshaw (1992), inner child merupakan pengalaman masa lalu yang tidak atau belum mendapatkan penyelesaian dengan baik. Orang dewasa bisa memiliki berbagai macam kondisi inner child yang dihasilkan oleh pengalaman positif dan negatif yang dialami pada masa lalu. Seperti motivasi alam bawah sadar lainnya, inner child juga muncul pada orang dewasa dalam bentuk perilaku atau keadaan emosi yang tidak disadari (unconscious). (https://maxima.id/inner-child-seberapa-penting-sih/)

Hampir jatuh air mataku, jika adult self-ku (jiwa dewasa) tidak segera bilang, “Stop!” kepada inner child-ku (jiwa masa kecil).

Padahal saat itu aku sedang berbahagia menemani kedua anakku yang juga tampak sedang berbahagia melahap hidangan yang dipesan oleh ayah dan bundanya.

Namun, entah bagaimana aku bisa merasa sangat sedih sekali ditambah campur aduk dengan kemarahan yang membuncah. Akan tetapi aku tidak tahu semua perasaan itu aku tujukkan kepada siapa.

Seringkali aku membaca dan mendengar bahkan diri sendiri mengalami, “Badan di sini tapi pikiran melayang ke masa lalu.” Akan tetapi saat itu, pikiranku sangat sulit dikendalikan.

Pikiran yang melayang-layang kepada kejadian masa kecilku 30 tahun silam. Manakala aku selalu kekurangan makanan bahkan kelaparan. Kalau pun bisa makan, kami makan hanya nasi putih pakai garam. Atau nasi putih pakai terasi itu sudah paling beruntung.

Iya, itu aku dulu. Ketika menemani anakku yang sedang makan selalu ada rasa sesak di dada. Sejak mengenal mindfulness parenting, sebuah ilmu mengasuh dengan kesadaran penuh untuk hadir di sini dan sekarang. Membuatku sadar bahwa saat ini seharusnya aku sadar untuk berbahagia 100% menemani anakku yang sedang makan.

Dengan belajar mindfulness sedari Agustus 2016, dibimbing Mentorku Bapak Supri Yatno, perlahan namun pasti, aku mulai menangani satu per satu luka batin masa kecilku. Mengasuh jiwa masa kecilku untuk bisa menerima setiap peristiwa masa kecil dan masa laluku. Sampai aku bisa mandiri menangani sendiri sampai tuntas. Bahkan akhirnya aku pun bisa menjadi mentor dengan berbagi pengalaman menangani inner child-ku sendiri yang bagai benang kusut karena saking banyaknya.

Pada akhirnya semua menjadi pembelajaran hidup untuk memperbaiki pola asuhku terhadap Tyaga dan Jehan. Agar kedua anakku tak perlu mengalami hal yang sama sepertiku, kelaparan disaat jam makan.

Dengan memahami inner child-ku ini, aku jadi bisa belajar mengiring tahapan makan kedua anakku dengan sebaik-baiknya tanpa abai sedikit pun. Membuatku sangat disiplin tentang jadwal makan sejak Tyaga mulai MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) pada usia 6 bulan di bulan September 2012. Hingga kini keduanya berusia hampir 8 tahun dan 5,5 tahun di awal tahun 2020. Aku tetap disiplin menyediakan makan makanan sehat bagi kedua anakku. Pun, mendidik keduanya tertib makan dengan cara yang baik.

Jiwaku yang mendewasa, kembali menasihati jiwa masa kecilku, “Tidak perlu lagi bersedih, marah, iri, cemburu kepada keadaan kedua anakmu, Ribka. Jika anakmi kecukupan makan, berbahagia dan bersyukurlah sebab mereka tak perlu mengalami kesusahan sepertimu. Ayok! Berbahagia bersama mereka!”

Ya, kini aku justru sangat bersyukur atas kenangan kelam masa kecilku. Aku berkembang menjadi ibu yang bersungguh-sungguh dengan segenap jiwa memasak makanan sehat saat sedang dirumah. Pun, selalu memesan makanan dan minuman yang layak dan sehat dikonsumsi oleh kedua anakku ketika sedang makan diluar rumah.

Semua ada hikmah-Nya. Inner child tak selalu berakhir buruk ketika kita mampu menangani dan mengasuhnya dengan baik. Jadi bisa bersyukur, mengambil hikmah-Nya dan menjadikannya pembelajaran hidup. Sebagai bekal perbaikan pola asuh untuk generasi lebih baik.

Sokaraja, 14 Januari 2020

Sumber foto: dokumentasi pribadi

rumahmediagroup/ribkaimari

Ikuti kulwap GRATIS

“Mengenali Inner Child Diri Sendiri, Suami dan Anak dari Hal Sepele dalam Aktivitas Sehari-hari”

Mentor : Ribka ImaRi (Penyintas Trauma Inner Child)

Hari: Jumat, 24 Januari 2020

Pukul: 19-22 wib

Silakan klik tautan di bawah ini:

https://chat.whatsapp.com/Da67YMqinap18vEcLRP6zd