Rasionalitas dalam Adaptasi Kelembagaan Migrasi

Rasionalitas dalam Adaptasi Kelembagaan Migrasi

Pelaku migran yang melakukan perpindahan pasti memiliki rasionalitas alasan. Terjadinya perubahan lingkungan sosial memunculkan kesepakatan baru yang dibangun dari dalam dirinya maupun sosial sekitarnya. Perubahan ini biasanya bertujuan untuk mengembalikan arah dan tujuan hidup yang ia ingin capai. Ketidaksamaan lingkungan sosial di tempat yang baru, membuat pelaku migrasi memiliki kepentingan dan ketergantungan yang sangat tinggi dengan daerah tempat yang baru. Akan ditemui banyak perbedaan aturan main dan kebiasaan di tempat tinggal baru.

Faktor pendorong bagi terjadinya perubahan dalam kelembagaan dibentuk oleh mekanisme baru dalam pengetahuan seseorang, pembelajaran atas sosialisasi, difusi budaya, adopsi nilai, dan interaksi dengan lingkungan baru. Semua faktor pendorong tersebut tentu saja dipilih melalui rasional berpikir seorang migran. Apakah memaksa dirinya untuk mengikuti faktor pendorong atau tidak? Rasionalitas berpikir mereka akan menentukan rasionalitas dalam berperilaku.

Jika pelaku migran gagal dalam melakukan adaptasi kelembagaan, maka mereka telah gagal mengantisipasi, mengakui, menghindari, menetralisir atau menyesuaikan diri terhadap tekanan dari dalam dirinya. Selanjuntnya dapat mengancam kemampuannya untuk mempertahankan hidup atau idenitas sosial yang ia bawa dari daerah asalnya. Namun, tidak mudah untuk menyesuaikan kelembagaan bagi mereka yang berasal dari daerah yang kuat secara ekonomi. Kelembagaan yang dimiliki sebelumnya terlalu kuat sehingga tidak mudah rapuh, dan susah untuk melebur dalam kelembagaan yang baru.

Keterkaitan antara kelembagaan dan perilaku atau tindakan di dalamnya bisa dijelaskan dan dimaknai sebagai rasionalitas terbatas, bahwa tindakan yang diambil setiap orang dalam kelembagaan tertentu pada dasarnya berada pada situasi tertentu. Kondisi situasi dalam lingkungan internal akan dipengaruhi oleh kondisi eksternal. Karakteristik dari pelaku migrasi menjadi kunci penerimaan atas perubahan kelembagaan di tempat yang baru. Tindakan yang ia ambil akan mempengaruhi interaksi lanjutan yang ia lakukan pada pihak lain di sekitarnya. Harusnya ia mampu mengevaluasi di tiap tindakannya.

Keseluruhan evaluasi siklus interaksi mempengaruhi kualitas perubahan kelembagaan yang ia ciptakan selanjutnya. Karena dalam sistem nilai budaya dinilai sebagai proses pembuatan keputusan dan kondisi struktur formal. Semuanya tersebut akan terfokus pada jaringan nilai, norma, keyakinan dan berbagai asumsi cara pikir dan rasionalitas asumsi yang ia anut. Dengan demikian, rasionalitas menjadi dasar berpikir pelaku migrasi dalam melakukan upaya adaptasi kelembagaan yang ia temui di tempat barunya.

rumahmediagrup/Anita Kristina