Prihatin kepada Orang Lain, Simpati atau Empati

Prihatin kepada Orang Lain, Simpati atau Empati

“Aduh, kasihan ya nasib anak-anak itu.” Kalimat tersebut terlontar saat membaca berita tentang enam orang anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya dalam waktu hampir bersamaan. Berita duka, cerita sedih, rata-rata kisah yang membuat hati serasa dirincis, akan mengundang simpati dan empati orang.

Mengapa simpati dan empati? Terdengar seperti satu kata yang maknanya sama.

Ada lima hal tentang simpati dan empati. Mari simak uraian berikut.

1. Arti kata menurut KBBI.

Simpati bermakna keikutsertaan merasakan perasaan (senang, susah, dan sebagainya) orang lain.

Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

2. Penempatan reaksi.

Reaksi orang yang bersimpati, dapat kita amati seperti dalam hubungan persahabatan, hubungan antara seorang atasan dan bawahan, kehidupan bertetangga, dan terbatas.

Empati muncul saat ada kerja bakti di lingkungan tempat tinggal, saat ada bencana alam, saat melihat orang lain tengah dalam kerepotan, dan lain sebagainya.

3. Situasi pendukung.

Simpati bisa saja dilakukan karena kondisi jarak yang berjauhan, dan hanya sekedar komen di media sosial.

Empati bisa ditunjukkan dengan terjun langsung di lokasi musibah, dekat dengan korban atau masalahnya, dan ikut menanggulangi kejadian.

4. Tujuan sikap yang melakukannya.

Simpati cenderung untuk menghibur semata. Empati lebih mendalam, hingga ikut merasakan penderitaan orang yang terkena musibah.

5. Cara menempatkannya.

Penempatan simpati maupun empati sebenarnya tidak jauh berbeda. Lakukan dengan ikhlas, tanpa didasari sekedar pencitraan semata. Jangan sampai simpati menjadi tercela. Misalnya, saat berada di lokasi bencana, justru menjadi arena pansos dengan berselfie ria.

Akan lebih baik bila simpati dan empati itu menunjukkan ukhuwah yang terjalin baik sebagai umat yang beriman.

Semoga kenikmatan dunia tidak mengaburkan makna keduanya atau malah bersikap masa bodoh, “Ah, itu bukan urusan saya.”

Sesungguhnya Allah telah berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 2 :

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Rasulullah pun telah bersabda :

“Jalinan kasih sayang antara kaum muslimin ibarat satu tubuh. Bila ada satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh lainnya akan merasakan hal yang sama.” (HR. Bukhari dan Muslim).

rumahmediagrup/hadiyatitriono