Plato & Aristoles : Keberlanjutan Upah Untuk Kebutuhan Hidup

Sumber Gambar : http;//www.liputan6.com/

Plato & Aristoles : Keberlanjutan Upah Untuk Kebutuhan Hidup

Persoalan terkait upah menjadi pembicaraan yang menarik bagi siapa saja yang mempelajari ilmu ekonomi ketenagakerjaan. Terkait dengan bagaimana mendefinisikan bukan hanya sekedar uang yang diterima atas imbalan kerja. Ada hal ini, yakni upah tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup atau tidak? Bisa bertahan hidup atau tidak dengan upah itu? Paling tidak, dengan upah yang diterima pekerja, seorang pekerja mampu menghidupi dirinya sendiri. Karena upah dan pasar tenaga kerja relatif menjadi fenomena ketenagakerjaan yang tak pernah berhenti untuk diperbincangkan.

Konsep yang paling mendasar adalah bahwa seseorang bekerja memiliki tujuan untuk bertahan hidup, bahwa ia memiliki kewajiban untuk menghidupi dirinya dan bahkan untuk keluarganya. Dari awal diyakini bahwa manusa bekerja untuk bertahan hidup. Investigasi atas pemikiran upah untuk bertahan hidup sebagai bentuk upaya keberlanjutan. Beberapa ahli pemikir ekonomi juga banyak yang memiliki argumen bahwa upah adalah untuk kebutuhan hidup.

Plato dan Aristoteles menemukan upah layak hidup (living wage). Pemiki ekonomi mempertanyakan apakah filsuf Yunani kuno memahami cara kerja pasar tenaga kerja? (Balug, 1991. Petrochilos, 2002. Lowry, 1969). Banyak yang membahas apa yang dimiliki pekerja. Namun, gagasan Plato dan Aristoteles justru membahas terkait dengan kemampuan pasar yang terjadi apakah menjadi keuntungan secara moneter? Artinya bagaimana pengetahuan tentang pasar dan persaingan dikuasai oleh pekerja? karena mereka terlibat langsung dalam kegiatan pasar melalui biaya (terkait upah) (Stabile, 2007).

Apalagi upah yang dimiliki para tenaga kerja migran, pasti mereka membutuhkan biaya hidup yang tinggi. Upah sepadan dengan biaya yang mereka habiskan untuk hidup (Plato, 1976). Bagi pekerja migran ini, nilai mereka di pasar dibentuk juga oleh persaingan (Marrou, 1982). Selama ini ada kompetisi maka ada biaya yang tinggi, karena ada biaya yang ditambahkan ke pasar. Tapi sebenarnya Plato tidak menyukai kompetisi. Karena menurutnya, orang-orang bekerja untuk mencari nafkah. Sebaliknya, ia khawatir bahwa pengejaran pada kekayaan itu berbahaya, karena dapat menciptakan pengejaran kepentingan pribadi, hilangnya perilaku berbudi luhur. Kompetisi dapat mempengaruhi perilaku manusia, jadi ya harus dikendalikan oleh komunitas. Plato juga mengakui bahwa masyarakat membutuhkan pembagian kerja, tetapi hal ini terjadi melalui proses non ekonomi, di mana setiap orang menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan yang ia miliki (Plato, 1988). Agar tidak terjadinya kepentingan menumpuk uang semata, maka Plato memandang bahwa pembagian kerja dilakukan hanya untuk kehidupan bersama. Konsekuensinya adalah pemberian upah sesuai dengan kebutuhan yang mereka butuhkan. Penyediaan upah yang layak hidup sebagai bagian kebutuhan dasar.

Bagaimana upah menjadi hal penting dalam kebermanfaatannya untuk manusia, maka semua pekerja, apalagi kepala rumah tangga melibatkan manajemen keuangan rumah tangganya. Kemampuan kepala rumah tangga menaglokasikan sumber daya di antara anggota keluarganya membutuhkan seni dalam penggunaan keuangan, karena seringkali upah mereka belum mencukupi (Aristoteles, 1986). Menurut Aristoteles cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan dasar adalah dengan cara mandiri, artinya ya mencari nafkah, bekerja secara produktif dan tidak tergantung pada pertukaran persediaan makanan. Perdagangan terjadi dan bertujuan untuk menjaga pasokan kebutuhan kehidupan dan untuk menghasilkan uang. Dengan demikian, Arsitoteles berpendapat bahwa membeli atau menjual kebutuhan hidup dapat dilakukan untuk mendapatkan keuntungan di luar upah atas pekerjaan yang ia lakukan sebagai nafkah. Semua ini dilakukan hanya untuk menuju kaya.

Konsep Plato terkait upah adalah untuk hidup, hal ini sudah umum ya. Memang, upah pada dasarnya sebagai pemenuhan kebutuhan hidup. Aristoteles juga mengakui bahwa kemiskinan itu merupakan masalah sejauh seseorang miskin itu tidak memiliki penghasilan yang cukup, penyediaan mata pencaharian yang tidak berkelanjutan bagi dirinya sendiri. Sehingga, dibutuhkan peran negara membantu orang miskin agar mendapatkan kapasitas untuk mempertahankan hidup mereka sendiri, tetapi hanya sampai pada titik di mana mereka memiliki tingkat kekayaan alamiah, yaitu memeroleh upah yang layak untuk hidup.

Referensi :

Aristotle (1986), The Politics, translated by Hippocrates G. Apostle and Lloyd P. Gerson, Grinnell, IA: The Peripatetic Press.

Blaug, Mark (1991), Aristotle: Pioneers in Economics 2, Aldershot, UK and Brookfield, VT, USA: Edward Elgar.

Lowry, S. Todd (1987), The Archaeology of Economic Ideas, Durham, NC: Duke University Press.

Marrou, H.L. (1982), A History of Education in Antiquity, Madison, WI: The University of Wisconsin Press.

Petrochilos, George (2002), ‘Kalokagathia: the ethical basis of Hellenic political economy and its influence from Plato to Ruskin and Sen,’ History of Political Economy, 34 (3), 599–630.

Plato (1888), The Republic, translated by Benjamin Jowett, Oxford: Clarendon Press.

Plato (1976), Protagoras, translated by C.C.W. Taylor, Oxford: Clarendon Press.

Stabile, Donald R. (2007), Economics, Competition and Academia: An Intellectual History of Sophism versus Virtue, Cheltenham, UK and Northampton, MA, USA: Edward Elgar.

rumahmediagrup/ Anita Kristina