Renungan

Renungan 

Dunia semakin penuh masalah. Semakin pelik untuk dimaklumi setiap peristiwa yang terjadi. Sebentar bencana alam terjadi di sini, lalu di sana, tanpa mengenal lagi kota, desa, hutan bahkan tebing tinggi dan gunung menjulang. Kemana langkah ini menuju bila semua arah sudah tak menentu dan tempat bernaung pun tak lagi aman. 

Tidur malam tiada renyap, pagi pun tak lagi benderang. Kanak-kanak bermain penuh waspada, karena manusia dewasa siap memangsa. Remaja dilanda hedonisme dan lasak tanpa arah karena sepotong benda yang katanya membuat dia pintar jelajah dunia. 

Orang dewasa yang hibuk, katanya asap dapur tak lagi ringan. Korbankan keluarga demi selembar kertas berharga. Dunia belum terkejar semua nikmatnya, akhirat katanya masih nun jauh di sana.

Lalu hanya orang tua renta dengan tesmak silinder plus, duduk tepekur dalam doa khusuk nan panjang. Tanpa tawar gatra lagi, karena nyata dan harapan pernah warnai perjalanan hidupnya. Selampai yang dilingkarkan di leher sudah tak bisa menghangatkan. Menunggu panggilan-Nya dengan harapan bukan lewat bencana yang kini melanda, tapi dalam tidur panjang nan damai.

Mungkinkah Sang Kuasa telah memasang genderang akhir jaman. Atau bagai cerminan syair lagu Ebiet bahwa Tuhan mulai bosan dengan tingkah laku manusia serta alam yang enggan bersahabat lagi dengan kita. 

Bila masa semakin dekat menuju akhir, berarti saat ini Tuhan masih memberi waktu. Ada kesempatan berbenah diri di dunia yang hanya sesaat dan bersiap untuk masa panjang di akhirat.

rumahmediagrup/hadiyatitriono