Pola Waktu

Pixabay.com

Pola Waktu

Bagian 1

“Apa sudah kau pikir masak-masak, nduk? Bara itu lelaki tidak benar. Kerjanya hanya mabuk-mabukkan, berjudi, main togel. Mau dibawa ke mana rumah tanggamu kelak?” Pertanyaan ibu masa itu.

Pertanyaan yang tetap meneguhkan niatku untuk menikah dengan Bara. Restu pun diberikan, walau kutahu ibu masih setengah hati. Kenyataannya benar kata ibu, sekian tahun berumah tangga tak ada yang kupunya, selain dua buah hati yang sangat lucu—malaikat penghibur kepedihan rasa yang kualami.

***

“Marni! Marni! Buka pintu!”

Dini hari. Saat mataku benar-benar terasa lekat. Rasanya baru satu jam kuberhasil terlelap. Kini gedoran di pintu memaksaku bangkit. Bara akhirnya pulang dengan badan sempoyongan dan mulut berbau alkohol.

“Mas, minum dan ganti baju dulu, ya.” Kusorongkan segelas air putih dan satu setel pakaian ganti, dua benda yang selalu kusiagakan setiap hari di ruang tamu.

“Bantal mana bantal?” Mata merah Bara malah memelototiku hingga akhirnya tubuhnya terhempas ke sofa tak sadarkan diri.

Kupandangi wajah lusuh dan kuyunya. Tulang rahangnya tampak jelas, napasnya memburu. Perlahan kusejajarkan tubuh dan kakinya sembari memasangkan selimut tipis.

Aku tak tahu apa yang merasuki jiwa dan ragaku. Hingga detik ini, cintaku tak pernah terkikis untuknya. Lelaki yang bahkan tak mampu menjadi pemimpin. Jangankan untuk istri dan anak-anaknya, bahkan dirinya sendiri tak mampu mengendalikan segala ego dan napsunya.

Seberat ini cobaan yang dijalani, cintaku masih terpampang rapi. Menghias rumah tangga yang begitu timpang. Tak ada hak dan kewajiban yang berjalan sebagaimana mestinya. Bara hanya memikirkan dirinya sendiri.

Layaknya rasa ini, serupa kisah cinta Qays dan Layla atau bahkan lebih dari itu. Bertahan dengan lelaki yang tak pernah memberi nafkah lahir. Tak mampu menjadi pelindung untukku juga anak-anak. Tak ada contoh manis dalam dirinya dan aku tetap memilihnya.

Di antara sekian cibiran tetangga dan keluarga, Bara tetap menjadi juara. Adakah yang mau mencintainya sepertiku? Adakah yang mau menerima dirinya sepertiku? Pertanyaan itu terus bergelayut di relung sanubari. Semua kututup dengan jawaban ‘ada’, yaitu aku. Rasa yang tak mampu kuterjemahkan dalam barisan kata.

“Pasti Marni kena jampi. Mana ada perempuan yang bertahan dengan kelakuan seperti Bara.”

“Sudah tinggalkan saja. Kau itu cantik, pintar, mau-maunya bertahan dengan lelaki nggak jelas.”

“Marni, lihat aku! Baru lima tahun berumah tangga sudah punya rumah dan sehektar sawit. Kamu? Ishish … aku tak paham denganmu, Marni. Bodoh atau apa?”

Aku tahu betapa buruk perilaku Bara. Dan betapa bodohnya aku yang selalu sedia menjadi ladang birahinya. Begitulah pikir mereka.

Salahkah aku? Jika dengan ini, wanita lain terjaga dalam kehinaan bersama Bara.

Suara-suara itu terus menghias gendang telingaku. Keluarga, teman, tetangga, bahkan orang lain yang notebene tak kukenal, semua men-judge buruk.

***

“Kau bercanda?” Bara tak percaya melihat anggukan kepalaku.

Aneh memang, seharusnya Bara melonjak kegirangan karena aku menerima lamarannya. “Memangnya kenapa?” tanyaku balik.

“Aneh saja. Kupikir tidak ada yang mau menikah denganku.”

“Kenapa?”

“Kau tahu kelakuanku, kan? Aku sendiri tak yakin bisa berhenti dari semua ini. Mungkin.”

Aku kembali mengangguk. Lebih mantap dari sebelumnya. Bara terkesima penuh tanda tanya.

Akad itu pun terjalin. Di awal pernikahan, jangankan bulan madu. Aku dan Bara terpaksa meninggalkan tanah kelahiran. Bersama tangis ibu yang melepaskan genggaman tanganku. Pergi merantau ke tanah Borneo. Kami, pengantin baru terusir. Bara bikin ulah, rumah kontrakkan dijadikannya tongkrongan untuk geng togelnya.

***

Berat hati. Nita—kakak iparku menerima keberadaan kami. Tak selang beberapa bulan, kami terpaksa mencari kontrakkan sendiri. Nita menyerah dengan kelakuan adik semata wayangnya itu. Ia tak ingin terlibat. Berkali-kali pria berseragam datang mencari Bara. Hukum teramat menakutkan untuk Nita hadapi hanya demi seorang Bara.

Terkatung-katung di tanah rantau. Bekerja serabutan, asalkan dapat mengobati rasa lapar. Aku tak mungkin diam. Kontrakkan harus dibayar. Sedang Bara, lelaki itu masih sibuk dengan dunianya.

Menginjak tahun ke tujuh pernikahan. Bara tergerak hatinya untuk mencari nafkah. Uang hasil tabunganku dijadikan modal. Sepeda motor butut satu-satunya dijadikan sebagai alat untuknya berjualan sayur keliling.

Betapa senang hatiku. Akhirnya Bara berubah.

Tapi…, ternyata tidak. Belum puas kunikmati bahagia. Petang Bara menghilang. Membawa semua keuntungan hari ini. Terpaksa sebagian modal kukurangi untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Esok, lusa, tulat, dan tubin hingga hari-hari selanjutnya. Bara masih seperti dulu. Hanya sedikit bedanya, ia berkeliling dengan dagangan sayurnya dari pagi hingga siang.

Lidahku terasa kelu. Hatiku bersiap untuk protes. Namun, urung. Di kondisi yang lebih parah dari ini, nyatanya aku bisa bertahan.   

***

Senja masih menyisakan semburat jingganya. Ada yang berbeda dengan Bara. Ia tak keluar rumah seperti biasa. Tubuh jangkungnya berbaring tak keruan di kamar

“Mas,” panggilku pelan.

Mas Bara tetap bergeming. Matanya menerawang ke langit-langit kamar yang tak lagi putih. Ada banyak peta tak beraturan di sana. Sekian tahun bias hujan setia mengukir papan triplek rumah kontrakkan ini.

“Mas.” Kembali kumemanggilnya. Lelaki itu menarik sedikit sudut bibirnya sembari melirikku.

Mas bara tersenyum. Benarkah?

Setelah sepuluh tahun menikah, baru kali ini kumelihatnya tersenyum, lagi.

“Astaga!” Dadaku bergetar kala menyentuh lengannya. Tubuh Bara sangat panas. Ia demam tinggi.

bersambung….

rumahmediagrup/walidahariyani

One comment

Comments are closed.