QUOVADIS ASSESOR DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

QUO VADIS  ASESOR DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

OLEH

*MAJA YUSIRWAN,M.PD

RASIONAL

Merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 13 tahun 2018 tentang Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal telah ditetapkan oleh Menteri Pendidikan di Jakarta tertanggal 25 April 2018 yang diundangkan di Jakarta tertanggal 30 April 2018 oleh Dirjen Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan menjadi berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 577. Adalah sebuah terobosan baru dalm rangka memperkuat posisi dan keberadaan BAN S/M. Dimana Permendikbud Nomor 13 Tahun 2018 ini diberlakukan untuk mengganti Permendikbud No. 59 Tahun 2012 tentang Badan Akreditasi Nasional dan Permendikbud No. 52 Tahun 2015 tentang Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal.

Dalam ketentuan umum dalam Permendikbud tersebut disebutkan bahwa Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Provinsi yang selanjutnya disingkat BAN-S/M yang kemudian dijewantahkan pada setiap rpvinsi sebagai BAN Provinsi. Badan Akreditasi inilah yang nantinya bertugas dalam rangka penjaminan mutu pendidikan melalui para pekerjanya yang disebut Asessor.

SIAPAKAH ASESOR

Apa itu Assessor ?.

Assessment hanya bisa dilaksanakan oleh assessor yang sudah memiliki license atau memiliki tanda pengakuan/sertifikat dari suatu institusi yang berkompeten dan diakui oleh penggunanya untuk menerbitkan sertifikat tersebut. Dalam kaitan ini, assessor yang dimaksud adalah seseorang yang memahami prosedur pelaksanaan assessment, dan telah mengikuti pelatihan assessor serta telah mendapat sertifikat kompeten sebagai assessor yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Assessor Tidak Bisa Berdiri Sendiri.

Tugas assessor adalah melaksanakan assessment terhadap asesi.  Oleh karena itu assessor harus memahami semua formulir-formulir atau alat bantu dan seluruh perangkat assessment-nya. Dalam melaksanakan assessment, assessor tidak dapat menjalankannya sendiri. Karena assessor hanya dapat bekerja atas penugasan dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).  Begitu pula dalam melakukan assessment-nya, assessor tidak bisa menentukan sendiri, baik metoda maupun Materi Uji Kompetensi (MUK) nya. Karena pelaksanaan assessment harus atas kebijakan LSP, yang juga telah dibahas bersama dengan team assessor. Oleh karenya assessor tidak bisa berdiri sendiri.

Apakah Setiap Assessor Boleh Melaksanakan Assessment ?.

Idealnya, assessor harus menguasai kompetensi bidang pekerjaan yang akan di assess nya. Sehingga setiap langkah pengumpulan buktinya, dapat dengan mudah diketahui, dan lebih efisien waktunya. Assessor yang menguasai kompetensi bidang pekerjaan yang di assess-nya disebut dengan assessor competency.  Apakah assessor yang tidak menguasai kompetensi bidang pekerjaan dari asesinya, dapat melakukan assessment ?. Assessor yang tidak menguasai kompetensi bidang pekerjaan asesi, tetap dapat melakukan assessment terhadap asesi dari bidang lain. Karena asesor disamping menguasai prosedur assessment dengan benar, juga akan diberi pengarahan oleh LSP. Akan tetapi assessor yang bukan assessor competency, harus dibantu atau didampingi oleh ahli pada bidang pekerjaan tersebut, atau “subject specialist“.  Assessor seperti ini disebut dengan Assessor lisensi atau asesor yang kompetensi.  

ASESOR PROFESI YANG DIAKUI NEGARA

Mengutip dari Anthony Dio Martin (Juni, 2016) sedikitnya ada beberapa alasan untuk menjadi seorang asesor yang professional dan kredibilitas yaitu:

  1. Asesor dibutuhkan

Jadi, intinya ASESOR adalah orang yang akan menilai. Orang yang akan melakukan assessment. Nah, kalau selama ini Anda merasa sudah sangat mumpuni ataupun expert di bidang profesi Anda (apapun profesinya) tersebut, menjadi seorang aseseor adalah langkah Anda selanjutnya. Latar belakangnya sebenarnya terkait dengan perlunya standarisasi profesi. Sebagai contoh saja, tukang las atau penata rambut, atau katakanlah seorang trainer. Sama-sama mengakui dirinya tukang las, penata rambut ataupun trainer. Tapi bagaimana kita bisa menjamin bahwa mereka memliki kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjadi seorang tukang las, penata rambut ataupun trainer? Tidak ada yang menjamin kan? Pastinya sama-sama dari mereka akan klaim, “Sayalah yang terbaik”. Tapi siapa yang bisa jadi wasitnya?

2. Kondisi Menantang

Dengan adanya MEA (Masyarakat  Ekonomi Asean) dimana saat ini banyak professional dari luar yang akan masuk ke Indonesia. Bagaimana mengatur bahwa para professional yang dinegaranya mengklaim pintar di bidang ketrampilan atau ilmu tertentu, sungguh-sungguh berkualitas? Atau, kita lihat sebaliknya, kalau kita ingin bekerja keluar negeri. Mungkin saja kita sendiri merasa telah memiliki skill tersebut. Tapi pertanyaannya, bagaimana membuktikan kalau kita memiliki ketrampilan tersebut? Karena itulah, negara kita melalui sebuah Badan Negara Sertifikasi Profesi (BNSP), ditunjuk langsung oleh Presiden untuk bertanggung jawab melakukan sertifikasi profesi.

