PITA HITAM

Pita Hitam



Beberapa hari terakhir ini, beranda Facebook, Instagram, dan beberapa grup whatsapp yang saya ikuti penuh kembali dengan berita mengenai beberapa perawat yang gugur dalam bertugas sebagai tim medis untuk pasien positif Covid-19.

PPNI menyampaikan total semua perawat yang gugur hingga saat ini sudah 12 orang. (suara.com)

Sedih pastinya. Di antara semua berita sedih itu, ada satu yang begitu menggetarkan jiwa siapa pun yang mendengar, membaca, dan melihatnya.

Saya pun menangis!

Tentang salah satu suster yang meninggal karena pandemi corona yang tidak diterima jasadnya oleh segelintir warga yang tidak memiliki hati nurani.
Alih-alih diberi penghormatan terakhir, yang ada jenazahnya justru ditolak untuk dikuburkan di tanah pemakaman umum.

Rasa marah, geram, bahkan hujatan kepada mereka yang telah menolak pemakaman, datang silih berganti dari banyak orang setelah melihat berita ini. Betapa tidak, disaat itu beliau justru sedang mempertaruhkan nyawanya sebagai tim medis di garda terdepan demi menunaikan panggilan ibu pertiwi.

Padahal, ulama dan para dokter telah memberikan pencerahan dalam hal pemulasaraan pasien meninggal akibat virus corona ini. Tidak perlu ada yang ditakuti dan tidak akan ada penularan.

Sayang, mata hati dan rasa ketakutan yang berlebihan membuat sebagian orang menjadi buta mata dan buta hatinya.

Doa-doa melangit. Isakan kepiluan dari seorang ibu yang kehilangan dan derai airmata dari suami telah mengiringi kepergiannya. Andaikan mereka bisa meminta, bukan seperti ini yang diharapkan. Tapi mereka telah mengikhlaskan orang terkasih kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan.

Jangan tangisi kematiannya, Bu!
Jangan ratapi kepergiannya, Mas!

Insyaa Allah beliau husnulkhatimah. Kematian yang syahid. Pertemuan yang Allah rindukan akan Hamba-Nya yang terpilih. Biarlah jasadnya dikubur di tempat lain, dimanapun itu tetap bumi milik Allah.
Sekali lagi, Insyaaallah syahid!

Hari ini pita hitam sudah tersemat di dada dan lengan para rekan tim medis lainnya.Semangat Suster Nuria Kurniasih dan para perawat yang telah gugur membekas di sanubari mereka. Para dokter, perawat, tim medis dan nakes akan tetap berjuang melawan wabah ini hingga usai. Sampai kapan? Entahlah.

Semoga badai ini cepat berlalu.

Andai saja mereka tahu bagaimana rasanya menjadi tim medis yang masih bertahan di saat wabah Covid-19 merajalela.

Lelah dan lapar, terbatasnya asupan vitamin, kekurangan APD, menahan diri untuk tidak makan, minum, dan pergi ke toilet pada saat menggunakan APD, bahkan keselamatan mereka pun di dalam RS belum tentu terjamin. Bisa jadi mereka mendapatkan perlakuan yang tidak terpuji dari pasien positif yang mungkin sudah patah semangat dan merasakan kematian sedang menunggunya.

Diludahi, dimaki, bahkan digigit dan dirusak APD-nya sebagian perlakuan yang sering diterima para tim medis. Jangan kira mereka mendapat makanan sesuai kaidah kesehatan dan bisa makan enak dengan tenang, kadang nasi box basi pun diterima dengan sukacita. Belum lagi harus jauh dari keluarga tercinta.

Sementara, kondisi wafat pun sangat menyedihkan. Tidak ada tatapan, pelukan bahkan ciuman terakhir dari orang dan keluarga tercinta. Bahkan jasadnya tidak bisa dipulasara oleh anak dan ahli warisnya. Tidak ada yang menuntun membaca kalam-kalam Allah di telinganya. Hanya ada mereka, teman sejawat yang menjadi saksi akan kesendirian menghadap Rabbnya.

Saya menangis lagi!
Kali ini teringat putri sulung yang sampai saat ini masih di Wisma Atlet Kemayoran.

Salam hormat untuk para dokter, tim medis, tenaga kesehatan yang sampai saat ini tetap bertahan di garda terdepan dalam memerangi Covid-19.
Semoga Allah mencatat setiap kebaikan dan amal shaleh yang telah kalian berikan kepada negeri.

Allah …
Lindungi mereka!
Kuatkan pundak dan jiwanya!
Sehatkan raganya!
Kembalikan mereka kelak ke keluarga tercintanya tanpa ada tangisan kesedihan.

Picture dari Facebook

rumahmediagrup/irma

2 comments

Comments are closed.