Plastik, Dibenci Tapi Dirindu

Plastik, Dibenci Tapi Dirindu

Sobat Cilik Rumedia, mari kita berimajinasi sejenak. Bayangkan kita hidup di dunia tanpa plastik. Kue yang kalian beli di warung dibungkus dengan kertas atau daun. Botol minum yang kalian bawa ke sekolah mungkin terbuat dari kaca, atau bila khawatir pecah bisa terbuat dari bambu. Tidak ada piring plastik bergambar tokoh kartun kesayanganmu, bahkan tidak ada boneka Barbie atau mobil balap remote control. Hmm, bagaimana rasanya, ya?

Plastik memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Di setiap sudut rumah kita menemukan benda yang terbuat dari plastik, sebagian atau seluruhnya. Sebetulnya apakah plastik itu, dan dari mana asalnya? Kita telusuri, yuk.

Plastik pada umumnya dibuat dari bahan bakar fosil. Minyak bumi, batu bara dan gas alam termasuk bahan bakar fosil. Untuk membuat plastik, bahan bakar fosil ini dipanaskan sehingga atom-atom hidrogen dan karbon di dalamnya saling menyatu, seperti kalung mutiara. Rangkaian panjang atom hidrogen dan karbon inilah yang membuat plastik memiliki sifat-sifat khas yang tidak ditemukan pada bahan lain. Hasilnya adalah adonan liat yang disebut resin.

Resin plastik ini sangat mudah dibentuk dan dicetak. Bahkan istilah “plastik” itu sendiri berasal dari bahasa Latin plasticus yang berarti dapat dicetak. Bila ditambahkan bahan-bahan lain ke dalamnya, plastik dapat menjadi sekeras batu, sekuat baja, sejernih kaca, seringan kayu, dan bahkan selentur karet. Itulah sebabnya plastik banyak digunakan untuk membuat berbagai benda kebutuhan sehari-hari. Selain itu plastik juga tahan lama dan tidak akan berkarat walaupun sudah berumur ratusan tahun.

Sayangnya, sifat plastik yang tahan lama ini ternyata membawa akibat buruk bagi lingkungan. Saking awetnya, benda plastik yang sudah dibuang akan menjadi sampah yang paling sulit terurai. Sebuah botol sampo akan bertahan selama 600 tahun sebelum hancur. Itu pun komponen terkecilnya tetap tidak bisa diuraikan oleh alam, sehingga menjadi sampah abadi yang mengotori bumi kita.

Nah Sobat Cilik Rumedia, bayangkan kalau kita setiap hari membuang sampah plastik. Sehelai, dua helai atau mungkin lima helai. Coba perhatikan juga sampah di rumahmu. Berapa banyak yang terdiri dari plastik? Itu baru dari satu rumah. Jika kita menghitung sampah plastik dari satu RT, satu RW dan seterusnya, terbayang kan, berapa banyak sampah plastik yang dihasilkan. Ke mana sampah-sampah itu pergi? Mereka memenuhi tempat pembuangan sampah akhir. Tidak bisa dibakar karena akan menghasilkan gas beracun, tidak bisa dikubur di tanah karena tidak akan hancur sampai ratusan tahun. Hmm, enaknya diapakan nih?

Beberapa jenis plastik dapat didaur ulang. Kalian bisa membantu memperbaiki keadaan dengan memisahkan sampah plastik dari yang lainnya, lalu membawanya ke tempat daur ulang. Jika tidak ada, kalian juga bisa memanfaatkan kembali plastik yang sudah terlanjur ada di rumah untukberbagai keperluan. Dan yang terakhir, kalian bisa menolak untuk menggunakan plastik setiap kali berbelanja. Bawalah kantong belanja sendiri yang dapat digunakan berulang-ulang.

Bumi adalah tempat tinggal kita satu-satunya. Jika bumi kita sudah kotor dan penuh dengan sampah plastik, ke mana kita akan pergi? Adalah tanggung jawab kita untuk selalu menjaga bumi tetap bersih dan layak huni. Kita bisa mulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Yuk, jadi penjaga Bumi!

Sumber: Microsoft Encarta 2009 (DVD), Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008

#latihanmenuliskomunitas

#rumahmediagrup

#miradjajadiredja