Quote Peluang

Quote Peluang

Salah satu karakter orang sukses adalah mereka tak pernah diam mencari inovasi-inovasi dalam bidang yang digeluti. Selalu mencari hal baru yang bisa dilakukan. Menjadi pelaku dan tak mau hanya jadi penonton.

Bila bicara soal menulis, ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Menulis dengan kemampuan yang dimiliki. Apapun itu, yang penting menulis.

Contohnya di zaman ini pasti semua orang sudah punya akun medsos. Twitter, facebook, instagram, line, dan lain sebagainya. Pertanyaannya adalah, digunakan untuk apakah akun yang kita miliki tersebut?

Ada baiknya kita gunakan untuk menulis hal-hal yang berguna. Sekalipun hanya satu atau dua kalimat. Daripada kita sibuk menulis hal-hal yang bisa memancing keributan dengan sesama pemilik akun medsos.

Setiap hari menulis. Tiga puluh hari kemudian saat dikumpulkan. Ternyata bisa menjadi satu naskah buku solo.

Atau tiap bulan ikut nulis di proyek antologinya Nubar Rumedia. Dalam setahun sudah ada 12 buku antologi. Artinya katakanlah ada sekitar 24 hingga 60 halaman ukuran A4.

Untuk dibuatkan buku solo di Rumedia, minimal 35 halaman. Bila sudah ada 24 halaman, tinggal ditambah sekitar 11 halaman untuk bisa pas 35 halaman. Sudah jadi satu calon buku solo, tuh.

So, bila ada penulis yang mengeluh, “Aku belum pede disebut sebagai penulis karena belum punya buku solo. Kapan ya bisa punya?”

Oh, ayolah! Jangan hanya mengeluh dan meratapi nasib. Sementara jelas-jelas peluang itu bertebaran di depan mata. Buatlah buku dan terbitkan di indie, bila ingin cepat terbit.

“Tapi aku ingin nerbitinnya di mayor, bukan indie.”

Boleh saja. Tetapi apa iya baru nulis langsung bisa tembus mayor? Apa bisa langsung best seller dengan sekali menerbitin buku? Sabar tidak mengikuti prosesnya yang bisa memakan waktu dua hingga tiga tahun?

Sumber : Quotes Creator

Intinya, jangan hanya diam menunggu keajaiban datang. Bila ingin tembus mayor, rajinlah menulis dan lakukan tes pasar lewat platform-platform menulis yang banyak tersedia. Bisa juga merintis dengan menerbitkan buku di penerbit indie.

Tak perlu gengsi, tak perlu malu. Menerbitkan di indie sekalipun, kalau memang buku kita ditakdirkan sukses, manusia bisa berbuat apa untuk menolaknya? Sebaliknya, sekalipun terbit di mayor tapi target penjualan buku gagal, bisa apa manusia untuk menolak ketentuan tersebut? Contoh penulis best seller yang berawal dari indie? J.K. Rowling dengan “Harry Potter”nya. Atau Dee Lestari dengan “Supernova”nya.

Nah, mari kita ciptakan peluang bagi diri sendiri untuk bisa sukses di bidang yang dilakoni saat ini. Berusahalah sendiri. Jangan mengandalkan koneksi. Sebab penentu keberhasilan karya kita akan diterima atau tidak di masyarakat adalah para penikmat produk itu sendiri.

Tak perlu risau memikirkan takdir apa yang akan berlaku kelak. Tugas kita hanyalah menciptakan peluang dan memanfaatkan peluang yang ada dengan sebaik-baiknya. Urusan takdir? Biarkan itu menjadi urusan Tuhan. Setuju?

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah