Punya Nyali

Punya Nyali

“Bunda, I’m so angry!”

Eh? Tumben sekali, si sulung yang terkenal pendiam ini nampak marah.

“What’s wrong, Kak?”
“Hold on,
Bunda. Adik, do you know this girl? Her name is A.

Sang adik yang baru keluar dari kamar mandi pun menghampirinya.

“Why, Kak?”
“Please don’t talk to her.”
“Why?”
“Just don’t. I don’t like her.”

“Eh? What’s wrong, Kak?” Saya pun mengrenyitkan dahi dan bersiap untuk protes. Tidak biasanya si sulung yang terkenal woles dan cuek ini berkata tentang seseorang sampai sebegitunya. Terakhir kali ia begitu marah adalah ketika seorang murid lelaki menghina warna kulit sang adik.

“She was talking about my sister behind her back, Bunda. I don’t like it. I feel like …” Ujarnya sambil berbisik dan mengepalkan tangan setelah sang Adik berlalu masuk ke kamarnya.

“How do you know? Don’t assume, Nak.” Saya berusaha menenangkan amarahnya. Si “cartoon” yang nampak begitu marah dan sedang mengatur nafasnya di hadapan saya ini.

Ia kemudian menceritakan apa yang didengarnya dari seorang teman dan berencana untuk menemui A esok hari.

“Good. Go and talk to her, ask her directly and don’t assume. Don’t listen to people talking about somebody else. Understand? Find out what really happens.”

Berani ya, Nak. Temui A dan tanyakan langsung padanya apa yang sebenarnya terjadi. Jangan mudah percaya pada omongan orang hingga kamu mendapat bukti yang nyata. Hadapi ia dan bela saudaramu jika tidak melakukan kesalahan. Jangan ragu dan segan.

Be brave. Ask, don’t assume. Communicate more to solve problems. Karena banyak permasalahan di dunia ini yang diawali dari asumsi serta keengganan untuk berkomunikasi. Entah karena sok tau yang berlebih atau sekedar tidak ada nyali.

Anak Bunda harus punya nyali! Berani bicara, berani membela yang benar, berani menghentikan sesuatu yang salah.

rumahmediagrup/rereynilda

One comment

Comments are closed.