REGINA, my first pearl


By. Gina Imawan

Nggak tau harus dari mana menuliskan ini. Karena tiba-tiba aku meremang air mata. Emosiku meluap seperti banjir bandang yang siap meluluh lantakkan apa saja yang ada di depannya. Laksana air bah yang siap menenggelamkan apapun di dasarnya.

Kaka Iren. Begitu kami memanggilnya. Menyandang sebutan kaka sejak usianya 2 hari. Bayi merah hitam kecil yang kisut seluruh kulitnya.

Mengingat kembali kisahnya membuatku ingin membentur-benturkan kepalaku sendiri ke tembok. Menyesal. Bodoh. Mengapa tak segera belajar. Mengapa lebih mementingkan aku. Egoku. Duniaku. Mauku.

Bayi kecil yang tumbuh menjadi bayi bermata sedih. Sayu. Kuyu. Muka kecilnya selalu terlihat memelas. Membuat siapapun iba dan ingin memeluknya. Mengangkatnya. Mendekapnya erat dalam buaian.

Sampai umur 3 hari ASI ku belum keluar. Kamu manangis kencang. Berteriak. Lapar. Meronta. Aku menangis. Bingung. Juga ayahmu. Aku berusaha menyusuimu. Kamu marah. Keluar sedikit. Semakin marah. Gusi menggigit. Aku meringis. Sakit. Akhirnyaaaa….ASI yang dirindukan. Kamu menyusu lahap. Aku berlinang air mata.

Umur 2 bulan kena batuk. Tak juga sembuh. Muka memerah saga dengan kekuatan penuh. Batuk dan batuk. Air mataku menetes tiap kali melihatmu batuk. Hatiku pedih saat dituduh tak bisa mengurus bayi. Lebih pedih melihat batukmu, nak. Ke puskesmas. Periksa ke rumah sakit. Mengapa tak sembuh juga?

Umur 2,5 bulan divonis kena flek oleh dr. Spesialis anak yang memeriksa ‘hanya’ sekedar tul tul. Saking profesionalnya. Maka kamu harus rutin minum obat flek. Merah. 3x sehari. 6 bulan. Allaaaah….kecil sekali badanmu, ka. Pengaruh obatkah?
Walau tidurnya memang mulai lelap. Batuknya berkurang. Semyumnya kembali mengembang. Senyum yang membuatku menangis. Lamanya aku menanti senyummu, naaak.

Berkali-kali jatuh dari tempat tidur. Aku lalai menjaga atau kau yang sangat aktifnya?
Anak pertama. Cucu pertama dari 2 keluarga. Ponakan pertama. Semua ambil bagian. Mengasuh. Dengan berbagai pola asuh. Saling tuduh. Saling menyalahkan. Aku kebingungan. Terkadang suaraku tak didengarkan. Tetap aku yang salah.

Tumbuh. Semakin besar. Lincah. Tak bisa diam. Cerewet. Paruh betet. Dengan rasa ingin tahu yang laksana samudra luas tak bertepi. Membuatku sering terpana pada semua tanya. Hobi menggambar. Corat coret. Kertas. Buku. Tembok. Pensil. Pulpen. Spidol. Krayon. Lipstik. Eye liner.

Lupa berjalan. Berlari memburuku. Lompat ke dalam pelukan. Namun lebih sering diasuh nenek. Bunda kembali kerja. Dalam lelah, aku sering menolakmu. Meminta kau mengerti kesibukanku. Lelah hariku. Ooh betapa egoisnya aku. Sering meninggalkanmu dengan banyak alasan. Repot. Nggak kids friendly. Kasian kaka kalo ikut. Semua hanya pembenaran. 1 kesimpulan.

I am not ready to be mom. I was 23 when I have you, kaka. I still wanna be free.

To be continued.
Udah berkali-kali menyusut air mata.