Ramadan Di Hati

Ramadan di Hati

Ramadan, Ramadan
Ramadan di hati
Ramadan, Ramadan
Ku mohon usah pergi

Rahmat melimpah
Damainya ku rasakan

Ramadan bulan Al-quran
Mendidik jiwaku
Menyuburkan iman

Ku harap kan terus
Bersamamu selamanya

Lantunan suara emas yang syahdu dari Maher Zein kembali terdengar. Kali ini dengan lirik berbahasa Melayu. Lagu yang menawan dan mencuri hati -menurut saya- sudah dibuat dengan berbagai versi bahasa.

Walaupun dibuat dengan berbagai versi bahasa, tetaplah terdengar indah di telinga membawa keharuan yang menyeruak di dalam dada dan sukses membuat netra saya berembun. Bahkan menjadi kolam bening yang siap membasahi pipi.

Ramadan, Ramadan!

Setiap memasuki bulan ini, ada yang terasa berbeda di antara bulan-bulan yang lain. Perhatian saya dan seluruh umat Islam di dunia ini, begitu istimewa. Ramadan layaknya seorang kekasih yang akan datang dan sangat dirindukan setelah sekian lama pergi dan kini kembali lagi. Hati berdegup kencang, netra dengan pendar cahaya, senyum mesra terlukis di bibir. Ramadan, rindu akan selalu ada di hati.

****

Ramadan tahun ini tinggal menghitung hari. Namun, saum kali ini lebih terasa sangat spesial untuk kaum muslimin dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika dulu, hanya nafsu saja yang menjadi musuh kita, kini ada dua musuh yang harus dihadapi, nafsu dan virus. Sama-sama tidak terlihat namun terasa jika kita mengabaikan.

Saum di bulan Ramadan dalam masa pandemi virus corona, bukanlah suatu hal yang harus dihindari apalagi di tinggalkan. Itu adalah pemikiran yang keliru. Justru dengan saum di bulan Ramadan, kadar imunitas kita sedang diperbaiki dan meningkat. Puasa itu menyehatkan tubuh.

*****

Ada hikmah yang saya petik menjelang Ramadan di masa ini. Tentunya saya mensyukuri segala yang Allah berikan.

Ramadan kali ini terasa sederhana namun tak mengurangi kesyahduannya.
Ramadan yang berbeda, namun ikatan kami dalam keluarga lebih kuat lagi dari sebelumnya. Tidak ada ritual khusus hanya mempersiapkan batin dan pikiran yang bersih.

Saat ini adalah waktu dimana saya dan belahan jiwa serta empat bintang kejora saling menguatkan dan saling mengingatkan. Saat yang tepat pula untuk memperbanyak amalan kebaikan. Membaca Alquran, bersedekah, menahan diri dari perkataan yang tidak baik.

Saya rindu Bapak dan Ibu di kota kelahiran. Begitu pula dengan belahan jiwa saya yang merindukan berkunjung ke makam kedua orang tuanya. Anak-anak yang merindukan saudara-saudaranya.
Hanya ada rindu yang tersampaikan lewat sambungan telepon. Kelak suatu saat nanti, kita akan bersua kembali. Semoga!

Gambar pendukung dari Pinterest

Lirik Lagu Ramadan, Maher Zein

rumahmediagrup/irmasyarief