Pola Waktu

Pola Waktu

Bagian 2

Bagian 1 klik di sini https://rumahmediagrup.com/2019/12/02/pola-waktu/

“Apa? Mau pinjam uang! Tidak!”

“Tak sudi aku meminjamkan uang, apalagi untuk biaya pengobatan Bara.”

“Biarkan saja, tak usah diobati. Kalau Bara mati, kamu kan bisa kawin lagi.”

“Mau bayar dengan apa kamu?”

Ujaran, hinaan, caci dan maki tak luput mengiringi langkahku. Bara benar-benar sakit dan aku tak punya uang untuk membawanya ke dokter.

Gerimis menyertai langkah gontaiku. Percuma dan sia-sia. Berkeliling ke sana kemari mencari pinjaman, semua nihil. Seolah langit turut menangis, memandangku penuh iba dengan wajah mendungnya. Kak Nita? Ia sudah menghilangkan Bara dari garis persaudaraannya.

Kutatap lekat lelaki di depanku. Tubuh kurusnya berbaring tanpa daya di kasur tipis. Hanya kulit pucat yang setia membungkus tulang-tulangnya. Sebulan sudah dan Bara tetap berada di rumah tanpa penanganan.

Apakah hidup memang sepelik ini? Manusia kehilangan empatinya pada mereka yang dicap buruk. Bahkan dengan jelas mereka bersaksi bahwa Bara tak ada harapan untuk berubah. Hanya kematian yang mampu menghentikan lakunya.

Astaghfirullah.

Layaknya sang penutup pembawa risalah yang bergantung pada tali-Nya. Sabar menjadi dekorasi manis dalam kubangan air mata. Aku ingin sepertinya. Sedang Bara? Pegangannya lepas dan aku berusaha menyarikan ujung tali untuknya. Salahkah?

***

Bisik-bisik itu masih ada dan aku hampir frustrasi karenanya.

“Ma, mau susu,” rengek bungsuku.

Aku tatap lekat mata beningnya. Kucari masa depan di sana, apakah anak-anakku akan terus sesakit ini? Hatiku teramat nyeri mendengar pintanya.

Maafkan Mama, Sayang. Jangankan susu. Membeli obat Bapakmu pun Mama tak mampu. Bulir basah mengurai di netraku. Gemuruh peliknya hidup menangkup sesak dadaku.

Aku ingin bertahan, Tuhan. Bantu aku. Walau semua pasang mata menatap hina. Walau nyinyiran tiada henti. Aku ingin bertahan, bersamanya.

***

“Marni.” Untuk pagi yang ke sekian. Kutertidur di samping Bara dengan posisi duduk mengunjur.

Ada yang beda. Pagi ini, tepatnya dua bulan Bara terkapar. Sebuah kata meluncur dari mulutnya. Lirih, tapi sangat jelas terdengar. Bara memanggilku.

“Iya, Mas. Ada apa, Mas? Ada yang sakit?” Bergegas kudekatkan wajah ke wajahnya.

“Tidak.” Mata cekungnya menatapku sangat lembut. Bibirnya pucat dan bergetar. “Marni, terima kasih.” Pertama kali dalam rumah tanggaku, Bara menangis. Tangannya menggenggam erat telapak tanganku.

Apa yang terjadi. Apakah Bara akan meninggalkanku? Tidak! Aku tak siap. Ah, apa yang kupikirkan. Bergegas kutepis semua bayangan buruk itu.

Keajaiban ataukah anugerah. Kukerjapkan mata tak percaya. Perlahan Bara bangkit dan duduk di sampingku.

“Marni. Maafkan aku ….” Bara mencoba mengatur napasnya. Ada sesak teramat sangat. Kupeluk tubuh ringkihnya, kubiarkan ia mengeluarkan semua yang ia rasa.

“… Kesetiaanmu, kesabaranmu, mengalahkan semua benteng egoku. Menghancurkan semua doa-doa buruk mereka akanku. Dengan apa mampu kubalas cintamu yang tiada kenal lelah?”

Aku menggeleng. Riak bening menggenang cepat memenuhi kelopak mataku. Bahkan bendungannya tak cukup mempan menahan. Tangisku pecah. Kami saling terisak. Sungguh, kegersangan hariku tersirami hari ini.

“Kau tak perlu meminta maaf, Mas. Cinta pun tak perlu ucapan terimakasih. Ia hanya bisa memberi yang terbaik. Mendoa kekasih akan harapan terbaik.”

Bahu Bara berguncang kuat. Inikah cahaya-Mu?

Begitu mudah Kau hapus semua lelah. Begitu mudah Kau singkap tirai derita. Bara memang belum melakukan apa-apa. Sesuatu yang tampak berarti. Namun, hatiku percaya. Ini adalah awal baik untuk kami. Meski kuharus menanti hingga sepuluh tahun untuk ini.

***

“Marni, beruntungnya kamu sekarang. Suamiku selingkuh. Kami bercerai. Kebun dan rumahku disita bank.”

“Marni, bolehkah kupinjam uang? Suamiku kena PHK.”

“Marni ….”

“Marni ….”

Tak ada yang dapat mengira akan takdir. Setiap manusia punya polanya sendiri. Inilah polaku, pola mereka. Menutup kisah dengan bahagia ataukah derita. Hanya satu yang tetap bertahan, keyakinan. Ada Dia di setiap pola yang terjadi.

***

“Bu, ini Rafa dan Anisa, cucumu.” Wanita tua itu menatapku tak percaya. Tak ada kata-kata yang mampu menjelaskan semua rasa. Hanya pelukan hangat dan senyumnya yang mampu meleburkan makna.

rumahmediagrup/walidahariyani