Permudah Jangan Persulit

pixabay

Permudah Jangan Persulit

“Mudahkanlah setiap urusan dan janganlah kamu mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kamu membuatnya lari, dan bersatu padulah!”

(HR. Bukhari no. 5659)

Rasulullah menyabdakan ribuan tahun silam untuk memudahkan sesuatu, jangan mempesulit. Sudah fitrahnya bahwa manusia menyukai kemudahan serta kesederhanaan. 

Ajaran Islam sedemikan agung, memahami karakter dasar manusia yang menyukai kemudahan dan itu diejawantahkan dalam ajarannya yang memerintahkan umatnya untuk mempermudah suatu urusan serta jangan dipersulit.

Lantas apa hikmahnya kita diperintahkan untuk memudahkan sesuatu? Salah satu hikmahnya adalah untuk memompa semangat dalam mengerjakan hal tersebut, sehingga meminimalisir terbengakalai di tengah jalan alias tidak rampung.

Sesuatu yang bernuansa memudahkan akan menstimulus daya gerak untuk mengerjakannya sampai selesai, memberi rasa asyik dan pada level yang lebih tinggi sampai pada tahap menciptakan kenikmatan. Itulah rahasia seseorang betah berjam-jam lamanya menekuni satu pekerjaan tertentu. Bagaimana? Siap untuk memudahkan?!

Nah, sekarang bagaimana agar kemudahan tercipta terhadap sesuatu? Ya, tentu saja dengan memerlukan serangkaian analisis kecil-kecilan ditopang eksperimen maupun usaha ekstra untuk mengcreate sesuatu itu menjadi mudah. Segala sesuatu perlu perjuangan, betul kan, Bro? Terlepas apakah perjuangan itu berat atau ringan, namun satu hal yang pasti, keberhasilan yang pada akhirnya diraih akan memberi rasa sejuta makna.

Itulah sebabnya di dunia ini, setiap produsen berlomba-lomba menciptakan produk-produk yang dari waktu ke waktu berisi penuh kemudahan. Bukan tanpa alasan, hal itu agar produknya diminati dan terbukti memang laris manis di pasaran. Islam telah mengajarkan konsep kemudahan ini berabad-abad silam. Akankah kita selaku umatnya menyerap dan mengaplikasikan spirit ini ataukah umat lain?

Selagi sesuatu itu bisa dibuat mudah, maka jangan dipersulit. Selagi kemudahan itu tidak melanggar syariat, maka itu yang harus diutamakan. Hal tersebut sebagai bentuk merealisasikan ujaran Rasulullah yang berdasarkan wahyu (HR. Bukhari no. 5659).

Memudahkan juga bila dilandasi niat yang benar akan berbuah pahala, lho. Maksudnya bagaimana? Iya, karena kemudahan itu akan menolong orang lain dari kesulitan sekaligus membuatnya senang dengan adanya kemudahan itu,  bukankah menolong dan menyenangkan orang itu ganjarannya pahala? Tuh, double deh dapat pahalanya, he….!

Tidak hanya pahala yang didapatkan, tetapi mendapatkan nilai plus yang lain, yakni kesehatan. Berdasarkan riset medis, bahwa 90% kesehatan itu itu bukan diperoleh dari apa yang kita konsumsi atau olah raga yang kita lakukan, akan tetapi dari perasaan yang bahagia. So, siapa yang ingin  sehat, maka mesti bahagia kehidupannya dan salah satu jalan kebahagiaan itu ialah dengan cara menyenangkan orang lain melalui kemudahan-kemudahan yang kita berikan kepadanya.

Negeri ini sudah saatnya –sebagai contoh sektor pendidikan- untuk menciptakan kemudahan-kemudahan dalam implementasi di lapangan (eks. metode pengajaran), apabila siswa sudah merasa mudah memahami materi melalui sajian metode dari para gurunya, maka tidak akan menimbulkan kebosanan dalam belajar, pada akhirnya prestasi demi prestasi pun akan diukir.

Di sini dituntut kreativitas dari semua bidang dan dari semua pihak/stakeholder untuk mengolah “produk” yang berprinsip kemudahan. Diharapkan “perlombaan” ini menjadi mercusuar peradaban. Wallahu ‘alam.  (rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Tinggalkan Balasan