Berakhir.

Sumber gambar koleksi Sri Suprapti

Naya diam termanggu, menatap HP putih tipis di tangan dengan perasaan tersayat. Sudut mata Naya mengalir air bening. Sejuta rasa menumpuk, sedih, kecewa, sakit hati berebut memukul, menimbulkan nyeri menusuk hati.

Maafkan Mas … Dik Naya bisa mencari orang yang lebih baik

Kalimat putus datang dari whatshapp Bayu. Bayu dengan tegas menulis keputusannya, keputusan untuk berpisah.

Mengapa kita tidak coba menjelaskan pada Bapak?

Naya membalas whatshapp Bayu. Berusaha naik banding pada keputusan Bayu yang dirasa tidak adil. Whatshapp Bayu sunyi. Tidak menjawab kebimbangan Naya. Lama berlalu, hingga Naya gerah menunggu.

Ting.

Sigap tangan Naya mengambil sumber bunyi, menekan tombol kecil di pinggir sebelah kanan.
Terlihat gambar emosi berpikir.

Naya histeris, menggunjang kamar 3 x 4 m dengan teriak dan tangis. Tangan Naya melempar bantal, menarik seprai, melemparkan semua ke udara. Menciptakan kapal pecah dalam sekejap.

Crahhh.

Bingkai foto di atas rak buku jatuh. Foto Bayu tergeletak tak berdaya diantara serpihan kaca. Gadis kurus dengan wajah oval itu memandang sendu.

”Inikah akhirnya ?” lirih suara Naya. Setelah menghabiskan masa SMP, SMA hingga kuliah bersama, Naya dipaksa untuk menerima keputusan sepihak Bayu.

Naya kecewa pada waktu. Setelah 11 tahun pacaran, setelah usianya meninggalkan angka 25. Naya harus meyakini takdir, mengakui Bayu bukanlah jodohnya. Banyak jalan menuju Roma, banyak pula jalan untuk Bayu mempertahankan cinta mereka.

Namun kenapa jalan putus yang harus Bayu ambil?

Tangis Naya kian keras. Naya tidak terima jika kata pisah sebagai akhir perjalanan cintanya.

air matanya deras mengalir, membasahi pipi dan merubah warna menjadi merah. Gemuruh dada Naya bergejolak, menyalahkan dirinya bukan anak konglomerat, menyalahkan pendidikan yang hanya Diploma.

Naya menyalahkan keadaan…
Keadaan yang tidak berpihak padanya.

Rumahmediagrup/srisuprapti