Refleksi Jiwa

Oleh : Hamni Azmi

Kelahiran seorang anak manusia diawali dengan tangisan kebahagiaan. Di sayang, dimanja, ditimang, dididik, dibesarkan agar menjadi kebanggaan.

Hari berganti, waktu terus bergulir, usia pun terus berbilang. Satu tahun, hingga puluhan tahun. Setiap tahun kembali dipertemukan dengan hari kelahiran.

Hari kelahiran memberikan makna bahwa usia bertambah dalam deretan angka. Namun sejatinya jatah waktu kita telah berkurang.

Kesempatan kita di dunia berkurang setiap harinya. Setiap waktunya.

Kelahiran seorang anak manusia bukan tanpa alasan tiba-tiba lahir.
Namun sudah melewati semua proses maha karya sang pencipta.
Kapan dilahirkan?
Di mana dilahirkan?
Dengan orang tua siapa?
Akan sekolah di mana?
Menjadi apa?
Menikah dengan siapa?
Hingga wafat dalam keadaan apa?
Semua telah ditulis di Lauhil Mahfuz.

Seorang anak manusia sebagaiamana fitrahnya, terlahir sebagai seorang khalifah di bumi Allah. Sebagai seorang penyampai risalah kebaikan. Artinya wajib bagi kita menjadi orang yang bermanfaat.

Tidak memandang ia kaya, miskin, sarjana, tidak sekolah, guru, ustad, dokter, pengusaha, atau apapun profesinya.
Wajib bagi kita untuk menjadi orang baik dan memberikan manfaat.

Usia yang dititipkan hanyalah bilangan puluhan. Kalau tidak dimanfaatkan untuk kebaikan lalu untuk apa kita berada di dunia fana ini.

Usia yang dititipkan bila hanya untuk memenuhi kebutuhan perut dan yang di bawah perut. Tentu kesia-siaan belaka yang dilewati.

Padahal hari perhitungan dan hari pembalasan itu nyata adanya.
Akan kita temui setelah semua sampai di garis fisnish.
Tanpa peduli siapa diri ini.
Yang tercatat semua kebaikan dan keburukan.

Karena itu kawan
Selama masih diberi kesempatan
Mari isi hari dengan kebermanfaatan bagi seluruh alam
Mencari rida dan berkahnya Allah dalam kehidupan.
Mendekat dan menikmati kebersamaan dengan-Nya
Agar tak ada penyesalan di akhir perjalanan

Barakallahu fiikum

Rumahmediagrup/ Hamni Azmi

Sumber foto : koleksi pribadi