Problematika Rumah Tangga

Problematika Rumah Tangga



Suatu hari, seorang Pangeran berburu di hutan. Karena kijang buruannya lari sebelum dipanah, Pangeran segera memacu kudanya mengejar si kijang. Setelah lama berputar-putar mencari jejak binatang itu, Pangeran baru tersadar ternyata dia tersesat.

Akhirnya, dengan perlahan Pangeran menyusuri jalan setapak yang ada di depannya. Sampailah Pangeran  di sebuah rumah yang asri dan sederhana di ujung hutan. Rumah itu terlihat bersih serta banyak bunga dan tanaman yang terawat dengan baik.

Ketika Pangeran mencoba masuk ke pekarangan rumah, terlihat kijang buruannya sedang diberi makan seorang perempuan muda. Pangeran berpikir perempuan itu adalah pemilik rumah. Sambil mengucapkan salam, Pangeran mendekati. Perempuan itu menoleh. Pangeran sangat terkejut. Perempuan di hadapannya sangat cantik sekali. Kulitnya yang putih mulus dengan rambut hitam laksana mayang terurai. Matanya indah dihiasi alis yang alami. Bibir tipis merah merona menawarkan senyum yang sangat menawan.

Pangeran jatuh cinta pada gadis cantik itu. Setelah sekian lama saling mengenal akhirnya Pangeran memboyong gadis itu ke istananya. Kedua orang tuanya ikut serta. Setiba di ibukota kerajaan, Pangeran beserta si gadis menghadap Raja dan Permaisuri. Mereka meminta izin untuk menikah. Raja dan Permaisuri memberi restu. Pernikahan itu segera dilaksanakan dengan sangat megah.

Pangeran dan Putri akhirnya hidup bahagia selamanya. Mereka memiliki anak 10 orang.

===

Pernahkah membaca sebuah cerita seperti itu dalam buku dongeng atau dongeng sebelum tidur yang ayah dan ibu ceritakan kepada kita?
Saya sering sekali membaca kisah seperti itu. Cerita jenis itu tidak hanya populer di dalam negeri saja tapi ada juga dalam cerita rakyat mancanegara.

Pertanyaannya, betulkah setiap orang yang menikah dalam kehidupan nyata akan selalu bahagia sampai akhir hayatnya seperti dalam buku dongeng?

Jawabannya, rumah tangga dalam kehidupan nyata tidaklah seindah dalam buku dongeng kisah 1001 malam atau semenarik cerita dalam novel romantisme.

Pernikahan adalah perjanjian antar suami istri dalam ikatan perkawinan yang sah menurut negara dan agama.
Pernikahan merupakan penggabungan dua karakter yang berbeda tapi memiliki tujan yang sama.

Ketika sepasang laki-laki dan perempuan mempunyai rencana membina rumah tangga, pada saat itu pula mereka mulai memasuki sebuah pintu dunia baru dalam babak kehidupan selanjutnya. Biasanya, ketika memutuskan kapan dan dimana pernikahan akan dilangsungkan, sering timbul perbedaan pendapat. Detik itu pula problematika sebuah perkawinan mulai dikenal para calon pasangan pengantin.

Ketika pesta usai dilaksanakan, perjalanan selanjutnya adalah mengenai masalah tempat tinggal dan nafkah keluarga. Mau tinggal di Pondok Mertua Indah atau mencoba hidup mandiri. Uang mau dikelola istri atau suami yang mengatur keuangan semua kebutuhan.
Biasanya dua point itu sangat penting dibahas berdua dengan pikiran tenang dan hati yang dingin. Harus sama-sama saling mendukung sekaligus saling mengalah. Hal ini yang akan menjadi duri dalam daging setiap rumah tangga apabila tidak ada pembicaraan atau perjanjian dari awal pernikahan. Alih-Alih menjadi keluarga yang harmonis, yang ada malahan menjadi ajang percekcokan dan akan melibatkan anggota keluarga lainnya.

Setelah masalah tempat tinggal dan nafkah sudah bisa disepakati, problematika rumah tangga akan mengalir ke hal lain.

Salah satunya mengenai kehamilan atau susahnya memiliki anak. Hal ini juga akan menimbulkan masalah jika tidak ada kesabaran dari kedua pihak terutama mertua si istri. Biasanya nih, jika ada istri yang belum hamil juga, beberapa mertua mulai sering menyindir dan menekan menantu perempuannya. Sebutan perempuan mandul seringkali disematkan. Padahal, belum tentu si menantu wanitanya yang tidak subur. Bisa jadi, anak laki-laki bermasalah. Kadang sedikit kejam, mulai menyuruh anaknya mencari istri lagi. Alasannya agar ada penerus keturunan.

Aduh, kok kesannya kayak di sinetron ya dengan judul mertua jahat dan menantu yang teraniaya … ha ha ha.

Padahal kalau kita kembalikan kepada masalah takdir, anak adalah hak preogratif Allah. Allah itu MAHA HAK atas anak-anak yang dititipkan-Nya.

Selain masalah keturunan yang datang cepat atau terlambat, akan ada lagi persoalan lain yaitu setelah anak hadir dalam keluarga. Perbedaan pola asuh kedua orang tua juga bisa menimbulkan hal yang rancu dalam rumah tangga. Biasanya sering terjadi percekcokan jika keduanya tidak kompak dalam menangani dan memberikan aturan. Yang satu lebih permisif yang satu lagi tegas dan disiplin.

Hal lain yang sering menjadi problematika klasik dalam rumah tangga adalah mengenai pudarnya rasa cinta dan getaran hati yang tidak sedahsyat waktu awal-awal pernikahan. Biasanya itu dipicu karena kehidupan yang monoton, rasa bosan yang mulai datang, kesibukan pekerjaan suami atau istri, repotnya mengurus anak-anak atau juga kondisi fisik pasangan yang tidak lagi menggairahkan. Terkadang, hal-hal seperti itu menjadi alasan untuk mencari yang “baru” diluar sana. Padahal belum tentu yang baru itu lebih baik dari apa yang sudah dimiliki.

Setiap rumah tangga pasti akan menemukan problemanya masing-masing. Ada yang ringan, sedang dan berat. Tergantung bagaimana kita memandangnya. Butuh kesiapan mental dan kesabaran yang panjang.

Jika kita berpikir ulang, masalah itu ujian dari Allah, seyogyanya kembalikan lagi penyelesaiannya kepada Allah Sang Pemilik Kehidupan. Kita adalah manusia yang banyak kekurangan. Tawakal, berserah diri, pasrah dan berikhtiar adalah cara terbaik dalam mengatasi persoalan rumah tangga.

Pernikahan itu bukan untuk sehari tapi untuk selamanya sampai Allah memanggil dan di pertemukan di Jannah-Nya kelak.

Poto diambil dari Pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief