Produktivitas Perempuan dalam Pekerjaan Rumahan

Produktivitas Perempuan dalam Pekerjaan Rumahan

Segmen pasar tenaga kerja antara laki-laki dan perempuan tidak sama. Masih terlihat jelas, perempuan masih banyak berada di segmen pekerjaan rumahan. Dominasi pekerjaan ini dilakukan perempuan berpendidikan rendah dan perempuan yang masih memegang kuat kodratnya sebagai istri dan ibu. Di sisi lain, perempuan ini melakukan aktivitas ekonomi untuk membantu pendapatan keluarganya. Bekerja pada industri-industri rumahan di sekitar tempat tinggalnya atau bahkan membawa pekerjaannya ke rumah. Profesi ini mereka pilih seabgai konsekuensi peran ganda yang ia dapatkan di lingkungan sosial mereka.

Pekerja rumahan berhubungan dengan mata rantai produksi, biasanya pada produksi industri padat karya. Dalam mata rantai tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa potensi produktivitas perempuan dapat membantu industri kecil dalam berdaya saing. Dengan demikian, diskusi produktivitas perempuan pelaku kerja rumahan dan atau bekerja pada industri rumah tangga kecil menarik untuk dilakukan, sekaligus mengetahui posisi kekuatan mereka dalam produksi.

Perempuan sebagai pelaku pekerja rumahan menganggap bahwa pekerjaan yang ia lakukan adalah berharga bagi upaya peningkatan pendapatan keluarga. Walaupun di sisi lain, terdapat upah yang sangat rendah, waktu kerja yang tidak terikat dan ketidakjelasan karir. Pekerjaan rumahan ini tidak memiliki hubungan kerja yang terstandarisasi. Semua berjalan sesuai dengan kesepakatan antara pemilik industri dan perempuan pelaku pekerja rumahan. Banyak juga diindikasikan bahwa kesepakatan tersebut berpihak pada pemilik industri.

Upah yang mereka dapatkan bisa juga tidak berupa sejumlah uang, bisa saja mereka mendapatkan imbalan dari jumlah barang yang ia produksi. Membawa sebagian bahan mentah produksi yang ia harus kerjakan di rumahnya. Dan sisanya bisa saja sebagai balasan atas pekerjaan yang ia lakukan. Di jumpai juga banyak kegiatan sub informal industri di sektor pengolahan bahan baku menjadi barang jadi di rumah mereka. Tidak ada batasan waktu kerja, mereka hanya mengerjakan sesuai waktu luang mereka. Selebihnya waktu pilihan untuk mengurus rumah dan suami serta anak.

Pasar kerja pekerjaan model ini sangat fleksibel, siapa saja bisa bergabung dan biasanya tanpa ada proses perekrutan pekerja. Akibatnya adalah munculnya eksploitasi atas kesepakatan yang dibuat. Tidak adanya aturan main yang jelas, tidak ada perjanjian kontrak tertulis, bahkan pengakuan di masyarakat akan pekerjaan mereka masih rendah dan remeh. Perjanjian kerja hanya berupa kesepakatan lisan antara pemilik industri rumahan dan perempuan pekerja rumahan. Negosiasi atas kesepakatan lisan inipun jarang terjadi, dikarenakan ketidakmampuan perempuan dalam melakukan tawar menawar keterampilan yang ia miliki. Sehingga lemah dalam penentuan upah dan lainnya.

Walaupun demikian, produktivitas ย perempuan pekerja rumahan tidak bisa dianggap remeh. Dikarenakan sifat pekerjaan ini adalah informal, maka pekerjaan ini terkadang dipandang sebagai perempuan sebagai salah satu bentuk hobi. Atau di sisi lain, menganggap pekerjaan ini adalah salah satu pintu pendapatan keluarga. Sehingga mereka sangat serius dan bekerja sungguh-sungguh. Ditangan merekalah, industri rumah tangga berdaya saing melalui keterampilan dan sifat perempuan yang unik dalam bekerja.

rumahmediagrup/Anita Kristina

One comment

Comments are closed.