SIMPULAN

Sebagai penutup berikut ini adalah simpulan mengapa profesi asesor sangat dibuthkan dalam menungkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Meskipun ini menjadi sebuah quovadis dan keniscayaan, namun kehadiran asesor yang berkualitas dan memiliki kredibilitas dapat menjadi jawaban dari beberapa hal berikut ini yaitu:

a.Sertifikasi Profesi Akan Jadi Masa Depan Tuntutan Setiap Profesi

Tampaknya, ke depannya, semua profesi publik di Indonesia, mulai dipersyaratkan untuk memliki sertifikasi. Ini untuk menciptakan adanya standar. Nah, siapakah yang bisa menentukan apa seseorang layak atau tidak? Tentunya adalah para asesor resmi. Itulah sebabnya, di masa depan para asesor ini akan dibutuhkan oleh negara untuk menjadi perpanjangan tangannya Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk melakukan uji profesi seseorang.

b. Menjadi Aseseor Berarti Selangkah Lebih Maju

Logikanya pasti begitu dong. Kalau kita nantinya akan menguji seorang trainer, seorang ahli keuangan, seorang HRD professional, maka logikanya kitalah yang akan paling mengerti soal apa persyaratannya menjadi seorang ahli keuangan, seorang professional HRD, dll. Dengan menjadi seorang asesor di bidang kita masing-masing, maka sama artinya kita menunjukkan bahwa diri kita lebih berpengetahuan dibandingkan dengan mereka yang hanya akan sekedar diuji kemampuannya.

c. Kredibilitas Diri Meningkat

Bayangkan saja ada dua orang trainer, atau coach atau ahli marketing. Atau, katakanlah dua ahli memasak. Satunya coach biasa. Satunya lagi punya gelar aseseor yang diakui oleh BNSP. Anda bisa paham, keduanya pasti berbeda bukan dilihat dari kualifikasinya? Dan saya masih ingat tatkala ada seorang trainer yang bercerita bagaimana dengan gelar resmi yang ia miliki dari BNSP, ia bisa men’ “charge” untuk kemampuannya lebih tinggi, dari harga pasaran dirinya yang sebelumnya. Credibility is Marketability!

d. Profesional Bersertifikat

Percayalah ke depannya, akan banyak lembaga, khususnya lembaga pemerintah yang mulai akan menuntut ijazah ataupun sertifikat resmi, dari orang yang akan memberikan jasanya. Hal ini pun telah terjadi. Ceritanya, ada sebuah organisasi yang akan jadi tim penilai di sebuah BUMN. Mereka telah mendapatkan proyeknya. Tapi sebuah masalah besar muncul karena ternyata semuanya yang akan menguji di BUMN itu tidak punya sertifikat dari BNSP. Tahu apa yang terjadi? Berbondong-bondong mereka harus membayar untuk menjadi aseseor. Dan karena kondisinya kepepet seperti itu, mereka harus membayar lumayan mahal untuk mendapatkan sertifikat asesor mereka.

e. Peluang Income Di Masa Depan

Menjadi asesor, bisa jadi pekerjaan sampingan. Dengan jadi asesor, kita menjadi seorang independen yang bisa bekerja untuk BNSP melalui LSP-LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) yang memang menjadi perpanjangan tangannya BNSP, sebagai tempat untuk melakukan uji profesi. Jadi, apakah mau jadi full time asesor ataukah kelak menjadi pekerjaan kita pada masa pensiun nantinya, menjadi seorang asesor tidak ada ruginya. Nah, itulah ke 5 alasan pada saat saya memutuskan untuk menjadi seorang asesor. Dan seperti yang saya katakan, saya sama sekali tidak menyesal dengan keputusan menjadi aseseor tersebut. Sebab, setelah mengantongi sertifikat resmi dari BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi), nama saya telah tercantum secara resmi di BNSP sebagai asesor di negeri ini. Kartu namapun bisa saya tambahkan logo berlambang Garuda yang menunjukkan bahwa saya seorang asesor resminya negeri ini (walaupun ini tidak saya lakukan, tapi banyak rekan aseseor yang melakukannya untuk membangun kredibilitas. Dan hal ini wajar saja menurutku).

Dan terakhir sekali, Saat ini kami sedang dalam finalisasi membangun Lembaga Sertifikasi Profesi Bina Insan Excellency, yang nantinya akan menjadi tempat untuk menguji para professional terkait dengan fungsi profesi SDM (Sumber Daya Manusia), termasuk pula diantaranya adalah para trainer. So, kalau tertarik, buat Anda yang telah menjadi asesor saat ini ataupun kelak, bisa pula berafiliasi dengan kami (kalau memang bidang Anda sesuai).

Jadi, tertarikkah menjadi seorang Asesor pula? Silakan telpon atau minta informasi mengenai program pendidikan sertifikasi profesi yang kami adakan secara rutin di Bina Insan Excellency (BIE). Sebenarnya sih, bukan kami yang melakukan. Sebenarnya yang memberikan sertifikat ini tetaplah badan resmi negara, BNSP. Kami hanyalah perpanjangan tangannya negara dengan menghadirkan para Master Asesor Resmi dari BNSP yang berkualitas, yang akan menjajari Anda menjadi seorang asesor yang kompeten (jadi bukan cuma sekedar punya gelar saja).

Majayus Irone (Budayawan)/Penulis Rumediagrup.com