Rindu Ayah


Rindu Ayah



Lyra memandang dari jauh Nadya yang berlari-lari menyongsongnya. Senyumnya merekah dan gadis itu langsung memeluk. Pertemuan terakhir dengan Nadya sekitar tiga minggu yang lalu.

“Assalamualaikum, Bunda! Maaf ya, menunggu lama. Kakak tadi disuruh piket dulu. Biasa, Bun! Piket mingguan untuk satu kamar.”
Kata Nadya dengan terseyum jenaka.

Lyra tersenyum melihat tingkah polah anak semata wayangnya. Namun dia tidak lupa membalas salam Nadya.

“Waalaikumusalam. Kakak sehat? Kata Umi Tia katanya seminggu yang lalu Kakak sakit batuk sama pilek.”

Lyra mengusap kepala Nadya dengan perlahan. Lalu dipeluknya dengan penuh kasih sayang.

“Iya, Bun! Mungkin karena cuacanya lagi hujan juga ya! Engga cuma Kakak aja yang batpil nih tapi teman-teman yang lain. Umi Tia ngasih kami wedang jahe tiap malem. Enak lho, bun! Anget dan pedes gitu,” celotehnya.

“Alhamdulillah, kalo udah sembuh. Kakak mau makan di mana?Apa kita keluar pondok atau gimana?”

“Bun, makan di sini aja ya. Di kantin pondok ada menu baru. Enak-enak lho! Ada nasi bakar ayam atau teri. Ada juga bakso mercon tenis yang pedesny bikin mulut meleleh. Tau engga, Bun? Kakak pernah sakit perut gara-gara bakso itu. Kepedesan … ha ha! Salah sendiri, udah pedes malah di kasih lagi saos. Dua hari Kakak bolak balik kamar mandi. Kena omel Kak Sabrina soalnya kamar jadi basah.”

Lyra ikut tertawa mendengar laporan putrinya. Nadya hari ini kembali ceria seperti setahun yang lalu. Sesuatu yang jarang di temukan beberapa bulan belakangan.

Mereka berjalan menuju kantin khusus asrama putri. Di Pesantren tempat Nadya mondok, asrama putra dan putri memang terpisah. Di batasi satu komplek cluster tempat tinggal para guru dan wali asrama yang sudah berkeluarga. Asrama putra ada di bagian depan dekat gerbang dan asrama putri ada di bagian dalam. Begitu juga dengan sekolah. Kompleks sekolah putra ada di dekat asrama putra dan sebaliknya sekolah putri ada di kawasan asrama putri.

Nadya tahun ini sudah kelas 8 SMP. Dari SD anak itu sudah meminta masuk ke boarding school yang ada di Sukabumi. Dia terinspirasi dari kakak sepupunya yang berhasil menjadi pelajar teladan tingkat nasional walaupun sekolah di pesantren.

Benar kata Nadya, kantin sekarang berubah banyak. Selain lebih bersih dan luas, penambahan menu juga varian rasa serta meja makan yang baru semakin memikat para santri dan orang tua murid untuk makan disini. Lebih murah dan sehat. Pemasukan dana juga untuk pesantren.

“Gimana hapalan Qurannya, Kak? Udah berapa juz nih? Bunda juga mau ikut mukhoyyam di tempat pengajian. Rencananya seminggu lagi. Di daerah Puncak. Mungkin disana sekitar dua minggu. Bunda udah izin ke ke kantor untuk ambil cuti tahunan.”

Lyra kembali bertanya setelah mendapatkan meja dan memesan makanan untuk makan siang.

“Asyik dong! Mukhoyyam kayak gitu bikin kita fokus lho, Bun! Entar pondok juga ada rencana mau gelar tahfidzcamp khusus putri. Kakak mau ikut lagi. Oh iya, Kakak sekarang udah masuk hapalan tujuh juz, Bun! Doain ya. Biar selesai SMP sudah hapal 30 juz.”

“Aamiin ! Semoga cita-cita Kakak tercapai. Bunda akan sekuat tenaga berjuang agar Kakak sekolah tinggi ya nak! Doakan Bunda sehat dan panjang umur.”

Nadya terdiam. Tiba-tiba dia memeluk Lyra. Nadya menangis dan terisak. Lyra mengusap kepala putrinya.

“Bun, Kakak rindu Ayah. Andai Ayah tahu Kakak udah punya hapalan 7 juz pasti dia bahagia. Kata Umi Tia, anak penghapal Quran kelak akan memberikan makhota cahaya untuk ayah bundanya di akhirat kelak. Umi Tia juga bilang, sinarnya terang seperti sinar matahari. Dan juga akan diberi jubah yang indah jika Kakak mengamalkan Alquran.”

Lyra tidak bisa membendung airmatanya lagi. Dari tadi ditahan sekuat tenaga agar jangan sampai pecah di depan anak satu-satunya.

Masih teringat dengan jelas, Rudi, suaminya dan juga ayah Nadya meninggalkan mereka setahun yang lalu karena kecelakaan. Saat itu Rudi dan Lyra hendak menengok Nadya di pesantren. Mobil mereka ditabrak kendaraan lain dari arah belakang. Usut punya usut, pengendara mobil itu sedang mabuk. Mobil mereka terbalik setelah sebelumnya terseret dan dengan kencang dan menabrak kendaraan lain di depannya. Rudi langsung meninggal di tempat kejadian dan Lyra selamat setelah dirawat selama tiga bulan dan harus kehilangan calon adik Nadya yang sedang dikandungnya.

Rasa kehilangan ini sangat besar dampaknya untuk Nadya. Kehilangan Ayah dan calon adik yang diidamkannya selama 12 tahun. Hari-harinya suram tanpa ada gairah atau tertawa ceria. Namun semenjak dekat dengan Umi Tia, wali asrama putri membawa perubahan besar untuk Nadya.

Disinilah tempat terbaik Nadya dalam menempuh hari-hari yang indah. Rasa sedih dan kehilangan ditumpahkan dalam sujud-sujud panjangnya. Semua akan menjadi indah atas izin Allah Sang Pemilik Kehidupan.