PILU DALAM SEMANGKUK BAKSO

Pilu dalam Semangkuk Bakso

Seharusnya rasa bakso itu enak sekali. Apalagi dinikmati saat masih hangat bersama orang terkasih. Sedikit tak membuat kurang jika disyukuri, banyakpun tak mengenyangkan jika dicaci.

Perempuan paruh baya itu hanya termenung, ada gurat keletihan di wajahnya. Kelopak matanya masih menitikan kilau kesedihan. Sebelum akhirnya dia melanjutkan lagi pekerjaannya sebagai pedagang sayur di sudut pasar tradisional.

Bu Lasmi biasa kupanggil beliau, ramah dan santun prilakunya, sehingga banyak pelanggan yang berbelanja sayur di lapaknya. Prinsip berdagangnya sangat sederhana, tidak mengambil untung banyak asalkan semua bisa habis terjual jadi tidak mubazir.

Keseharian Bu Lasmi tak lepas dari sayuran pensuplai dapur para ibu. Beliau akan datang membuka lapak sebelum subuh dan kembali ke rumah menjelang duhur.

Tak terhenti sampai di situ, selepas duhur beliau akan beraktifitas kembali. Mengolah sayuran sisa menjadi makanan jadi, seperti pecel, urap, bakwan dan sebagainya, seusai menunaikan solat ashar beliau akan berkeliling menjajakannya. Sungguh seorang wanita pejuang keluarga.

Bu Lasmi bukannya tidak bersuami sehingga beliau harus mengupayakan semua kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya sendirian. Ada orang yang mendampinginya yang disebut suami, namun entah kesabaran apa yang Tuhan anugrahkan pada Bu Lasmi, sehingga tetap bertahan mendampinginya, walaupun ukuran prediksi manusia, Bu Lasmi bisa saja pergi meninggalkannya, toh Bu Lasmi perempuan yang mandiri.

Laki- laki itu taat beribadah, namun ada yang salah pada dirinya. Tidak mengikuti cara Rosulnya dalam memperlakukan perempuan yang dipinangnya dengan sumpah agama. Acapkali terlihat di pasar tempat Bu Lasmi berjuang mencari dana kehidupan, dengan seenaknya membentak Bu Lasmi jika ada hal yang tidak disukainya, seperti biasa Bu Lasmi hanya terdiam, tidak membantah atau mencari pembenaran dengan beralasan. Kembali hanya bisa kusaksikan bulir bening di sudut matanya.

Kedua anaknya sudah berhasil dengan pendidikan tinggi, santun prilakunya seperti Bu Lasmi. Keduanya hormat dan patuh pada kedua orangtuanya, entahlah apakah kepatuhan itu tetap ada ketika Bu Lasmi pergi mendahului menuju alam baka, karena yang kutahu sosok bapak mereka begitu banyak melukai hati, dengan lisannya yang tak pandai bertutur santun dan lembut.

Berapapun rezeki yang diperoleh Bu Lasmi, terkadang tak sempat berpikir untuk kebutuhannya sendiri, dia akan selalu menikmatinya bersama orang- orang terkasihnya.

Seperti hari ini, semangkuk bakso yang di bawanya pulang kerumah untuk dinikmati bersama, ternyata tidak sesuai dengan yang diinginkan suaminya. Suapan pertama masih bisa dinikmati Bu Lasmi dengan rasa syukur mengurangi rasa laparnya, suapan berikutnya diiringi dengan cacian mulut suami yang tak henti untuk semangkuk bakso hasil jerih payahnya. Bisa dibayangkan betapa makanan itu harus di habiskan supaya tidak mubazir sementara telinga terus bertahan mendengar cacian dari seseorang yang harusnya menjadi teladan dan pemimpin dalam keluarga.

Ketegaran dan ketabahan Bu Lasmi dengan kisah pilu dalam semangkuk baksonya, hanya bagian kecil saja yang terlihat, entah sudah berapa banyak kisah pilu yang di simpannya. Aura ketabahan itu yang membuat tenang perilaku pembawaannya. Setiap kesulitan hidup selalu berhasil dilaluinya seperti lolos dari lubang jarum. Tuhan memberikan banyak hadiah atas ketabahan dan kesabarannya menjalani hidup, mendampingi orang yang seharusnya mengayomi, mencukupi dan memperlakukannya dengan lembut dan santun.

Lelaki itu tetap dalam kefaqirannya, kesombongan hatinya menutup untuk mendapat hidayah. Ibadahnya tak menolongnya menjadi lebih baik. Kalau saja dia tahu, kunci pembuka kesusahannya ada di dekatnya. Memperlakukan wanita yang telah dinikahinya dengan janji yang sakral dengan segala pemenuhan akan haknya, pintu- pintu itu akan terbuka dengan lebar.

Bu Lasmi, mungkin tidak semua wanita akan dapat bersikap dan berperilaku sepertimu, namun keteladanan akan kehidupanmulah yang akan membawamu pada kemuliaan.

rumahmediagrup/anisahsaleh

Pixabayphoto

7 comments

      1. Iya mba.sama persis.hanya settingnya beda.ibuku pedagang dipasar.selama 40 tahun pernikahan mamaku menafkahi bapakku. Tp saat mamaku sakit, disia2, tak pernah 1 kalipun dirawatin. Aku tanya knp mama ga ninggalin bapak aja? Jwabnya karena takut sama Tuhan.

Comments are closed.