Pola Hidup Kaum Rebahan, Apakah Meresahkan

Pola Hidup Kaum Rebahan, Apakah Meresahkan

Banyak kata dan istilah baru, terbentuk di zaman milenial ini. Salah satunya istilah kaum rebahan. 

Istilah ini menjadi viral akhir-akhir ini dan sering dijadikan sindiran dikalangan generasi milenial. Istilah kaum rebahan ditujukan kepada orang-orang yang malas gerak. 

Bila ditelusuri lagi, fenomena ini muncul juga karena situasi yang mendukung. Mengapa demikian?

Mari kita lihat pola hidup sehari-hari terutama dalam keluarga sendiri. Pola hidup seperti berikut ini yang menyebabkan posisi sambil rebahan terasa nyaman, dan si pelaku disebut sebagai kaum rebahan.

  1. Hiburan, kuliner, belajar, bisnis, semua ada dalam genggaman.

Tidak bisa dipungkiri kalau zaman sekarang semua informasi bisa diperoleh dalam sekejap, secepat kedipan mata.

Hiburan bioskop, nyanyian terbaru dari artis idola bisa didapat dengan mudah dan gratis, tanpa harus membeli tiket dan antri berkepanjangan.

Mau belajar jarak jauh juga bisa. Mengembangkan bisnis, cukup dengan hentakan jari.

Lalu mengapa harus keluar uang banyak, atau membuang waktu lebih lama, bila semua dapat dilakukan sambil rebahan sekalipun. Itulah hasil dari gawai yang selalu ada dalam genggaman.

  1. Kehidupan sosial berkurang esensinya.

Manusia terkenal sebagai mahluk sosial. Saling bertemu dan berkomunikasi dengan tatap mata secara langsung. Namun kini banyak berkurang esensinya terutama penerapannya. Dua orang atau lebih bisa saling tidak acuh dan enggan menyapa saat berpapasan, namun lihatlah betapa akrabnya saat bersua di dunia maya. Simpati dan saling mendoakan gencar dilakukan di sana, tapi saat diajak kerja bakti atau kerja sosial lainnya, selalu punya alasan menolak. Mager…alias malas gerak

Kaum rebahan memang tak salah dan bisa saja tidak meresahkan, bila ditempatkan pada porsi yang benar. 

Saat tubuh benar-benar lelah setelah seharian beraktivitas di luar ruangan, bolehlah kita habiskan waktu hari itu dengan rebahan, memulihkan stamina. 

Saat kondisi keuangan tidak bersahabat, bisa saja kita hanya leyeh-leyeh di rumah, menikmati acara gratisan dari gawai. 

Namun, jangan dijadikan alasan untuk menolak perintah orang tua untuk membantu mereka. Selain itu juga tidak patut bila kita habiskan waktu hanya untuk rebahan tanpa memberi arti bagi hidup yang singkat ini. Hargai waktu yang diberi oleh-Nya dengan sesuatu yang bermanfaat sebagai bekal kelak, di hari akhir.

rumahmediagrup/hadiyatitriono

2 comments

Comments are closed.