Quote Pain

Quote Pain

No pain no gain.

Tak ada rasa sakit, tak ada yang didapat. Benarkah demikian? Bukankah rasa sakit itu tidak menyenangkan?

Ya. Rasa sakit memang tak menyenangkan. Tapi tanpa pernah merasakan sakit, kita takkan mendapatkan apa-apa.

Seorang Muhammad Al Fatih, “Sang Pembebas Konstantinopel” dari kesultanan Islam Turki takkan pernah bisa berhasil merebut Konstantinopel bila tak pernah merasakan sakit hati. Sakit hati karena sempat dicopot jabatannya sebagai sultan Turki, padahal beliau sudah membuat banyak rencana untuk kesejahteraan umat muslim yang dipimpinnya. Salah seorang pejabat istana senior yang ingin merebut kekuasaan Islam dari tangannyalah yang menyebabkan hal tersebut.

Yang lebih utama lagi, Muhammad Al Fatih merasakan gagal saat mencoba menyerang Konstantinopel. Padahal sejak beliau kecil, sang ayah, Sultan Murad 2, senantiasa mendengungkan harapannya bahwa kelak yang mewujudkan ramalan Rasulullah SAW adalah sang putra tercinta. Muhammad Al Fatih sangat ingin mewujudkan impian sang ayah tercinta. Sebagai tanda bukti cinta pada Allah dan rasul-Nya.

Kegagalan tersebut sempat membuat “Sang Pembebas” tersungkur di atas sajadah dalam salat malamnya. Rasa sakit karena belum jua berhasil mewujudkan ramalan Nabi yang dicintainya membuat Muhammad Al Fatih mengadukan segalanya pada Rabb-Nya. Dalam tangis memohon restu dari-Nya untuk menyalakan obor risalah Islam di daratan Eropa.

Akan tetapi, beliau tak lama terpuruk dalam kesakitannya. Selepas malam yang panjang dan saat fajar kembali menyingsing di keesokan harinya, Muhammad Al Fatih kembali memperbaiki dirinya. Merancang ulang rencana besarnya, dan berkaca dari kesalahan lalu agar tak terulang kembali. Rasa sakit yang dirasanya kemarin, menumbuhkan semangat baru.

Kemudian lihatlah yang terjadi. Dalam sejarah, kini seluruh orang melihat namanya terukir dalam tinta emas sebagai penakluk Konstantinopel. Kota yang semula menjadi simbol gurita raksasa pembuat kezaliman di kawasan Eropa dan sekitarnya. Terbebaskan dan mendapatkan cahaya Islam yang terang benderang.

Anakku, Mehmet. Sebuah busur panah, butuh berkali-kali untuk ditarik ke belakang sebelum melesat jauh ke depan, menuju titik sasaran yang dituju.

-Sultan Murad II-

Bayangkan bila Muhammad Al Fatih tak pernah merasakan sakit? Tak pernah merasakan dipermalukan di hadapan rakyatnya saat jabatan sultan direnggut dari genggamannya. Tak pernah gagal merebut Konstantinopel, dan sederet kegagalan lainnya. Tentu bukan namanya yang mewujudkan ramalan Rasulullah SAW dan takkan ada dalam sejarah, tetapi orang lain.

Jadi, biarkan hidup kita berulangkali menemui rasa sakit. Sebab rasa sakit itu yang akan menempa kita menjadi orang yang hebat di masa mendatang. Rasa sakit akan membuat kita mendapatkan pelajaran dan hikmah yang akan menempa diri menjadi lebih kuat dan tangguh di masa mendatang.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah