Ramadhan Tanpamu

“Allohumma bariklana fiirojaba wasa’bana.  Allohumma bariklana wabaligna roomadona”. 

Lantunan sholawat itu kini semakin sering kudengar setiap menjelang magrib. Dibacakan  oleh anak-anak sambil menunggu jamaah sholat magrib di mesjid. Hmmm…semakin dekat saja wangi Ramadhan, hanya tinggal menghitung hari. Semoga kami masih bisa dipertemukan dengan Ramadhan. Namun ada yang berbeda di Ramadhan tahun ini.  Aku merasakan kehampaan hati. Rasanya ada sesuatu yang hilang tapi serasa masih ada.Ya, Ramadhan kali ini memang berbeda. Ada yang hilang dari hidupku. Orang yang selalu mengingatkanku tentang semua hal kini tlah tiada. Tentang ibadah, tentang anak, tentang apa saja. Meski aku sudah punya kehidupan sendiri, beliau selalu saja mengingatkan. Sepintas memang terasa hidupku selalu diatur olehnya. Tapi aku tak boleh membangkangnya walau terkadang hati ini terasa dongkol. Namun aku sadar semua yang diperintahkannya adalah demi kebaikanku. 

“Cobalah baca Al-Kahfi tiap malam Jum’at mudah-mudahan saja semua hajat kita terkabul!” Sarannya padaku. 

Aku tak menjawab, hanya mengiyakan dalam hati. 

Pernah juga beliau bertanya saat aku berkunjung ke rumahnya. 

“Suka sholat tarawih ga? Ko ga kelihatan. Kalau si kakak mah ada.  Kamu sama si Neng tarawih di mana? Di rumah? ” tanya beliau. 

“Aku tarawih di mesjid belakang rumah Ma.. “.Jawabku. 

” Padahal di sini aja, biar si  Neng ada temennya”. Katanya lagi. 

” Ga apa-apa Ma,  di sana lebih dekat. Kan biar kenal sama tetangga”. Aku menjawab

Dulu, aku memang satu rumah sama ibu. Bertahun-tahun aku tinggal bersamanya sampai aku punya anak tiga. Beliau sangat marah ketika aku memutuskan pindah bersama suami ke rumah baru meskipun waktu itu rumahnya belum selesai, namun rumah itu hasil jerih payah kami berdua. Letaknya tidak begitu jauh,  hanya beda RT. Keinginan ibu kalaupun saya pindah rumah tadinya pingin yang dekat rumahnya. Sebenarnya saya sudah diberi tanah untuk rumah kami, namun suami menginginkan agar kami jangan terlalu mengandalkan tanah pemberian keluarga takut di akhir ada sesuatu terjadi. Kamipun menempati rumah baru yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari rumah Ibu.  

Setelah kami pindah rumah, aku tetap selalu mengunjunginya. Walau terkadang hati ini ragu takut akan kemarahannya. Jika beliau cari-cari kesempatan untuk ngomongin tentang kehidupanku di rumah baru, aku tak pernah melayaninya. Seperti saat beliau menanyakan tentang tarawih. Beliau mungkin takut aku dan suami malah jauh dari mesjid setelah jauh darinya. Makanya dia selalu bertanya tentang kebiasaanku apalagi di bulan Ramadhan. Aku tahu apa yang dilakukannya kepadaku semata karena rasa sayangnya padaku meski terkadang aku selalu mengagapnya cerewet. Namun tak kan ada orang tua yang tak sayang sama anaknya. Maafkan aku Ibu, aku belum bisa membahagiakanmu hingga akhir hayatmu.

Sejak kepergiannya beberapa bulan yang lalu. Ramadhan kali ini akan  terasa sepi. Tak kan ada lagi ada yang bertanya ini itu. Tak kan lagi ada yang mengingatkanku tentang ibadah, tak kan lagi ada yang menyuruhku bikin kue jika mau lebaran. Semua terasa sepi. Apalagi adikku yang tinggal satu – satunya mungkin juga tak bisa pulang kampung karena situasi lockdown. 

Semoga Alloh akan mempertemukan kami dengan Ramadhan kali ini meskipun akan  terasa sepi tanpa kehadiran orang-orang yang kusayangi. Dan semoga Alloh menempatkan di tempat yang semestinya untuk ayah dan ibuku, serta adiku yang telah mendahului menghadap-Nya.  Aamiin. 

One comment

Comments are closed.